Modal Sosial dan Usaha Industri Tahu di Pedesaan (Studi di Desa Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah)
OKTAVIA PEBRIAWATI, Prof. Dr. Partini, S.U.
2018 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIIndustri tahu menjadi pilihan usaha masyarakat Desa Karangpandan, karena dirasa potensi dari masyarakat yang mayoritas adalah sebagai wirausaha. Letak Desa Karangpandan yang strategis yaitu dekat dengan pasar dan terminal, menjadi faktor pendorong untuk mengembangkan usaha ini, dengan alasan akan lebih mudah dalam proses pemasaran. Selain itu, permintaan pasar terhadap produk olahan tahu dari Desa Karangpandan, baik dari wilayah sekitar maupun dari luar daerah cukup menjanjikan. Selain berkontribusi sebagai penggerak ekonomi desa, keberadaan industri tahu di Desa Karangpandan juga berfungsi sebagai sumber mata pencaharian bagi masyarakat. Sehingga keberadaan industri tahu bermanfaat untuk mengurangi pengangguran khususnya di wilayah Desa Karangpandan. Fokus penelitian ini dibatasi dengan tujuan untuk mengetahui modal sosial yang dimiliki pengusaha industri tahu serta peran modal soaial dalam mengembangkan usaha. Di dalam penelitian ini menggunakan teori Modal Sosial untuk menganalisis modal sosial yang dimiliki pengusaha, serta peranan modal sosial untuk mengembangkan usaha berdasarkan di Desa Karangpandan. Jenis penelitian yang digunakan adalah dengan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik. Penelitian ini dilakukan dengan cara pengamatan, wawancara mendalam, dan penelaahan dokumen. Informan penelitian adalah pengusaha industri tahu di kawasan Desa Karangpandan, Karanganyar. Hasil penelitian menunjukkan adanya unsur-unsur modal sosial dan tipe-tipe modal sosial yang dimiliki pengusaha menjadi bagian penting sebagai pembentukan jaringan baik internal maupun eksternal untuk keberlangsungan usaha. Modal sosial yang dimiliki masing-masing pengusaha berperan sebagai penentu keberhasilan pengembangan usaha pada industri tahu di Desa Karangpandan.
The industry of tofu (or what the locals call tahu) has become the business choice of people in Karangpandan village. On of the reasons is majority people feel that their potency is to become a businessman. Karangpandan village is situated in strategic location, that is near with the market and the bus station. It has become one of the driving factors to develop this business, because it will be easier in the marketing process. Furthermore, the market demand of the processed product of tofu from Karangpandan village, either from surrounding area or from outside the region is pretty promising. Apart from contributing as a driver of economy in the village, the existence of this industry in the village also function as the source of living for society. Thus, it can reduce the number of unemployment especially in the region of the village. The constraint of this study is focusing on the aim to examine the social capital of the businessman and also the role of this social capital to develop the business. This study is using the theory of Social Capital to analyze the businessman who has social capital and its role to develop the business based of what occurs in Karangpandan village. This study is using qualitative method with analytic descriptive approach. The study is conducted with observation, in-depth interview, and document review. The informant is a businessman of tofu industry from Karangpandan village region, Karanganyar. The result shows the existence of social capital elements and social capital types of the businessman that becomes an important part as an internal and external network formation for the sustainability of the business. The social capital of the businessman plays a role a determinant of the success of the business development of tofu industry in Karangpandan village.
Kata Kunci : Industri Tahu, Modal Sosial, Pengembangan Usaha / Tofu Industry, Social Capital, Business Development