Laporkan Masalah

Urban Rest Stop pada Kolong Jembatan Janti dengan Pendekatan Metode Crossprogramming

KAYYISA FITRI, Dyah Titisari Widyastuti, ST, MUDD.

2018 | Skripsi | S1 ARSITEKTUR

Indonesia sebagai negara berkembang memiliki jumlah penduduk yang terus berkembang. Pada kota-kota besar di Indonesia, angka jumlah penduduk terus bertambah di setiap tahunnya. Meningkatnya jumlah penduduk ini memberikan kontribusi besar terhadap daya dukung perkotaan. Oleh karena itu, kota-kota di Indonesia yang memiliki permasalahan ini mengatasinya dengan membangun infrastruktur. Gencarnya pembangunan infrastruktur ini mengakibatkan terbentuknya ruang-ruang sisa yang terabaikan. Terkait hal tersebut, salah satu upaya untuk memanfaatkan ruang sisa tersebut adalah dengan membangun sebuah urban rest stop. Metode cross programming digunakan dalam perancangan untuk menciptakan urban rest stop yang bukan hanya sebagai sarana penunjang mobilitas, tetapi juga sebagai area milik publik sehingga dapat menghidupkan kawasan sekitar. Masalah perancangan pada urban rest stop ini adalah (1) bagaimana urban rest stop dapat menyediakan fasilitas yang multifungsi dan terintegrasi sehingga mampu menarik minat pengunjung. Yang kedua adalah (2) bagaimana urban rest stop dapat merespon tapak sehingga menciptakan ruang yang terintegrasi satu sama lain. Dari permasalahan tersebut maka dipilih penekanan pada movement sebagai penggerak arsitektur, yang menjadi solusi desain dengan transformasi yang pertama adalah (1) movement as generator yang diartikan sebagai suatu gerakan yang dapat menjadi penggerak terbentuknya ruang atau space. Dan yang kedua adalah (2) movement as activator yang diartikan sebagai suatu gerakan yang dapat mengaktifkan ruang statis, sehingga memicu terjadinya event.

As a developing country, Indonesia has a big number of population growth. The number of population grow every year, especially in big cities. This growing population contributes to the carrying capacity of those cities. Therefore, many cities in Indonesia have this kind of problem that overcome by infrastructure development. The incessant development of this infrastructure resulted in the formation of a lost spaces. Related to this, one attempt to exploit the remaining space is to build an urban rest stop. Cross programming method is used to create an urban rest stop design that isn������¢���¯���¿���½���¯���¿���½t only for supporting mobility, but also as an area of public property to revive the surrounding area. The problems on urban rest stop design are (1) how urban rest stop can provide multifunctional and integrated facility to attract visitor interest, (2) how the urban rest stop can respond to the tread to create an integrated space. From these problems, I use emphasis on movement as a driver of architecture, which became the design solution that is transformed to (1) movement as generator which is defined as a movement that can driving the formation of space, and (2) movement as activator is defined as a movement that can activate the static space, thus triggering the event.

Kata Kunci : pertambahan penduduk, infrastruktur, urban rest stop, cross programming, movement

  1. S1-2018-366744-abstract.pdf  
  2. S1-2018-366744-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-366744-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-366744-title.pdf