ALIH KODE DAN CAMPUR KODE DALAM SANDIWARA RADIO CURANMOR YES FM, CILACAP
CAEZA DINAR MAHARANI, Dr. Daru Winarti, M.Hum.;Dr. Sulistyowati, M.Hum.
2018 | Skripsi | S1 SASTRA JAWASkripsi ini membahas mengenai alih kode dan campur kode di dalam sandiwara radio Curanmor berjudul Kiyai vs Bencoleng. Sandiwara radio Curanmor merupakan sebuah sandiwara radio kebanggaan masyarakat Banyumas. Sandiwara radio ini menggunakan bahasa Jawa dialek Banyumas sebagai kode utama di dalam percakapan. Teori yang digunakan di dalam penelitian ini adalah sosiolinguistik yang berupa alih kode dan campur kode. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode pengumpulan data, metode analisis data dan metode penyajian hasil analisis data. Metode pengumpulan data digunakan dengan metode simak penggunaan bahasa, data yang ada dianalisis dengan metode padan dan teknik hubung banding menyamakan hal pokok (atau teknik HBSP). Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya alih kode bahasa Jawa dialek Banyumas ke dalam kode bahasa Indonesia, kode bahasa Inggris atau kode bahasa Arab. Campur kode yang terjadi adalah pencampuran kode bahasa Indonesia (formal dan non-formal), kode bahasa Jawa dialek standar, kode bahasa Inggris, kode bahasa Arab, serapan kode bahasa Inggris atau serapan kode bahasa Arab di dalam kode bahasa Jawa dialek Banyumas. Alih kode dan campur kode disebabkan oleh beberapa faktor yaitu karena kehendak atau suasana hati penutur, pergantian topik pembicaraan, salah satu pembicara tidak menguasai kode utama, dan keterbatasan kode utama. Penyebab yang paling sering terjadi adalah kehendak atau suasana hati penutur.
This research thesis examines sosiolinguistic code-switching and code-mixing in a popular radio broadcast entitled Curanmor. It's significant for this research is that the Javanese Banyumas dialect is the main language spoken in all episodes. The primary source of data analysed is the audio from the episode Kiyai vs Bencoleng. The audio was first transcribed. The resulting text was analysed via the Connecting and Comparing Technique. The results show three codes used in code-switching: Indonesian, English and Arabic. In code-mixing, Indonesian (formal and non-formal), standart Javanese dialec, English, Arabic, an adaption of English and an adaption of Arabic in Indonesian are all found. Factors contributing to code-switching and code-mixing are the intent and mood of the announcer to use two codes at the same time; changes in the topic of conversation; one speaker being unable to understand the main code; and the limitation of main code vocabulary. The most frequent factor was found to be the intent and mood of the announcer to use two codes at the same time.
Kata Kunci : Kata kunci : alih kode, campur kode, sandiwara radio, bahasa Jawa dialek Banyumas, multilingual / Keywords : code switching, code mixing, radio broadcast, Javanese Banyumas dialect, multilingual