Laporkan Masalah

Implementasi Pengendalian dalam Pelestarian Bangunan Cagar Budaya di Kota Yogyakarta (Studi kasus : Pembongkaran BCB dan BWB di Kota Yogyakarta)

RISA RISDIASARI, Deva Fosterharoldas Swasto, ST, M.Sc, Ph.D ; Ir. Leksono Probosubanu, M.URP., Ph.D.

2018 | Tesis | MAGISTER PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Kota Yogyakarta memiliki bangunan cagar budaya yang beragam sebagai pembentuk perjalanan sejarah dan identitas kota. Dinamika perkembangan kota menjadikan bangunan cagar budaya rawan berubah bahkan musnah. Pemerintah telah melakukan upaya-upaya pelestarian seperti pembaharuan kebijakan pelestarian yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Namun, implementasi kebijakan tersebut ternyata masih belum sesuai tujuan. Hal ini terindikasi dari masih terjadinya konflik antara kebutuhan pelestarian dan kebutuhan komersial yang berakhir dengan pembongkaran Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan implementasi pengendalian dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi pengendalian dalam pelestarian bangunan cagar budaya (BCB) dan bangunan warisan budaya (BWB) di Kota Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan eksploratif pada kasus pembongkaran yang terjadi pada BCB Mardi Wuto, BWB SMK Taman Ibu dan BWB Tjan Bian Thiong. Data dikumpulkan dari studi dokumen, wawancara mendalam, dan observasi. Hasilnya, implementasi pengendalian dalam pelestarian bangunan cagar budaya dan bangunan warisan budaya di Kota Yogyakarta masih belum optimal. Faktor yang mempengaruhi implementasi pengendalian dalam pelestarian yaitu adanya kekuatan desakan investasi, konsistensi dan komitmen stakeholder, koordinasi antar stakeholder, apresiasi dan pemahaman pemilik dalam mengelola dan memanfaatkan cagar budaya, tantangan peralihan paradigma kebijakan pelestarian dari statis-dinamis, kekuatan status penetapan, dan dukungan partisipasi publik serta peran media.

The city of Yogyakarta has diverse cultural heritage buildings so as to shape the history and identity of the city. The challenges of the dynamics of urban development make the cultural heritage buildings prone to change and even perish. The government has done plenty of preservation efforts such as renewing preservation policies that are in line with the needs of the times. However, in fact, the implementation of the policy has not met the objectives. This is indicated by the ongoing conflict between preservation and commercial needs that end in demolition. The purpose of this research was to explain the implementation of controls and identify factors that influence the implementation of controls in the preservation of cultural legacy buildings (bangunan cagar budaya/BCB ) and buildings presumed to be cultural heritage or called as bangunan warisan budaya/BWB in the city of Yogyakarta. This research used a case study method with an explorative approach to the case of demolition that occurred at BCB Mardi Wuto, BWB SMK Taman Ibu and BWB Tjan Bian Thiong. The data were collected from document studies, in-depth interviews, and observations. As a result, the implementation of control in the preservation of cultural properties and cultural heritage buildings in the city of Yogyakarta is still not optimal. Factors that influence the implementation of control in preservation include the power of investment pressure, consistency and commitment of the stakeholders, communication and coordination among stakeholders, appreciation and understanding of the owner in preserving and utilizing cultural properties, the transition challenge of the preservation of paradigm policy from static to dynamic, strength of status determination, support of public participation and the role of the media.

Kata Kunci : Implementasi Pengendalian, Kebijakan Pelestarian, Bangunan Cagar Budaya

  1. S2-2018-389144-abstract.pdf  
  2. S2-2018-389144-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-389144-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-389144-title.pdf