Laporkan Masalah

Komodifikasi Parkir Perkotaan dan Implikasinya terhadap Legitimasi Grassroots Paty Leader: Studi Kasus Parkir Ngabean

HAFIZH JODI PRATAMA, Longgina Novadona Bayo, S.I.P., M.A.

2018 | Skripsi | S1 POLITIK DAN PEMERINTAHAN

Potongan kue dari bisnis pariwisata kota Yogyakarta diperebutkan oleh banyak pihak. Pengelola Tempat Khusus Parkir (TKP) Ngabean menjadi salah satunya. Lewat suatu proses komodifikasi, kepemilikan atas kelola tempat tersebut terbentuk disertai segala sesuatu untuk menjalankan proses produksi komoditas. Namun tempat tersebut memiliki keunikan yang terletak pada identitas para pekerja. Identitas tersebut terbentuk lewat afiliasi politik yang membawa mereka menjadi kelompok yang kuat di Kota Yogyakarta. Layaknya pengorganisasian partai politik, pemimpin muncul dari akar rumput yang menyatukan mereka dalam komoditas tersebut. Lalu, bagaimana komodifikasi parkir berpengaruh terhadap legitimasi grassroots party leader di massa partai politik Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Kota Yogyakarta? Menjawab rumusan masalah diatas, studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif studi kasus menggunakan sumber data dari hasil observasi, wawancara, serta data sekunder yang relevan. Analisis data dilakukan dengan mengintepretasikan data yang didapat dalam penelitian serta meninjau sumber data pustaka untuk memahami permasalahan. Studi ini menggunakan Konsep Komodifikasi dan Grassroots Party Leadership sebagai pisau analisis terhadap munculnya komoditas TKP Ngabean yang berhubungan dengan menguatnya seorang pemimpin akar rumput dibantu dengan dimensi-dimensi grassroots leadership untuk mengungkap peran seorang pemimpin. Keterkaitan antara kedua konsep yang digunakan dalam penelitian ini tampak memiliki keterkaitan, komoditas dengan grassroots party leadership. Nilai dalam komoditas dan dimensi dalam konsep kepemimpinan akar rumput bertemu dalam diri pekerja. Pekerja memiliki jaringan yang sama dengan pemimpin akar rumput partai yang kemudian termanifestasikan lewat peran pemimpin dalam dimensi pengorganisasian, meningkatkan kesadaran kelompok, serta menjadi juru bicara. Komodifikasi yang dimulai prosesnya dari Alun-Alun Utara, akhirnya menyeret orang-orang yang berada dalam jaringan pemimpin tersebut menjadi pekerjanya. Ada 'nilai' dalam diri pekerja yang sedikit banyak diabaikan oleh pemilik komoditas tersebut. Bukannya, menjadi sebuah proses perlawanan atas ketidak adilan tersebut, namun semua menjadi aman karena peran pemimpin akar rumput partai teraplikasikan dalam diri pekerja.

Pieces of pie from the tourism business of Yogyakarta city is contested by many parties. Special Place Parking Plans (TKP) Ngabean become one of them. Through a process of commodification, ownership of the management of the place where all things form to run the process of commodity production. But the place has a uniqueness that lies in the identity of the workers. The identity is formed through political affiliation that brings them into a strong group in the city of Yogyakarta. Like the organization of political parties, leaders emerge from the grassroots that unite them in the commodity. Then, how is the commodification of parking on the legitimacy of grassroots party leaders in the mass Partai Persatuan Pembangunan (PPP) political party in Yogyakarta City? Answering the problem formulation above, this study uses qualitative research method of case study using observation data source, interview, and relevant secondary data. Data analysis is done by interpreting the data available in the research and library data sources to understand the problem. This study uses the Concept of Commodification and Grass Roots Party Leadership as a barrier to strategy. The TKP Ngabean associated with the strengthening of a grassroots leader is aided by grassroots leadership dimensions to reveal the role of a leader. The linkages between the two concepts used in this study appear to have linkages, commodities with grassroots leadership. Value in commodities and dimensions in leadership concepts. Workers have the same network as grassroots leaders who are then manifested through the leader's role in organizing dimensions, raising group awareness, and becoming spokespeople. The commodities that started the process from the Alun-Alun Utara, eventually dragged the people within the network of leaders to become workers. There is a 'value' in the worker who, in a sense, is replaced by the owner of the commodity. Instead, it becomes a process of resistance to the injustice, but all become secure because of the role of the leader.

Kata Kunci : Commodification, Grassroots Leadership, Grassroots Leadership

  1. S1-2018-349938-abstract.pdf  
  2. S1-2018-349938-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-349938-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-349938-title.pdf