Hubungan Stres Dengan Kejadian Insomnia Pada Narapidana Wanita Di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIB Yogyakarta
DYAH WARIH RUS WULAN, Dr. Ibrahim Rahmat, S.Kp., S.Pd., M.Kes.; Sri Warsini, S.Kep., Ns., M.Kes., Ph.D.
2018 | Skripsi | ILMU KEPERAWATANLatar belakang: Angka kasus krimininalitas wanita setiap tahunnya semakin bertambah. Sebagai akibatnya jumlah narapidana wanita di lapas semakin bertambah. Perubahan status menjadi narapidana dan menjalani hukuman dalam rentang waktu yang cukup lama di lapas dapat menjadi stressor. Narapidana yang tidak mampu menghadapi stressor kemungkinan mengalami stres dan insomnia. Hal tersebut berdampak pada kesehatan fisik dan psikis yang menyebabkan rendahnya tingkat konsentrasi. Tujuan: Mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan kejadian insomnia pada narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIB Yogyakarta. Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik korelasional dengan rancangan crosssectional. Sampel adalah narapidana wanita yang masuk dalam kriteria sampel penelitian sebanyak 67 orang. Sampel diambil dengan teknik consecutive sampling. Uji Chi Square digunakan untuk mengetahui hubungan stres dengan kejadian insomnia. Hasil: Mayoritas responden (71,6%) mengalami stres rendah dan sebanyak 46,3% mengalami insomnia. Pada uji Chi Square, diperoleh nilai p-value sebesar 0,001. Hasil pengujian hipotesis menyatakan ada hubungan antara tingkat stres dengan kejadian insomnia pada narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIB Yogyakarta. Narapidana wanita yang memiliki tingkat stres tinggi cenderung memiliki peluang sebesar 7,5 kali untuk mengalami insomnia dibandingkan dengan narapidana wanita yang memiliki tingkat stres rendah (OR:7,500; 95% CI:2,137-26,325). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara stres dengan kejadian insomnia.
Background: The rate of female criminality cases increases every year. As a result, the number of female prisoners in prison also increases. A change of status to be a prisoner and a criminal sentence in a long period of time in prison can to be stressors. A prisoner who cannot cope with stressors may experience stress and insomnia. This has an impact on physical and psychological health disorders that will result in low levels of concentration. Objective: To identify the correlation between stress levels and incidence of insomnia in female prisoners in Female Prison Class IIB of Yogyakarta. Methods: This research is analytic correlational with cross-sectional design. Samples were female prisoners who met the criteria of the research sample, numbering 67 women. Samples were taken by using consecutive sampling technique. Chi Square test was used to identify the correlation between stress and incidence of insomnia. Results: The majority of respondents (71,6%) experienced low stress and 46,3% of respondents experienced insomnia. The results of Chi Square test, indicated pvalue of 0,001. The results of hypothesis testing indicated that there was a correlation between the stress levels and the incidence of insomnia in female prisoners at Female Prison Class IIB of Yogyakarta. The chance of female prisoners who had high stress level was 7,5 times higher for not experiencing insomnia than those who had low stress level (OR: 7,500; 95% CI: 2,137-26,325). Conclusion : There is a correlation between stress and incidence of insomnia.
Kata Kunci : kejadian insomnia, lapas, narapidana wanita, stres