POLITIK PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL: STUDI KASUS PENGEMBANGAN UMKM BATIK GEBLEK RENTENG DI KABUPATEN KULON PROGO
MAHMUDDIN SIRAIT, Nur Azizah, S.I.P., M.Sc.
2018 | Tesis | MAGISTER POLITIK DAN PEMERINTAHANPenelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana proses berjalannya Pengembangan Ekonomi Lokal melalui program UMKM batik geblek renteng di Kabupaten Kulon Progo. UMKM batik geblek renteng adalah salah satu dari program Bela Beli Kulon Progo yang tujuan utamanya adalah untuk menuntaskan kemiskinan di Kulon Progo. Untuk memajukan UMKM batik geblek renteng, Pemerintah Kulon Progo melakukan berbagai upaya seperti membuat batik geblek renteng sebagai seragam wajib bagi PNS dan pelajar, membuat Hak Atas Kekayaan Intelektual batik geblek renteng, memberikan bantuan kepada para pengrajin batik, dan berbagai upaya lainnya. Meskipun demikian, terdapat berbagai permasalahan dalam pengembangan UMKM batik geblek renteng seperti adanya batik geblek renteng printing, batik geblek renteng kurang diminati konsumen, dan berbagai permasalahan lainnya. Sehingga muncul dua pertanyaan dari persoalan ini, mengapa UMKM batik geblek renteng muncul dan bagaimana pengembangan UMKM batik geblek renteng di Kabupaten Kulon Progo. Untuk menjawab pertanyaan riset di atas, riset ini dipandu oleh Konsep Pengembangan Ekonomi Lokal dan politik Pengembangan Ekonomi Lokal. Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus sebagai pendekatan. Sebagai data primer, informan penelitian ini meliputi Bupati Kulon Progo, Wakil Bupati Kulon Progo dan Pejabat Dinas Perdagangan sebagai representasi pemerintah, dan para pengrajin batik geblek renteng sebagai subjek penelitian utama. Dalam memperoleh data penelitian, penulis melakukan observasi lapangan, wawancara secara mendalam, dan dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Januari-Juli 2018. Ada beberapa temuan yang dihasilkan pada penelitian ini. Pertama, lahirnya UMKM batik geblek renteng disebabkan oleh minimnya dukungan pemerintah sebelumnya terhadap pemberdayaan UMKM batik di Kulon Progo sehingga mendorong pemerintah baru untuk mengembangkan UMKM batik yang disebut dengan batik geblek renteng. Batik geblek renteng lahir dari sebuah kompetisi desain batik yang diadakan pada tahun 2012. Kedua, UMKM batik geblek renteng bukanlah Pengembangan Ekonomi Lokal yang serius. Hal ini dibuktikan dengan tidak terpenuhinya lima tahap strategi Pengembangan Ekonomi Lokal yakni organizing the effort, local economy assessment, strategy making, strategy implementation, dan strategy review. Pada tahap organizing the effort, tidak ada pembentukan forum/organisasi UMKM batik/batik geblek renteng. Pada tahapan local economy assessment, tidak ada identifikasi terhadap sumberdaya dan permasalahan batik di Kulon Progo. Pada tahap strategy making, tidak ada bahan baku membatik yang didekatkan dan dijamin murah oleh Pemerintah Kulon Progo, dan terbatasnya pelatihan dan bantuan yang diberikan. Pada tahap strategy implementation, pengembangan batik geblek renteng tidak berjalan dengan lancar karena terbatasnya modal pengrajin batik, dan tidak berfungsinya koperasi pengrajin batik. Sedangkan pada tahap strategy review, tidak ada monitoring dan evaluasi terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi pada produksi batik geblek renteng. Ketiga, UMKM batik geblek renteng lebih dominan digunakan untuk kepentingan Birokrat Kulon Progo, elit pengrajin batik Kulon Progo, dan Bupati Kulon Progo. Kepentingan Birokrat Kulon Progo adalah untuk mendapatkan keuntungan yang dilakukan dengan cara mendirikan usaha batik dan mengambil alih Asosiasi Pengrajin dan Pedagang Batik Kulon Progo. Kepentingan elit pengrajin batik Kulon Progo adalah untuk mendapatkan keuntungan semaksimalnya yang dilakukan dengan cara memproduksi batik geblek renteng printing. Sementara itu, kepentingan Bupati Kulon Progo adalah untuk mendapatkan dukungan elektoral pada Pemilihan Kepala Daerah Kulon Progo tahun 2017 yang dilakukan dengan mempolitisasi UMKM batik geblek renteng.
This study aims to understand the process of Local Economic Development in the case of batik geblek renteng development in Kulon Progo District. Batik geblek renteng is one of the Bela Beli Kulon Progo programs which its basic purpose solves the poverty in Kulon Progo. To advance batik geblek renteng, the Government of Kulon Progo undertook various efforts such as obligating local civil servants and students to wear batik geblek renteng in a certain day, creating Intellectual Property Rights for batik geblek renteng, providing assistance to craftsmen, and other endeavors. Nevertheless, there were various problems in the development of batik geblek renteng such as some craftsmen produced batik geblek renteng with printing, consumers were not interested in batik geblek renteng motif, etc. Two questions arise from these problems; why was batik geblek renteng born and how was it developed. To answer the questions above, this research was guarded by the concept of Local Economic Development and politics of Local Economic Development. This study used qualitative methods with case study as an approach. As primary data, the informants of this research were the Head of Kulon Progo District, Vice Head of Kulon Progo District and Official of Trade Service as representation of government, and the batik geblek renteng craftsmen as main research subject. To get the data, the this research used field observation, in-depth interviews, and documentary. This research was conducted from January to July 2018. There are several findings in this study. First, batik geblek renteng arose because of less support from previous government in empowering batik in Kulon Progo. This encouraged new head of Kulon Progo District to develop batik called batik geblek renteng. Second, batik geblek renteng is not a serious Local Economic Development Program. This was showed by the non-fulfillment of the five stages of the Local Economic Development strategy, namely organizing the effort, local economy assessment, strategy making, strategy implementation, and strategy review. At the organizing the effort stage, there is no formation of batik/batik geblek renteng forums. At the local economy assessment stage, there is no identification of the resources and problems of batik in Kulon Progo. At the strategy making stage, there is no industrial clusters, and limited training and assistance. In the strategy implementation phase, the development of the batik geblek renteng had some problems such as limited capital of batik craftsmen, and the non-functioning of batik craftsmen cooperative. In the strategy review stage, there is no monitoring and evaluation of the problems that occur in the production of batik geblek renteng. Third, batik geblek renteng was more dominant used for the interests of bureaucrats, elites of batik craftsmen, and the Head of Kulon Progo District. The interest of the bureaucrats was to gain profits by establishing batik business and taking over the Kulon Progo Batik Craftsmen and Traders Association. The interest of elit of batik craftsmen was to get the maximum profit by producing printing batik. Meanwhile, the Head of Kulon Progo interest was to get electoral support on the Kulon Progo re-election by politicizing batik geblek renteng.
Kata Kunci : Pengembangan Ekonomi Lokal, Strategi Pengembangan Ekonomi Lokal, Politik Pengembangan Ekonomi Lokal, Kepentingan Elit / Local Economic Development, Local Economic Development Strategy, Politics of Local Economic Development, Elit Interest.