Handicraft Center di Sentra Kain Tuan Kentang Palembang dengan Pendekatan Konsep Cultural Waterscape
SAVIRA AZARIA ANDRIANI, Syam Rachma Marcillia, S.T., M.Eng., Ph.D.
2018 | Skripsi | S1 ARSITEKTURABSTRAK Kota Palembang dalam kurun waktu beberapa dekade ini mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam skala nasional, bahkan cukup dikenal dalam lingkup Internasional. Perkembangan ini juga mendorong banyaknya wisatawan lokal maupun mancanegara, serta mendongkrak perkembangan sektor ekonomi kota secara umum, terlebih pada sektor pariwisata. Salah satunya terletak pada Kawasan Wisata Tuan Kentang di Kelurahan Tuan Kentang Palembang yang ditunjuk sebagai Sentra Wisata Kain karena banyaknya pengrajin kain tenun Jumputan dan Kain Songket Khasnya. Namun, jika diperhatikan, keadaan kawasan sentra budaya kain ini masih cukup memperihatinkan. Pembangunan Griya Kain belum mampu menciptakan peluang pasar yang berkelanjutan, belum adanya instansi yang terpadu untuk pengrajin dan wisatawan, dan diperparah dengan identitas sungai justru menjadi kumuh, berfungsi hanya sebatas urban serewage. Metode Cultural waterscape dipakai untuk menciptakan handicraft center yang tidak hanya sebagai sebagai wadah untuk mempromosikan budaya dan kerajinan tangan suatu daerah, namun juga sebagai wadah sosial bagi pengrajin dan pengunjung, serta untuk memacu minat pemberdayaan profesi pengrajin yang menjanjikan melalui sarana yang interaktif, edukatif, dan atraktif. Konsep pendekatan Cultural Waterscape diaplikasikan pada tipologi ini dimana proses dan konsep perancangan menitikberatkan pada pola sosial dan budaya masyarakat, sehingga diharapkan dapat diterima dengan baik oleh lingkungan masyarakat.
ABSTRACT The city of Palembang in the period of several decades has experienced a very rapid development on a national scale, even quite well known in the international sphere. This development also encourages the number of local and foreign tourists, as well as boost the development of urban economic sector in general, especially in the tourism sector. One of them lies in the Tourism Area Mr Potato in Kelurahan Tuan Kentang Palembang who was appointed as Sentra Wisata Kain because of the many craftsmen woven Jumputan and Kain Songket Typical. However, if observed, the state of the cultural fabric is still quite considerate. Griya Kain's development has not been able to create sustainable market opportunities, the absence of integrated institutions for craftsmen and tourists, and exacerbated by the identity of the river becomes slum, functioning only as urban sewerage. Cultural Waterscape method is used to create a handicraft center that is not only as a forum to promote the culture and crafts of a region, but also as a social container for craftsmen and visitors, as well as to encourage the interest of empowering promising craftsmen profession through interactive, educative and attractive ways. The concept of Waterscape's Cultural Approach is applied to this typology where the process and the concept of design focus on the social and cultural patterns of society, so it is expected to be well received by the community.
Kata Kunci : Waterfront, Cultural Waterscape, Handicraft Center, Art and Cultural Learning Center, Karakter kota