Laporkan Masalah

MULTI-CRITERIA GROUP DECISION MAKING DALAM PENENTUAN PERINGKAT PRIORITAS INDUSTRI UNGGULAN KABUPATEN SLEMAN

DINAR AGRITICI ROSAL, Nur Aini Masruroh, S.T. M.Sc., Ph.D.

2018 | Skripsi | S1 TEKNIK INDUSTRI

Kabupaten Sleman pada tahun 2009 tercatat memiliki 15.112 industri yang terdiri dari industri kecil serta industri besar dan menengah. Potensi pengembangan industri unggulan yang besar tersebut mendorong Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman untuk terlibat memajukan industri yang ada melalui Peraturan Daerah Kabupaten Sleman tentang Rencana Pembangunan Industri Kabupaten Sleman Tahun 2018-2038 (RPIK Sleman 2018-2038). Banyaknya industri unggulan daerah dan terbatasnya sumber daya yang dimiliki menjadikan alasan utama dibutuhkannya peringkat prioritas industri unggulan. Penentuan peringkat prioritas dari Bidang Perindustrian diperoleh melalui kegiatan rapat agar semua anggota menyetujui keputusan yang ada. Namun, pada kegiatan ini sering terdapat beberapa individu yang menguasai grup sehingga keputusan condong pada individu tersebut (group dynamic). Sehingga dalam penentuan prioritas industri unggulan ini juga dibutuhkan pembobotan decision maker(DM) agar dapat menghilangkan group dynamic. Pemberian peringkat industri unggulan didapatkan melalui pengolahan perkalian bobot faktor parameter industri unggulan, penilaian DM, dan bobot terintegrasi DM menggunakan software Microsoft Excel 2013. Data pada penelitian ini adalah penilaian DM yang merupakan anggota Bidang Perindustrian melalui pengisian kuesioner. Sedangkan bobot terintegrasi yang digunakan adalah gabungan dari bobot subjektif dan bobot objektif DM. Hal ini dilakukan agar kemampuan dari DM dapat diperoleh secara menyeluruh. Pembobotan subjektif diperoleh dengan metode Multiplicative Analytical Hierarchy Process (AHP). Sementara pembobotan objektif dilakukan dengan metode Rasio-CWS dan Additive Consistency of Fuzzy Preference Relation (FPR). Pengolahan yang telah dilakukan memberikan hasil bahwa tingkat keahlian DM pada bidang tertentu berbeda. Perubahan nilai u sebagai parameter pengali bobot subjektif dan v sebagai parameter pengali bobot objektif tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Sehingga, ditetapkan penggunaan nilai u=v=0,5. Dengan nilai tersebut, diperoleh peringkat industri unggulan yaitu Industri Pangan, Industri Furniture, Industri Textile, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka, Industri Kayu, Industri Farmasi, Kosmetik, Alat Kesehatan, dan Olahan, Kimia dan Bahan Bangunan, Industri Mesin dan Perlengkapannya, Industri Elektronika dan Telematika, dan Jasa Industri. Kata kunci: Bobot Terintegrasi Decision Maker, Multi-Criteria Group Decision Making, Pengambilan Keputusan, Peringkat Priorias Industri Unggulan.

In 2009, there were 15.112 industries recorded in Sleman Regency that consists of small industries as well as middle and large industries. Potential development of industries in Sleman Regency encourages Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman to be involved in advancing process of existing industries through the Peraturan Daerah Kabupaten Sleman about Rencana Pembangunan Industri Kabupaten Sleman Tahun 2018-2038 (RPIK Sleman 2018-2038). The high number of flagship industries and the limited resources of Dinas Perindustrian are the main reason for the need of the priority ranking of flagship industries. The priority ranking of Bidang Perindustrian obtained through meeting, so all members are agree with the decision. However, there are often individuals who lead the group so the decisions are leaning towards those individual (group dynamic). Therefore, weighted decision maker (DM) is also required in determining the priority of this industry to eliminate group dynamic. The flagship industrial ranking is obtained through a process using Microsoft Excel 2013 software which the results are the multiplication of the industry leading parameters weight, DM’s assessment, and DM’s integrated weight. Data in this research are DM’s assessment of Bidang Perindustrian members which obtained from quitionaire. Meanwhile, the integrated weights are from combination of subjective weight and objective weight of DM. Integrated weight is used to accommodate all skill of DM. Subjective weight is obtained by Multiplicative Analytical Hierarchy Process (AHP) method. While the objective weighting is obtained through the CWS-Ratio method and the Additive Consistency of Fuzzy Preference Relation (FPR). The result of this research shows that the level of expertise DM in particular fields are different. The change in value of u as subjective weight multiplier parameter and v as objective weight parameter do not show any significant difference, so the value of u=v=0,5 is being used. With these values, this research obtained the flagship industries rankings are Food Industry, Furniture Industry, Textile, Leather, Footwear, and Multifarious Industries, Wood Industry, Pharmaceutical, Medical Devices, and Processed Industries, Chemical and Building Materials, Machinery and Equipment Industries, Electronics and Telematics Industries, and the last is Services Industry. Keywords: Decision Making, Integrated Weight of Decision Maker, Multi-Criteria Group Decision Making, Priority Ranking of Industries.

Kata Kunci : Bobot Terintegrasi Decision Maker, Multi-Criteria Group Decision Making, Pengambilan Keputusan, Peringkat Priorias Industri Unggulan.

  1. S1-2018-367150-abstract.pdf  
  2. S1-2018-367150-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-367150-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-367150-title.pdf