Laporkan Masalah

Perencanaan Bisnis Tukang Indonesia

HENRIKUS BALZANO A, Dr. Hargo Utomo, MBA

2018 | Tesis | S2 Manajemen

Rencana bisnis PT Tukang Indonesia diajukan dalam kesempatan ini diciptakan dengan gagasan bahwa saat ini Indonesia mengalami permasalahan sosial dibidang pembangunan infrastruktur di Indonesia, banyak infrastruktur dan bangunan di Indonesia menjadi tidak maksimal dalam pengerjaannya sehingga value yang ingin didapatkan tidak bisa sesuai harapan. Tukang Indonesia melihat hingga saat ini pembangunan yang ada belum memaksimalkan infrastruktur dan bangunan tersebut, baik dari sisi fungsional maupun value yang dimiliki. Salah satu alasan adalah tidak adanya tenaga kerja yang mumpuni sehingga dalam pembangunan diperlukan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan di masyarakat. Tukang Indonesia menghubungkan secara langsung tukang dengan konsumen melalui suatu platform yang memaksimalkan efisiensi dan efektivitas. Rencana ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan pasar akan tukang terlatih dan mengetahui penerapan nyata akan proses sertifikasi yang ada yang kemudian akan di implementasikan di dalam start-up baru yang bisa mengembangkan dan membantu tukang untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif. Pada penelitian ini, teknik pengumpulan data di lakukan dengan cara observasi, wawancara dan pengamatan langsung ke responden yaitu mandor, tukang, LPJKN dan pemilik proyek di Yogyakarta. guna mendapatkan informasi yang lebih detail mengenai kebutuhan pasar akan tukang, dan kompetensi tenaga kerja tukang berdasarkan standar kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI) serta pengetahuan mereka mengenai sertifikasi yang dikeluarkan oleh LPJKN Dalam rencana bisnis ini menunjukkan bahwa pangsa pasar di Indonesia akan kebutuhan tukang sangat tinggi namun tenaga kerja tukang belum bisa bersaing di dalam negeri maupun ASEAN, hal ini disebabkan kurangnya kesadaran akan pentingnya sertifikasi untuk memperjelas kompetensi tenaga kerja tukang. Peran LPJKN sebagai satu-satunya lembaga pengembangan tenaga kerja tukang belum maksimal ini dapat dilihat dari masih banyaknya ketidakpahaman para tukang dalam memperoleh sertifikasi dan banyaknya tukang yang memperoleh bayaran tidak sesuai dengan standar yang ada. Demi pengembangan tukang diperlukannya kerja sama untuk setiap stakeholder yang ada di dalam suatu kelembagaan demi meningkatkan kompetensi dan produktivitas tukang serta membantu tukang untuk mempermudah dalam mendapatkan pekerjaan.

The business plan of Tukang Indonesia submitted on this occasion was created with the idea that Indonesia is currently experiencing social problems in the field of infrastructure development in Indonesia, many infrastructure and buildings in Indonesia are not maximized in the process so that the value to be obtained can not match expectations. Tukang Indonesia saw to this day that the existing development has not maximized the infrastructure and the building, both in terms of functional and value owned. One of the reasons is the absence of a qualified workforce so that in the development of the required workforce that has the competence in accordance with the needs in the community. The Indonesian merchant directly connects the handyman with the consumer through a platform that maximizes efficiency and effectiveness. The plan aims to find out the market needs of trained workers and find out the real application of existing certification processes which will then be implemented in new start-ups that can develop and help the builders to gain a better life. In this study used qualitative methods. In this research, data collection technique is done by observation, interview and direct observation to the respondent ie the foreman, artisan, LPJKN and project owner in Yogyakarta. in order to obtain more detailed information about the market needs of artisans, and the competence of labor workers based on Indonesian national competence standards (SKKNI) and their knowledge of the certification issued by LPJKN In this business plan shows that the market share in Indonesia will be very high needs of workers but the workforce of artisans have not been able to compete in the country and ASEAN, this is due to lack of awareness of the importance of certification to clarify the competence of workers. The role of LPJKN as the only manpower development institution has not been maximized can be seen from the many unfamiliarities of the builders in obtaining certification and the number of workers who get paid does not comply with existing standards. For the development of artisans the need for cooperation for every stakeholder in an institution to improve the competence and productivity of artisans as well as helping artisans to facilitate in getting a job.

Kata Kunci : tukang, kompetensi, produktivitas, daya saing, mobile application, kelembagaan, LPJKN, Standardisasi, NPV, IRR

  1. S2-2018-402226-abstract.pdf  
  2. S2-2018-402226-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-402226-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-402226-title.pdf