NARASI REAL DAN MAGIS SERTA TRADISI DALAM NOVEL NATISHA PERSEMBAHAN TERAKHIR KARYA KHRISNA PABICHARA
RIZKY AMELYA FURQAN, Dr. Sudibyo, M.Hum.
2018 | Tesis | S2 Ilmu SastraTesis ini membahas tentang narasi real dan magis serta tradisi yang ditampilkan melalui mitos parakang yang dipercayai oleh masyarakat Sulawesi. Narasi real dan magis adalah dua hal bertentangan, tetapi disatukan dalam satu novel oleh Khrisna Pabichara, yaitu novel Natisha Persembahan Terakhir. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menjelaskan karakteristik realisme magis yang dikaitkan dengan konsep tradisi dan modernisme, serta mengetahui bagaimana lingkungan penulis mempengaruhinya dalam penyampaian suara-suara yang dianggap marginal. Penelitian ini menggunakan teori Wendy B. Faris mengenai lima karakteristik realisme magis dan realisme magis sebagai narasi defokalisasi. Kelima karakteristik tersebut adalah elemen yang tidak tereduksi, dunia yang fenomenal, keraguan yang tidak terselesaikan, penggabungan dua dunia dan kekacauaan terhadap waktu, ruang dan identitas. Metode yang digungakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif naratif yang didapatkan melalui novel ataupun referensi pendukung di luar novel. Sementara teknik analisis datanya menggunakan teknik analisis dengan cara membuat klasifikasi data berdasarkan konsep teoretik yang digunakan. Kemudian, mencari hubungan antara data-data realisme dan magis berdasarkan lima kriteria, serta melihat data tersebut dengan narasi tradisi, folklore atau pun narasi agama yang disebut Faris dengan remistifikasi, terakhir melihat bagaimana konteks sosial novel yang dikaitkan dengan konsep pascakolonial dan pascamodernisme sehingga dapat diketahui alasan penulis mengangkat lokalitas daerah dan mengetahui . Dari penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa novel Natisha Persembahan Terakhir memenuhi kelima elemen yang disampaikan oleh Wendy B. Faris. Novel ini dapat digolongkan ke dalam kelompok realisme magis. Walaupun, posisi magis dan real belum sepenuhnya seimbang. Khrisna Pabichara masih memperlihatkan karaguan melalui tokoh terhadap peristiwa magis yang dialami. Kemunculan hal real dan magis secara bersamaan atau narasi defokalisasi menuculkan ruang dekolomisasi. Elemen magis dan tradisi yang ada dalam masyarakat dijadikan pengarang sebagai hal yang tetap tidak bisa ditinggalkan. Walaupun, modernitas telah mempengaruhi kehidupan masyarakat dan tradisi yang ada di dalam masyarakat dianggap sebagai identitas, hal ini tentunya juga berkaitan dengan wacana pascakolonial dan pascamodernisme.
This thesis discusses the real and the magical narratives and traditions displayed through the parakang myths believed by the people of Sulawesi. Real and magical narratives are two contradictory things, but united in a novel by Khrisna Pabichara, Natisha Persembahan Terakhir. The purpose of this study was to describe and explain the characteristics of magical realism related to tradition and modernism concept, and to know how the writer's surrounding influenced the delivery of voice that are considered marginal. This research used Wendy B. Faris theory about the five characteristics of magical realism and magical realism as defocalized narrative. These five characteristics are the irreducible element, the phenomenal world, unsettling doubts, merging realms and disruption of time, space and identity. The method used in this research was narrative descriptive method obtained through novel or another supporting references. While the technique of data analysis was making the classification of data based on the theoretical concepts used; then, looking for the relationship between the data of realism and magical based on five criteria and view the data with narrative tradition, folkloric or religous called Faris with remistification; lastly, observe social context the novel which are related to postcolonial and postmodernism concept, therefore it can be identified why the author often raised localities. From the research conducted, it was known that the novel Natisha Persembahan Terakhir meet the five elements presented by Wendy B. Faris. This novel can be categorized into a group of magical realism even though the magical and real positions have not been fully balanced, where Krishna Pabichara still shows doubt through the characters toward the magical event experienced emergence real and magic event together or defocalized narrative bring up decolonized space. The magical elements and traditions that exist in society are made up by the author as things that remain indispensable even though modernity has influenced the lives of societies and traditions that exist in society as an identity, this issues also related to postcolonial and postmodernism discourse.
Kata Kunci : Realisme Magis, Defokalisasi, Parakang, Tradisi, Sulawesi/Magical Realism, Defocalized, Parakang, Tradition, Sulawesi