DINAMIKA PERUBAHAN RUANG PADA KAWASAN PARIWISATA SANUR, BALI
SEKAR DYAH KUNASTI, Deva Fosterharoldas Swasto, S.T., M.Sc., Ph.D.; Ir. Agam Marsoyo, M.Sc., Ph.D.
2018 | Tesis | MAGISTER PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTARuang dalam konteks spasial menurut Doxiadis (1968) adalah termasuk di dalamnya habitat yang meliputi wadah (container) dan isi (contain) dimana keduanya saling berkaitan membentuk sistem untuk manusia agar bisa tinggal, beraktivitas dan bertahan hidup yang mempengaruhi perubahan pada ruang. Sanur yang berada di Denpasar Selatan, Bali merupakan pelopor pariwisata Bali dengan adanya Hotel Bali Beach. Perkembangan pariwisata global yang berorientasi pada profit pada umumnya menjadikan kawasan lain dalam bloknya seperti Kuta dan Seminyak mengalami stagnasi dan penurunan kualitas kawasan, namun kawasan pariwisata Sanur mampu tetap eksis dengan budaya dan tata ruang lokalnya sehingga tetap berkembang. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dinamika perubahan habitat dan faktor yang mempengaruhinya, mengingat pentingnya menjaga keberlanjutan kawasan pariwisata yang berbasis budaya agar tetap dapat mempertahankan nilai-nilai tradisional sehingga tidak kehilangan identitasnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif kualitatif-kuantitatif. Metode yang dominan adalah kualitatif yang dilatarbelakangi oleh tujuan penelitian melalui wawancara mendalam kepada narasumber yang mengetahui secara pasti kejadian pada masa tertentu. Metode kuantitatif digunakan untuk mendukung hasil kualitatif dengan rekonstruksi peta dan untuk mengetahui besaran perubahan yang terjadi. Pengumpulan data primer dilakukan dengan observasi, wawancara dengan purposive sampling dan pemberian kuisioner kepada wisatawan. Pengumpulan data sekunder dengan survei instansi terkait dan studi literatur. Analisis data secara spasial menggunakan rekonstruksi peta berbasis data primer dan sekunder untuk melihat besaran perubahan yang terjadi, kemudian analisis faktor pada setiap periode dan faktor yang muncul pada periode tertentu. Pada hasil penelitian, ditemukan bahwa perkembangan dan pengendalian di Sanur mampu berjalan bersamaan yang dianalisis menggunakan teori Butler. Temuan menunjukan Sanur berada pada tahap konsolidasi, tahap ini merupakan tahap awal krisis sebelum kawasan masuk dalam tahap stagnasi. Hal ini disebabkan karena adanya sistem pengendalian internal yang membuat Sanur berkembang melambat namun tetap eksis dengan adat dan budayanya, tatanan budaya pada ruang dengan konsep Sanga Mandala masih terjaga dari periode I hingga periode III. Social capital menjadi dasar kebertahanan ruang di Sanur dari tekanan pembangunan yang berorientasi pada profit, yang merupakan faktor terbesar perubahan ruang di Sanur. Faktor ini mengalami pergeseran pengaruh pada periode I dan II, faktor ini lebih berpengaruh pada fisik ruang yang ditandai dengan tingginya intensitas pembangunan. Sedangkan seiring berkembangnya teknologi, faktor ini lebih berdampak pada isi ruang yang menjadi lebih virtual.
Space in the spatial context according to Doxiadis (1968) includes habitats that consist of the physical (container) and the contents (contain) in which the two are interconnected to form systems for humans to live, run activities and survive that affect changes in space. Sanur located in South Denpasar, Bali is a pioneer of Bali tourism with the Bali Beach Hotel. The development of profit-oriented global tourism makes other areas in the blocks such as Kuta and Seminyak stagnate and decline, but the tourism area of Sanur is able to exist with its local culture and local layout so that development is still occur but slows down. This research aims to identify the dynamics of habitat change and factors that affect, given the importance of maintaining the sustainability of culture-based tourism areas in order to retain traditional values so as not to lose their identity. This research used a qualitative-quantitative deductive, the dominant method is the qualitative which is based on the purpose of this research trough in depth interviews to relevant people who know exactly the events in those time. Quantitative methods were conducted to support qualitative results with map reconstruction and to determine the magnitude of changes that have occurred in Sanur. Primary data collection has been done by observation, interview with purposive sampling and questionnaires to tourists. Secondary data collection with survey of related institutions and literature studies. Spatial data analysis based on primary and secondary data to reconstruct map to identify the magnitude of change that happened, then analyze the factors that have appeared in each period and factors that have appeared in a certain period. In the research result found that development and control in Sanur able to run at the same time analyzed using Butler's theory shows that Sanur is in the consolidation stage where this stage is the early stage of crisis before Sanur area enter in stagnation stage. This is due to the internal control system that makes Sanur grow slowly but still exist with its traditions and culture, the cultural order in space with Sanga Mandala is still maintained from period I to period III. Social capital became the basis of space defense in Sanur from the pressure of profit-oriented development that the biggest factor of space change in Sanur, this factor experienced a shift of influence where in the period I and II this factor is more influential on the physical space characterized by the high intensity of development, while along with the development of technology this factor more impact on the contents of space becomes more virtual.
Kata Kunci : perubahan ruang, kawasan pariwisata, pengendalian ruang,