Internalisasi Multikulturalisme Pada Anak Usia Dini (Studi Kasus Pendidikan Multikultural dalam Lingkup Monokultur di Taman Kanak-kanak Islam Tarbiyatul Athfal Al-Furqon Yogyakarta)
GABRIELLA NOVA TATYA, Nur Azizah, S.I.P., M.Sc.
2018 | Skripsi | S1 POLITIK DAN PEMERINTAHANKemajemukan merupakan sebuah kondisi yang tidak bisa dihindari dan sebuah kenyataan dinamis di masyarakat Indonesia. Multikulturalisme menjadi sebuah pemikiran yang digunakan untuk memahami kenyataan tersebut, sebab ia menutut kesediaan untuk mengakui dan mau menerima mereka yang memiliki ketidaksamaan. Keberagaman kultural tersebut berdasarkan kepada agama, suku, golongan, dan bahasa. Namun kontestasi identitas hadir ke dalam ruang masyarakat berupa penyelenggaraan pendidikan anak usia dini oleh yayasan keagamaan islam. Namun ternyata dalam ruang pendidikan ini terdapat penanaman nilai keagamaan yang cenderung mengkonstruksi pemikiran stereotip dan intoleran, melalui tepukan yang dilakukan di dalam kelas. Sekolah keagamaan merupakan sekolah monokultur karena mereka menggunakan agama sebagai dasar penyelenggaraan pendidikan. Budaya monokultur cenderung menutup diri terhadap mereka yang berbeda sehingga tidak adanya pengetahuan yang komprehensif tentang �mereka�. Adanya ujaran dan pembiasaan untuk membentuk framing dan stereotip menjadi sebuah bentuk reproduksi indentitas yang menghasilkan prasangka akibat adanya nilai yang direproduksi secara rutin dan berkelanjutan. Hal ini menjadi menarik ketika dihadapkan dengan pengenalan keberagaman, sehingga menjadi sebuah pertanyaan besar tentang bagaimana internalisasi multikulturalisme pada anak usia dini yang dilakukan oleh sekolah keagamaan tersebut. Kesedian sekolah monokultur dalam menggunakan pendidikan multikultur sebagai sebuah kompromi dalam proses pendidikan menjadi hal yang menarik untuk diteliti, sebab terdapat sebuah kerangka biopower melalui pendisiplinan dan kontrol regulatif yang digunakan melalui kurikulum tentang pendidikan agama. Keterbukaan kurikulum dan adanya dialog tentang keberagaman menjadi hal kunci dalam implimentasi pendidikan multikultur. Pendidikan multikultur menjanjikan dapat menanamkan sikap toleransi yang sejalan dengan ide multikulturalisme itu sendiri, sebab diakomodirnya nilai-nilai pluralisme, demokratis, dan humanis. Studi Kasus menjadi metode yang tepat untuk digunakan dalam melihat permasalah sekolah dalam mengimplementasikan keberagaman pada proses belajar mengajar melalui kurikulum. Sekolah taman kanak-kanak yang dijadikan sample merupakan salah satu representasi bentuk sekolah anak usia dini dengan identitas keagamaan dewasa ini. Observasi dan wawancara menjadi teknik utama dalam pengumpulan data, beserta studi literatur terhadap kurikulum sekolah. Artikulasi nilai keberagaman sangat dipengaruhi oleh siapa penyelenggara pendidikan, terkait dengan pendisiplinan dan kontrol yang dilakukan melalui kurikulum sekolah. Kurikulum menjadi sebuah alat alat untuk mendisiplinkan dan memberikan kontrol kepada siswa melalui kegiatan belajar mengajar. Hal ini menyebabkan adanya konstruksi identitas melalui pendidikan agama untuk menghasilkan anak ber-akhlaqul karimah.
Pluralism is an innevitable condition and dinamic reality for the Indonesian society. Multiculturalism becomes the only way of thinking to understand that reality, cause it demands a willingness to recognizing and accepting those who have a differences. The cultural diversity is based on religion, etnicity, class, and language. Yet, the contestation of the identity is emerged into the society sphere, in the form such as an institution of Early Chilhood Education by the Islamic religious foundation. However, it turn out that in this educational space there is a pratical for growing the religiousness which is tend to constructing a stereotypical act and intolerance thinking, through the cheers during the learning-teaching process in the classroom. Religious school is an monoculture school, they using religion as the system for the learning-teaching process of the education. Homogen culture tends to segregating themselves with the them, which is consider as the person that different from us, so that they can not get enough of the comprehensive knowlegde of them. The existence of stimulation and habituation are create for framing and stereotypes, they are formulated by reproduction of the identity and becoming a prejudice due to their values which is being done countinously. This is become interesting when they faced with matters of diversity recognition, so its turn out to be a big question about how the Early Childhood who being held by religious school internalize the multiculturalism? The Monoculture school willingness using multiculture education as the compromising way in the education procces, become an interesting matters to be search because there is a biopower framework trough a diciplining and regulative control which are going in the religious educations curriculum. The curriculum openess and the dialogues activity about diversity became the key point in the multiculture education being done. Multiculture education promised to build a tolerance which is in line with the multiculturalism ideas, because its accomodate the value of pluralism, democratic, and humanism. Case Study become the method which is used to find out the answer about how the school implementing diversity in the learning process through the curriculum. The sampling in this research is the one from many religious identities kindergarten schools nowdays. Observation and interview became the main techniques in use for collecting the data, along with the litteratur studi about the school curriculum. The articulation of the diversity value influenced by the is the education provider, related to the diciplining and regulative control which are carried out in the school curriculum. The curriculum becomes a tool for diciplining and controling the student through the learning-teaching process. This is led to the construction of the identity through religious education for producing the student with the Akhlaqul Karimah (good) character.
Kata Kunci : Multiculture Education, Multikulturalism, Politics of Identity, Educations, Islam