DEOTORISASI DALAM CERPEN "BUKAN TITISAN SEMAR" DAN "SEMAR SUPER" KARYA BONARI NABONENAR: ANALISIS POSMODERNISME LINDA HUTCHEON
SANYA DINDA SUSANTI, Dr. Supriyadi, M.Hum.
2018 | Skripsi | S1 BAHASA DAN SASTRA INDONESIASemar muncul dalam berbagai macam karya sastra Indonesia. Semar dalam karya-karya sastra posmodern umumnya digambarkan sebagai sosok dari cerita carangan yang mempertanyakan otorisasi tokoh atau cerita pakem, cerita Mahabaratha. Namun, dalam cerpen "Bukan Titisan Semar" dan "Semar Super", Semar merupakan sosok tiran yang korup, nepotis, dan haus kekuasaan yang secara langsung bertanggungjawab atas banyak ketidakadilan sosial dan politik yang dilakukan kepada orang-orang Karangdempel. Semar dalam cerpen "Bukan Titisan Semar" dan "Semar Super" juga memiliki pengaruh yang kuat terhadap lingkungannya. Cerpen "Bukan Titisan Semar" dan "Semar Super" diduga berusaha mengkiritisi otorisasi pemimpin yang otoriter. Teori posmodern dari Linda Hutcheon akan digunakan untuk menganalisis cerpen "Bukan Titisan Semar" dan "Semar Super". Teori ini diharapkan mampu menganalisis parodi fakta dan fiksi dalam cerpen "Bukan Titisan Semar" dan cerpen "Semar Super". Kontekstualisasi cerpen "Bukan Titisan Semar" dan "Semar Super" yang berkaitan dengan latar sosial dan politik ketika kedua cerpen tersebut diterbitkan juga dianalisis. Selain itu, proses pelemahan keotoriteran pemimpin yang otoriter, disebut deotorisasi, dalam cerpen " Bukan Titisan Semar" dan "Semar Super" juga dianalisis. Hasil penelitian cerpen "Bukan Titisan Semar" dan "Semar Super" menunjukkan bahwa kedua cerpen tersebut memparodisasikan fakta sejarah, unsur cerita wayang, dan fiksi. Pengarang menggunakannya untuk melancarkan kritik terhadap pemimpin yang otoriter untuk melemahkannya. Dalam kedua cerpen tersebut, pemimpin yang otoriter digambarkan oleh sosok titisan Semar dan Semar. Tokoh Semar dalam kedua cerpen tersebut, berdasarkan kontekstualisasi kedua cerpen, merupakan representasi dari Soeharto.
Semar appeared in various Indonesian literary works. Semar in posmodern literary works are generally described as a figure of a carangan story that questions authoritarian figure or pakem story of Mahabaratha story. However, in the short story "Bukan Titisan Semar" and "Semar Super", Semar is a corrupt, nepotistic, and power-hungry tyrant who is directly responsible for many social and political injustices committed to the Karangdempel people. Semar in the short story "Bukan Titisan Semar" and "Semar Super" also has a strong influence on the environment. The short story "Not Titisan Semar" and "Semar Super" allegedly attempted to irritate authoritarian authorization. The postmodern theory of Linda Hutcheon will be used to analyze the short stories "Bukan Titisan Semar" and "Semar Super". This theory is able to analyze the parody of facts and fictions in the short story "Bukan Titisan Semar" and short story "Semar Super". The contextualization of the short story "Bukan Titisan Semar" and "Semar Super" that associated with social and political background when both short stories published also analyzed. In addition, the authoritarian leader weaken process, called deotorization, in the short stories "Bukan Titisan Semar" and "Semar Super" is also analyzed. The results of the study of short stories "Bukan Titisan Semar" and "Semar Super" show that both short stories parodizing and confuse historical facts, elements of wayang stories, and fiction. The author uses it to launch criticism against an authoritarian leader. In both short stories, the authoritarian leader is represented by the figures of Titisan Semar and Semar. Semar leaders in both short stories, based on the contextualization of both short stories, are representation of Soeharto.
Kata Kunci : deotorisasi, parodi, fakta sejarah, cerita wayang, Semar, kontekstualisasi