Arahan Pengembangan Kawasan Pecinan Karangturi, Lasem Berdasarkan Konsep Vitalitas Budaya
YOHANA ANEKE, M. Sani Roychansyah, S.T., M.Eng., D.Eng.
2018 | Tesis | MAGISTER ARSITEKTURLasem merupakan sebuah kecamatan di pantai utara Jawa yang berlokasi di Kabupaten Rembang. Kebudayaan yang berkembang di Lasem adalah bentuk akulturasi kebudayaan dari tiga unsur budaya; Jawa, Arab, dan Cina. Akulturasi tersebut membentuk identitas kebudayaan bagi kota pesisir tersebut. Peranan Lasem sebagai kota yang mengalami proses akulturasi yang panjang kian memudar. Lasem khususnya kawasan Karangturi cenderung menjadi kawasan mati. Kawasan pemukiman lama mulai ditinggalkan penghuninya sehingga berdampak pada terbengkalainya bangunan-bangunan kuno dan bahkan ada beberapa bangunan kuno yang sudah digantikan dengan bangunan baru. Aktivitas budayapun semakin tidak terlihat, seakan tersembunyi dibalik temboktembok tinggi yang telah menjadi saksi bisu sejarah. Hal ini mengakibatkan vitalitas budaya cenderung mengalami kemunduran. Berdasarkan fenomena tersebut maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kondisi vitalitas budaya kawasan Pecinan Karangturi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kondisi vitalitas budaya kawasan Pecinan Karangturi saat ini dan faktor-faktor yang mempengaruhi vitalitas budaya. Kondisi vitalitas budaya diukur berdasarkan penilaian objektif peneliti dan penilaian subjektif dari tiga kriteria responden yakni; penghuni Pecinan Karangturi, masyarakat Lasem dan wisatawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif rasionalistik, yaitu dengan menyusun teori-teori yang kemudian diformulasikan menjadi beberapa variabel, indikator dan parameter. Kemudian menyusun kerangka kuesioner dan menganalisis data berdasarkan teori. Hasil penelitian ini menyimpulkan dari keempat variabel yang berpengaruh pada vitalitas budaya; (1) Masyarakat dan Komunitas, (2) Keragaman Fungsi dan Aktivitas Sosial-Budaya, (3) Lingkungan Fisik, (4) Manajemen Perkotaan. Keempat variabel tersebut harus dipertimbangkan, tidak hanya untuk menjaga kesinambungan budaya agar semakin semarak tetapi juga meningkatkan kualitas lingkungannya. Oleh karena itu, perlu adanya keterlibatan masyarakat, komunitas dan pemerintahan yang terus menerus untuk mempertahankan eksistensinya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan vitalitas budaya secara keseluruhan dengan memberikan arahan pengembangan pada kawasan Pecinan Karangturi.
Lasem is a subdistrict on the north coast of Java located in Rembang regency. The culture that developed in Lasem is a form of cultural acculturation of the three cultural elements; Java, Arabic and Chinese. Acculturation forms a cultural identity for Lasem. The role of Lasem as a city that experienced a long acculturation process began to faded. Lasem especially Chinese settlement of Karangturi tends to be a dead area. The old residential area began to be abandoned its inhabitants thus impacting on the abandonment of heritage buildings and there are even some heritage buildings that have been replaced with new buildings. Cultural activity is increasingly invisible, as if hidden behind the high walls that have been a silent witness of history. This resulted in cultural vitality tend to decline. Based on the phenomenon, it is necessary to conduct research to find out the cultural vitality condition of Chinese settlement in Karangturi. This research aims to find out the current cultural vitality condition of Chinese settlement in Karangturi and factors that affecting cultural vitality condition. The condition of cultural vitality is measured based on the objective assessment of researcher and subjective assessment of the three respondents such as; residents of Chinese settlement in Karangturi, Lasem society and tourists. The method used a deductive rationalistic approach, which compiling the theories that are then formulating into several variables, indicators and parameters. To find out the respondent’s assessment was done formulating questionnaire and analyze the data based on the collaboration theory. The results of this research concluded from these four variables that affect the cultural vitality; (1) Society and Communities, (2) Diversity of Land Use and SocialCultural Activities, (3) Physical Environment, (4) Urban Management. These four variables should be considered, not only to maintaining cultural continuity to be lively but also to improving the quality of the environment. Therefore, there is a need continuous society, community and government involvement in order to sustain its existence. The results of this research are expected to increase the cultural vitality of the settlement as a whole by providing planning guidance for development of Chinese settlement in Karangturi, Lasem.
Kata Kunci : Lasem, Pecinan Karangturi, vitalitas budaya