PENGARUH PEMINDAHAN KAWASAN PERKANTORAN PEMERINTAH KABUPATEN BOYOLALI TERHADAP PERKEMBANGAN PERKOTAAN BOYOLALI
Fitria Nur Rohmah, Prof. Ir. Bakti Setiawan, M.A., Ph.D.
2018 | Tesis | MAGISTER PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAPemindahan kawasan perkantoran Pemerintah Kabupaten Boyolali dilatarbelakangi oleh kondisi lokasi perkantoran sebelumnya yang menyebar di beberapa lokasi yang terletak di Kecamatan Boyolali. Pada tahun 2013, perkantoran tersebut mulai dipindahkan ke dalam satu kawasan terpadu yang berada di Kelurahan Kemiri, Kecamatan Mojosongo. Tujuan utama pemindahan kawasan perkantoran secara kepemerintahan dalam rangka meningkatkan pelayanan dengan membangun kawasan perkantoran yang terpadu, sedangkan secara spasial diharapkan menjadi instrumen perkembangan kota yaitu memicu pembangunan di kawasan perluasan perkotaan. Berdasarkan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan Boyolali Tahun 2012-2032, lokasi baru kawasan perkantoran terpadu Pemerintah Kabupaten Boyolali merupakan daerah perluasan perkotaan Boyolali meliputi sebagian wilayah di Kecamatan Mojosongo yaitu di Kelurahan Kemiri, Kelurahan Mojosongo, dan Desa Kragilan yang strategis untuk dikembangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pemindahan kawasan perkantoran terhadap perkembangan perkotaan Boyolali dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan perkotaan di daerah perluasan perkotaan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian deduktif kuantitatif yang bersifat komparasi dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah pemindahan lokasi pemerintahan. Rentang waktu sebelum pemindahan yaitu pada tahun 2007-2012, sedangkan rentang waktu sesudah pemindahan yaitu pada tahun 2013-2018. Analisis dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif dan deskriptif spasial. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pemindahan kawasan perkantoran memicu perkembangan perkotaan ditandai dengan perubahan penggunaan lahan dari lahan pertanian tegalan menjadi kawasan permukiman, perdagangan dan jasa, serta daerah industri, peningkatan aksesibilitas berupa penambahan jaringan jalan dan kenaikan harga lahan. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan perkotaan yaitu aksesibilitas, ketersediaan lahan, dan fungsi prestige. Hasil analisis penggunaan lahan eksisting tahun 2018 dengan zonasi peruntukan lahan berdasarkan RDTR Kawasan Perkotaan Boyolali 2012-2032 (zonasi peta dan teks) menunjukkan bahwa terdapat penyimpangan penggunaan lahan Ruang Terbuka Hijau dan areal industri. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan perkotaan harus disertai dengan implementasi instrumen pengendalian pemanfaatan ruang untuk mewujudkan kawasan perkotaan yang layak huni (liveable city).
The relocation on governmental office area in Boyolali Regency was caused by the former office locations placed on different spots spread throughout Boyolali District. In 2013, the governmental office area took a new integrated place situated on Kemiri Sub-district, Mojosongo District. The goal of movement was to improve the service through placing the governmental office area in one integrated location. Furthermore for spatial context it would be highly expected to be the instrument of urban development as well as to trigger the establishment in the expansion area. According to Urban Spatial Detailed Planning (RDTR) of Boyolali Year 2012-2032, the new location was the expansion of Boyolali City which included part of Mojosongo Dictrict covering Kemiri Sub-district, Mojosongo Sub-District and Kragilan Village. Those mentioned administrative regions were capable to be developed. This research aimed to identify the movement impact of governmental office area towards the development of Boyolali urban area and to influence factors of urban development in the urban expansion area. The methodologies being used in this study were deductive quantitative with the comparison between the condition of former and current governmental office area. The former location was in 2007-2012 while the current location started in 2013 until 2018. The analysis was conducted with quantitative descriptive method and spatial descriptive. This study proved that the movement of governmental office area gave the impact in developing the urban area. The impact began with the land-use change from agriculture turning into the settlement, trade and service, and industrial areas, accessibility improvement such as the addition of road network and the increment of land price. Factors affecting urban development are accessibility, land availability, and prestige function. The result of analysis towards existing land-use in 2018 with land-use zonation according to RDTR Boyolali Urban Area 2012-2032 (map zonation and text) found out that there was deviation in the usage of green open space and industrial area. That issue showed that the urban development should have been included the instrumental implementation in case of controlling the space utilization for liveable city.
Kata Kunci : Pemindahan kawasan perkantoran, Perkembangan perkotaan, Liveable city.