NILAI EKONOMI DAN PEMASARAN HASIL HUTAN RAKYAT DI DESA BANJARARUM KECAMATAN KALIBAWANG KABUPATEN KULON PROGO
YUNI LARASATI, SILVI NUR OKTALINA
2018 | Tugas Akhir | D3 PENGELOLAAN HUTANHutan rakyat kini menjadi salah satu sektor yang turut serta menyumbang besar dalam pendapatan rumah tangga. Masyarakat banyak mengembangkan berbagai komoditas pada lahan hutan yang mereka miliki. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui nilai ekonomi dari berbagai komoditas dan diharapkan dapat diketahui besar kontribusi hutan rakyat dalam pendapatan rumah tangga, serta bagaimana pola pemasaran yang dapat memberikan keuntungan lebih kepada para petani hutan rakyat. Penelitian ini dilaksanakan di desa Banjararum kecamatan Kalibawang kabupaten Kulon progo, pada bulan September 2017 hingga bulan Juni 2018. Objek dari penelitian ini adalah petani hutan rakyat di desa Banjararum. Penelitian dilaksanakan dengan mewawancara petani dengan bantuan kueisoner yang telah disusun untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan. Nilai ekonomi terbesar yang menyumbang pendapatan responden adalah dari sektor perkebunan yaitu sebesar Rp 53.641.000/tahun (44%). Sektor pertanian dengan Rp 34.785.000/tahun (28%), sektor kayu Rp 31.810.000/tahun (26%), dan sektor hasil hutan lainnya Rp 2.602.250/tahun (2%). Hasil hutan tersebut, sebagian dijual oleh petani dan sebagian dimanfaatkan secara pribadi. Persentase hasil hutan yang dijual untuk sektor kayu adalah sebesar 66%, dan 34% dimanfaatkan pribadi. Sektor perkebunan 63% dijual, dan 31% dimanfaatkan pribadi. Sektor pertanian 69% dijual, dan 31% dimanfaatkan pribadi. Sektor hasil hutan lainnya 56% dijual, dan 44% dimanfaatkan pribadi. Sedangkan pemasaran yang dilakukan terdapat 3 pola distribusi baik itu langsung dipasarkan ke konsumen akhir, dipasarkan melalui pedagang dan kemudian ke konsumen akhir, maupun dari produsen kepada pengepul. Sektor kayu didominasi penjualan melalui pengepul yaitu sebesar 100%. Sektor perkebunan, pertanian dan hasil hutan lainnya didominasi penjualan langsung ke konsumen dengan persentase masing-masing sebesar 86%, 93%, dan 79%.
Community forests are now one of the sectors that contribute greatly to household income. Many communities develop various commodities on the forest land they have. This research was conducted to determine the economic value of various commodities and it is expected to know the contribution of community forests in household income, as well as how the marketing pattern can provide more benefits to the community forest farmers. This research was conducted in Banjararum village, Kalibawang district, Kulon Progo regency, from September 2017 until June 2018. The object of this research is the farmer in Banjararum village. The study was carried out by interviewing farmers with questionnaire that had been prepared to obtain the required data. The biggest economic value that contributed to the respondents income was from the plantation sector, which was Rp. 53.641.000/year (44%). Agriculture sector with Rp 34.785.000/year (28%), timber sector Rp 31.810.000/year (26%), and other forest products sector Rp 2.602.250/year (2%). The forest products, some sold by farmers and some are used privately. The percentage of forest products sold for the timber sector is 66%, and 34% is used privately. The plantation sector is 63% sold, and 31% is used privately. The agricultural sector is 69% sold, and 31% is used privately. Other forest products 56% are sold, and 44% are used privately. While the marketing carried out there are 3 distribution patterns either directly marketed to end consumers, marketed through traders and then to end consumers, as well as from producers to collectors. The wood sector is dominated by sales by collectors which is 100%. The plantation, agriculture and other forest products sectors were dominated by direct sales to consumers with percentages of 86%, 93% and 79%.
Kata Kunci : Hutan rakyat, Kulon Progo, Nilai ekonomi, Pemasaran, Pendapatan / Community forest, Kulon Progo, Economic Value, Marketing, Income