STRATEGI KESANTUNAN DALAM TINDAK TUTUR PERMOHONAN BAHASA JEPANG MELALUI PENDEKATAN PRAGMATIK
DIAH KINTAN PUSPANINGRUM, Najih Imtihani, S.S., M.A
2018 | Skripsi | S1 SASTRA JEPANGPenelitian ini adalah penelitian tentang strategi kesantunan yang digunakan dalam tindak tutur permohonan bahasa Jepang. Penggunaan strategi kesantunan dalam tindak tutur permohonan sering menjadi masalah bagi pembelajar bahasa asing. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tindak tutur permohonan apa yang paling banyak digunakan dan strategi kesantunan apa yang paling banyak digunakan. Dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode angket dengan sistem DCT (Discourse Completion Test). DCT merupakan sistem angket dengan menyusun situasi dan meminta responden untuk menuliskan apa yang akan dikatakannya dalam situasi tersebut. Isi angket terdiri dari 24 pertanyaan yang disusun berdasarkan empat variabel yaitu power, jarak sosial, keformalan, dan urgensi permintaan. Angket dibagikan kepada 28 responden. Data dikelompokkan berdasarkan jenis permohonan langsung dan tidak langsung, kemudian dianalisis berdasarkan teori kesantunan Brown dan Levinson. Brown dan Levinson menyatakan bahwa untuk melakukan tindakan mengancam muka (FTA) seseorang dapat menggunakan strategi kesantunan. Ada lima strategi kesantunan: (1) strategi langsung tanpa basa-basi; (2) strategi kesantunan positif; (3) strategi kesantunan negatif; (4) strategi tidak langsung; (5) tidak melakukan FTA. Dari hasil analisis diketahui bahwa strategi tindak tutur permohonan yang paling banyak digunakan adalah strategi tindak tutur tidak langsung yang sering digunakan (conventionally indirect), seperti pada kalimat "Shashin totte kuremasuka? (Bisakah Anda mengambil gambar kami?)". Kelima strategi kesantunan Brown dan Levinson ditemukan pada data, akan tetapi strategi kesantunan negatif merupakan strategi kesantunan yang paling banyak digunakan.
This research investigates the use of politeness strategies on Japanese request speech act. Foreign language learners often find it hard to apply politeness strategy to request speech act. The aim of this research is to understand the most used request strategy and the most used politeness strategy. Data is collected with a questionnaire form with DCT (Discourse Completion Test) model. DCT is a questionnaire form in which the respondents are asked to write what they're going to say in settings that had been arranged. The questionnaire consists of 24 open-ended questions arranged by four variables: power, social distance, formality, and request's urgency. The questionnaire is distributed to 28 respondent. Data then classified based on the directness scale and then analyzed with Brown and Levinson's politeness theory. Brown and Levinson stated that there are five strategies to perform Face Threatening Act (FTA), which also known as politeness strategy. Those five politeness strategies are: (1) bald on record; (2) positive politeness; (3) negative politeness; (4) off record; (5) don't do the FTA. The results show that the most used strategy for request speech act is conventionally indirect request strategy, as in the following sentence "Shashin totte kuremasuka? (Can you take our picture?)". While the data shows all five super strategies of Brown and Levinson's politeness theory, the most used politeness strategy is negative politeness strategy.
Kata Kunci : tindak tutur permohonan, strategi permohonan, strategi kesantunan Brown dan Levinson, DCT / request speech act, request strategy, Brown and Levinson�s politeness strategy, DCT