Laporkan Masalah

Wonosadi Community Forest Eco Park dengan Pendekatan Tektonika Kayu

ANNISA NASTITI, Dr. Ir. Budi Prayitno, M.Eng.

2018 | Skripsi | S1 ARSITEKTUR

Indonesia memiliki hutan yang sangat luas dengan sebanyak 51% merupakan hutan primer, 44% hutan regenerasi alami, dan 5% hutan dengan pohon yang ditanam oleh manusia. Sayangnya, sejak tahun 1950, lebih dari 40% luas hutan Indonesia berkurang. Menurut Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, 1,1 juta Ha atau 2% dari hutan Indonesia menyusut tiap tahunnya, dari sekitar 130 juta Ha yang ada, 42 juta Ha diantaranya sudah habis ditebang. Secara ekonomi, menurut pidato Presiden Joko Widodo, ada 25.863 desa di Indonesia dengan 70% masyarakatnya menggantungkan hidup pada sumber daya hutan. Ada 10,2 juta penduduk yang bergantung pada hutan namun belum memiliki akses legal terhadap sumber daya hutan sehingga inilah yang menjadikannya rentan terhadap aktivitas illegal logging. Oleh karenanya, pemerintah mengalokasikan hutan negara seluas 12,7 juta Ha untuk perhutanan sosial dengan prioritas pembagian konsesi untuk rakyat, koperasi, dan kelompok tani. Selain sebagai upaya pemerataan ekonomi, hal ini dilakukan agar pertanian sektor kehutanan dilakukan secara lebih bertanggung jawab terhadap kelestarian alam. Sistem pengelolaan hutan semacam ini telah diterapkan di beberapa daerah di Indonesia, salah satunya di Hutan Wonosadi melalui kelompok tani hutan Ngudi Lestari. Selain sebagai penopang perekonomian, kelompok tani di sini juga berperan dalam menjaga fungsi hutan sendiri beserta restorasi habitatnya dengan memperhatikan fungsi ekologis dan hidrologis. Di sisi lain, Hutan Wonosadi terindeks sebagai lokasi bernilai budaya milik D.I. Yogyakarta dengan kesenian khasnya Rinding Gumbeng. Dari isu-isu di atas, didapatkan gagasan rancangan Wonosadi Community Forest Eco Park sebagai wadah edukasi komprehensif bagi masyarakat tentang pengelolaan fungsi hutan secara tepat. Community forest eco park ini nantinya diharapkan dapat mewadahi fungsi edukasi tentang pertanian sektor kehutanan dan sebagai pusat studi pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang responsif terhadap konteks lingkungan budaya masyarakat Hutan Wonosadi. Tektonika kayu dipilih sebagai pendekatan untuk mendapatkan desain yang solutif secara fungsional yaitu edukasi serta secara kontekstual yaitu hutan dan budaya.

Indonesia has a vast forest consists of 51% primary forest, 44% naturally regenerated forest, and 5% planted forest. Unfortunately, since 1950, Indonesia lost more than 40% forest area. According to the Indonesian Ministry of Forestry, 1.1 million Ha or 2% of Indonesian forest is lost every year, out of 130 million Ha, 42 million of it has been cleared. Economically, according to President Joko Widodo's speech, there are 25.863 villages in Indonesia with 70% of the people dependent on forest resources. There are 10.2 million people who depend on forests yet have no legal access to forest resources so it makes them vulnerable to do illegal logging. Therefore, the government allocates 12.7 million Ha of state forest for social forestry with priority of concession distribution for the villagers, cooperatives, and farmer groups. Besides as an economic equity effort, it also encourages the forestry sector of agriculture to do more responsible towards the sustainability of nature. This forest management system has actually been implemented in several regions in Indonesia, one of which is in Wonosadi Forest through Ngudi Lestari forest farmer group. In addition to support the economy, farmers' group here also play a role in maintaining their own forest functions and their habitat restoration with respect to ecological and hydrological functions. On the other hand, Wonosadi Forest is indexed as a cultural heritage of D.I. Yogyakarta with its distinctive music, Rinding Gumbeng. From the above issues, the idea of the Wonosadi Community Forest Eco Park design as a comprehensive education space on the proper management of forest functions. This community forest eco park is expected to accommodate educational functions on agro-forestry and as a community-based forest management study center that is also responsive to the cultural environment context of the Wonosadi Forest community. Timber tectonics is chosen as an approach to get a functionally proper design that is as education space, as well as contextually that is forest and cultural based.

Kata Kunci : Hutan Wonosadi, community forest, eco park, perhutanan sosial, tektonika kayu

  1. S1-2018-364017-abstract.pdf  
  2. S1-2018-364017-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-364017-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-364017-title.pdf