HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH, USIA DAN JENIS KELAMIN DENGAN HIPERTENSI PADA REMAJA OBESITAS UMUR 13-15 TAHUN DI YOGYAKARTA
DELVIRA ANGGRAINI, dr. Neti Nurani, M.Kes, Sp.A(K); dr. Retno Palupi, B.Med.Sc., M.Epid, M.Sc., Sp.A
2017 | Skripsi | S1 PENDIDIKAN DOKTERLatar Belakang: Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan yang melibatkan semua umur di seluruh dunia. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi obesitas mengalami peningkatan yang signifikan jika dibandingkan data menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2010 dimana prevalensi berat badan lebih dan obesitas pada remaja berumur 13-15 tahun dan 16-18 tahun adalah berturut-turut meningkat sebanyak 8,3% dan 5,7%. Obesitas diasosiakan sebagai faktor risiko berbagai penyakit metabolik termasuk hipertensi. Karena tingginya prevalensi sindroma metabolik termasuk hipertensi pada remaja dengan obesitas, diperlukan adanya screening, tatalaksana dan pencegahan sedini mungkin. Pengukuran antropometri yaitu indeks massa tubuh merupakan alat screening obesitas pada anak maupun dewasa. Tujuan: Mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh, usia dan jenis kelamin dengan hipertensi pada remaja obesitas umur 13-15 tahun di Yogyakarta. Metode: Data didapatkan dari 127 remaja obesitas usia 13-15 tahun di sebelas SMP di Yogayakarta. Data demografi dikumpulkan dengan kuisioner. Berat badan diukur dengan timbangan injak digital, tinggi badan diukur dengan stadiometer dan tekanan darah diukur dengan sfigmomanometer raksa. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan metode potong lintang. Hasil: Diantara 127 remaja obesitas, sebesar 54,3% menderita hipertensi sistolik dan 58,3% menderita hipertensi diastolik. Hubungan antara indeks massa tubuh, usia dan jenis kelamin dengan kejadian hipertensi sistolik tidak signifikan. Hubungan antara indeks massa tubuh dan jenis kelamin dengan kejadian hipertensi diatolik signifikan. Remaja dengan klasifikasi indeks massa tubuh superobesitas 3,38 kali lebih berisiko untuk hipertensi diastolik dibanding remaja obesitas (ORs [95% CIs]: 3,38 [1,06-10,78]). Remaja perempuan 2,4 kali lebih berisiko untuk hipertensi dibanding laki-laki (ORs [95% CIs]: 2,4 [1,13-5,09]). Tidak didapatkan hubungan yang signifikan antara usia dan kejadian hipertensi diatolik. Kesimpulan: Prevalensi kejadian hipertensi sistolik dan diastolik pada remaja obesitas umur 13-15 tahun di Yogyakarta berturut-turut 54,3% dan 58,3%. Penelitian ini tidak dapat membuktikan bahwa indeks massa tubuh, usia dan jenis kelamin berhubungan secara signifikan dengan kejadian hipertensi sistolik pada remaja obesitas umur 13-15 tahun di Yogyakarta. Pada penelitian ini didapatkan bahwa indeks massa tubuh dan jenis kelamin berhubungan secara signifikan dengan kejadian hipertensi diastolik pada remaja obesitas umur 13-15 tahun di Yogyakarta namun tidak dapat membuktikan bahwa usia berhubungan secara signifikan dengan kejadian hipertensi diastolik pada remaja obesitas umur 13-15 tahun di Yogyakarta.
Background: Obesity is one of health problems that involves people of all ages. According to Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) that was conducted in 2013, its prevalence was significantly increased when compared to Riskesdas conducted in 2010. In 2010, the percentages of obesity for adolesence aged 13-15 and 16-18 were 8.3% and 5.7% respectively. Obesity is associated as a risk factor for several metabolic disease including hypertension. Thus, it is important to conduct screening, management, and prevention as soon as possible. Anthropometric measurement such as body mass index (BMI) can be used as a tool for screening. Objective: To determine the correlation between BMI, age, and gender with hypertension in obese adolesences aged 13-15 years old in Yogyakarta. Method: Data was collected from 127 obese adolescences aged 13 -15 years old in eleven junior high school in Yogyakarta. Demographic data was obtained using a standarized quistionnaire. The measurement of the subjects involves weight, height and blood pressure. The design of this study was a cross-sectional and descriptive analytic study. Results: Among 127 obese adolescences, 54.3% had systolic hypertension and 58.3% had diastolic hypertension. The association between BMI, age, and gender with the occurrence of systolic hypertension was not significant whereas the association of BMI and gender with the occurrence of diastolic hypertension was significant. Adolescences who were classified as superobese in BMI classification were 3.38 times more likely to have diastolic hypertension rather than obese adolescences (ORs [95% CIs]: 3,38 [1,06-10,78]]. The risk of girls having hypertension were 2.4 times more likely when compared to boys (ORs [95% CIs]: 2,4 [1,13-5,09]). There was no significant association between age and the occurrence of diastolic hypertension. Conclusions: The prevalences of systolic hypertension and diastolic hypertension in obese adolescences ages 13 - 15 years old in Yogyakarta were 54,3% and 58,3%. This study was not able to prove that body mass index, age and sex correlate significantly with systolic hypertension in obese adolesences aged 13-15 years old in Yogyakarta. This study proved that body mass index and sex correlate significantly with diastolic hypertension in obese adolesences aged 13-15 years old in Yogyakarta. This study was not able to prove that age correlate significantly with diastolic hypertension in obese adolesences aged 13-15 years old in Yogyakarta.
Kata Kunci : Indeks Massa Tubuh, Usia, Jenis Kelamin, Hipertensi, Remaja, Obesitas