Laporkan Masalah

persepsi siswi sltp yang mendapat tablet tambah darah 1 tablet 1 minggu sebelum dan sesudah dilakukan narrative in action

ASWITA DAMAYANTI, dr. Mora Claramita, MHPE, Ph.D

2018 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Klinik

Latar Belakang :Prevalensi anemia di dunia sangat tinggi, terutama di negara-negara sedang berkembang, termasuk Indonesia. Menurut World Health Organization (WHO) (2013), prevalensi anemia dunia berkisar 40-88%. Menurut Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS) tahun 2013, prevalensi anemia tertinggi di Indonesia ditemukan pada kelompok remaja perempuan usia 15-19 tahun sebesar 38,5%. Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2012 menyatakan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri usia 10-18 tahun sebesar 57,1% dan usia 19- 45 tahun sebesar 39,5%. Angka kejadian anemia di Jawa Tengah pada tahun 2013 mencapai 57,1%. Wanita mempunyai risiko terkena anemia paling tinggi terutama pada remaja putri. Pemberian TTD sangatlah penting bagi remaja putri, mengingat seorang remaja putri mengalami menstruasi setiap bulannya, sedang dalam masa pertumbuhan dan kurangnya asupan zat gizi terutama zat besi, Untuk itu, penting bagi remaja putri untuk selalu minum TTD untuk mencukupi kebutuhan zat besi sehingga tidak menimbulkan anemia yang berakibat lemah, letih, lelah, gangguan konsentrasi dan mudah sakit. Namun, dalam kenyataannya, didapatkan sejumlah remaja putri yang sudah tidak mau minum TTD dengan berbagai macam hambatan dan kendala yang dialaminya. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswi SLTP yang mendapat TTD 1 tablet 1 minggu sebelum dan sesudah dilakukan narrativ in in action di Sekolah SLTP wilayah kerja Kecamatan Kaligesing Metode: Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan narrative in action. Pengambilan data primer dilakukan dengan fokus group discussion. Sampel yang digunakan Sebanyak 22 sampel yang dibagi kedalam 2 kelompok, 1 kelompok terdiri dari 10-12 orang. Hasil dari FGD akan dilakukan transkripsi, kemudian hasil transkripsi tersebut dibaca dan dianalisis. Kriteria inklusi peserta penelitian ini adalah siswi SLTP yang sudah tidak mau minum TTD lagi. Pengumpulan data primer dilakukan melalui FGD kepada subjek penelitian. FGD dilakukan 2 kali, yaitu sebelum dan sesudah dilakukan narrative in action. Sesudah narrative in action peserta diberi perlakukan minum TTD selama 4x (1 tablet 1 minggu). Pengawasan minum TTD dilakukan oleh petugas kesehatan. Hasil Penelitian: Hasil dari penelitian ini adalah didapatkan persepsi siswi SLTP yang mendapat tablet tambah darah sebelum dilakukan narrative in action adalah siswi lebih tegang, takut akan efek samping yang ditimbulkan oleh TTD seperti mual, pusing dan lemas. Semua siswi dalam penelitian ini merasakan efek samping TTD seperti mual, pusing dan lemas. Siswi menganggap minum TTD itu penting, namun tidak mau minum karena efek samping dari TTD. Siswi tidak mau minum TTD lagi karena efek samping yang ditimbulkan TTD, tidak mempunyai motivasi untuk minum TTD, siswi hanya mengetahui anemia dan gejalanya. Persepsi siswi SLTP setelah dilakukan narrative in action adalah siswi lebih relaks dan santai ketika minum TTD karena siswi tahu cara mengantisipasi ketika keluhan efek samping tersebut muncul, masih ada beberapa siswi yang merasakan efek samping TTD (mual, pusing, lemes) namun keluhan yang dirasakan lebih singkat dan kualitas menurun dari minggu ke minggu, bahkan ada yang sudah tidak merasakan keluhan. Siswi menganggap penting minum TTD, karena manfaatnya banyak. Siswi masih mau minum TTD walaupun merasakan efek samping TTD karena siswi mengatahui manfaat dari TTD bahkan sudah ada yang merasakan manfaatnya. Siswi mempunyai motivasi untuk mendapat nilai yang bagus, menjadi lebih segar, menjadi lebih cantik dan sehat. Selain mengetahui anemia dan gejalanya siswi juga mengerti bahaya anemia, cara mengatasi anemia dan manfaat TTD. Kesimpulan dan Saran: Persepsi siswi SLTP sebelum dilakukan narrative in action berbeda dengan persepsi siswi SLTP yang sudah dilakukan narrative in action sehingga dalam hal ini panduan narrative in action yang dibuat oleh peneliti dapat digunakan untuk program pemberian TTD ini, sehingga siswi-siswi yang semula tidak mau minum TTD menjadi mau kembali minum TTD. Penelitian ini mempunyai kekurangan yaitu petugas UKS di sekolah yang mengawasi jalannya minum TTD setiap 1 minggu juga perlu digali persepsinya terhadap program tersebut sehingga, nantinya nanti menunjang keberhasilan program dan mengurangi bias penelitian

Background: The prevalence of anemia in the world is very high, especially in developing countries, including Indonesia. According to the World Health Organization (WHO) (2013), the prevalence of world anemia ranges from 40-88%. According to Basic Health Research (RIKESDAS) in 2013, the highest prevalence of anemia in Indonesia is found in groups of girls aged 15-19 years at 38.5%. Data on Household Health Survey (SKRT) in 2012 stated that the prevalence of anemia among girls aged 10-18 years was 57.1% and age 19- 45 years was 39.5%. The incidence of anemia in Central Java in 2013 reached 57.1%. Women have the highest risk of anemia, especially in young women. Giving TTD is very important for young women, considering a teenage daughter has menstruation every month, is in the period of growth and lack of nutrient intake, especially iron, For that, it is important for young women to always drink TTD to meet the needs of iron so as not to cause anemia which results in weakness, fatigue, fatigue, impaired concentration and pain. However, in reality, there were a number of young women who did not want to drink TTD with various obstacles. Research : This study aims to determine the perception of junior high school students who received TTD 1 tablet 1 week before and after done narrativ in in action at SLTP school work area Kaligesing Subdistrict Method : This research is a qualitative research with narrative in action approach. Primary data collection is done with focus group discussion. The sample used A total of 22 samples were divided into 2 groups, 1 group consisted of 10-12 people. The results of the FGD will be transcribed, then the result of the transcription is read and analyzed. The inclusion criteria of this study participants are junior high school students who do not want to drink TTD anymore. Primary data collection was done through FGD to the research subjects. The FGD is performed twice, ie before and after the narrative in action. After narrative in action the participants were treated to drink TTD for 4x (1 tablet 1 week). TTD drinking supervision is performed by health workers. Research Result: The result of this research is got the perception of junior high school students who get tablets added blood before done narrative in action is tenser student, fear of side effect caused by TTD like nausea, dizziness and weakness. All the students in this study felt the side effects of TTD such as nausea, dizziness and weakness. Students consider taking TTD is important, but do not want to drink because of side effects from TTD. Students do not want to drink TTD again because of side effects caused by TTD, no motivation to drink TTD, girls only know the anemia and its symptoms. The perception of junior high school students after doing narrative in action is that students are more relaxed and relaxed when drinking TTD because the students know how to anticipate when the side effect complaint arises, there are still some students who feel the side effects of TTD (nausea, dizziness, lemes) short and quality decreased from week to week, some even had no complaints. Students consider it important to drink TTD, because the benefits are many. Students still want to drink TTD despite the side effects of TTD because students know the benefits of TTD even already there who feel the benefits. Students have the motivation to get good grades, become more fresh, be more beautiful and healthy. In addition to knowing the anemia and symptoms female students also understand the dangers of anemia, how to overcome anemia and the benefits of TTD. Conclusions and recommendations: The perception of junior high school students before doing narrative in action is different from the perception of junior high school students who have done narrative in action so that in this case narrative in action guide made by researchers can be used for this TTD program, so that the students who originally did not want to drink TTD become want to go back to drinking TTD. This study has a shortage of UKS officers in schools who supervise the TTD drinking process every 1 week also need to be explored perception of the program so that, later it will support the success of the program and reduce the bias of research

Kata Kunci : Anemia, Narrative in action, Perception, tablet FE

  1. S2-2018-388010-abstract.pdf  
  2. S2-2018-388010-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-388010-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-388010-title.pdf