Museum Komunitas Mainan Anak "Kolong Tangga" dengan Pendekatan Critical Regionalism
NILTA FARAH SHABRINA, Ardhya Nareswari, ST., MT., Ph.D.
2018 | Skripsi | S1 ARSITEKTURMuseum "Kolong Tangga" merupakan museum pendidikan dan mainan pertama di Indonesia yang bertempat di lantai 2 bangunan Taman Budaya Yogyakarta, tepatnya di bawah tangga menuju Concert Hall. Aktivitas museum ini tidak terbatas sebagai sarana pameran koleksi mainan dari seluruh dunia saja, namun juga aktif dalam kegiatan yang melibatkan anak-anak, seperti workshop, perpustakaan, majalah, dan lain-lain. Namun pada Juli 2017, karena adanya renovasi di gedung TBY, secara mendadak museum kehilangan tempatnya melakukan kegiatan pameran. Saat ini, barang koleksi museum hanya disimpan di gudang museum yang terletak di Tirtodipuran. Menanggapi permasalahan ini, penulis mengangkat judul 'Museum Komunitas Mainan Anak "Kolong Tangga" dengan Pendekatan Critical Regionalism'. Kampung Golo dirasa sebagai lokasi yang tepat untuk dibangun museum. Selain karena letaknya strategis di perkotaan, namun juga citra Kampung Golo sebagai Kampung Ramah Anak. Di kawasan ini juga banyak terdapat institusi pendidikan sehingga suasananya pun cukup kondusif untuk sebuah museum anakanak. Berdasarkan preseden-preseden yang ada, museum tidak lagi hanya menjalankan fungsinya sebagai pameran koleksi di kotak kaca. Namun museum juga menampilkan koleksinya secara interaktif dan menggunakan teknologi modern. Selain itu museum juga berfungsi sebagai ruang publik terutama bagi masyarakat di sekitarnya. Critical Regionalism dipilih karena lokasinya yang berada di tengah kawasan urban sehingga diperlukan desain yang bisa mengangkat nilai lokal dan konteks lingkungan sehingga bangunan memiliki identitas kedaerahan namun tetap menyatu dengan modernisasi arsitektur yang berkembang. Poin dari desain berbasis critical regionalism ini tidak hanya terlihat dari ornamen fisik, namun juga pada fungsi bangunan yang memanfaatkan konteks lingkungan. Adanya ruang hijau dan elemen desain interaktif diharapkan mampu meningkatkan atmosfer edukatif serta interaksi sosial sehingga keterlibatan masyarakat sebagai komunitas sosial juga semakin meningkat.
Museum "Kolong Tangga" -- "Under the Stair" Museum -- is the first toy museum in Indonesia. Located on the 2nd floor of Taman Budaya Yogyakarta, precisely under the stairs to the concert hall. Beside exhibiting a collection of toys from around the world, this museum often provides facilities for children activities such as workshop and readings for kids. In July 2017, due to big renovation in Taman Budaya building, the museum suddenly lost its place for the exhibition. Currently their collection are only stored in the museum warehouse located in Tirtodipuran, Yogyakarta. For this reason, the author came up with 'Community Museum of Toys "Kolong Tangga" with Critical Regionalism Approach' as a symbol of compassion towards this valuable facility. Kampung Golo -- Golo Village -- is considered as the right location for the museum. Not only for its strategic location in urban areas, but also the image of Kampung Golo as a child friendly village. With numerous educational institutions, the area is considerably conducive for children to learn. Based on existing precedents, modern museum no longer just performs its function as an exhibition in a glass box. But museum also displays its collection interactively and using modern technology. In addition, museum also serves as a public space, especially for the neighborhood community. Critical Regionalism was chosen because of its location in the middle of the urban area, so the design better to lift the local values and environmental context. This is necessary so that the building has a regional identity but still blend with the growing architectural modernization. The points of this critical regionalism-based design are not only visible from the visual elements, but also in the building function. The existence od greean area and interactive design elements are expected to improve the educational atmosphere and social interaction.
Kata Kunci : museum, critical regionalism, mainan, anak