Laporkan Masalah

ANALISIS BIAYA POKOK KERETA API DIESEL SEBAGAI DASAR PENETAPAN TARIF (STUDI KASUS : KERETA PERKOTAAN MAGELANG-YOGYAKARTA-BANTUL)

GUNTUR PURBO ANGGORO, Prof. Ir. Sigit Priyanto, M.Sc., Ph.D

2017 | Skripsi | S1 TEKNIK SIPIL

Salah satu upaya mengurangi tingkat kepadatan jalan adalah dengan mengalihkan pemakaian angkutan pribadi ke angkutan umum. Kajian pengadaan KA perkotaan Magelang-Yogyakarta-Bantul direncanakan menjadi alternatif dalam mengurangi tingkat kemacetan dan melayani kegiatan transportasi masyarakat baik dari daerah utara atau selatan Yogyakarta. Beberapa penelitian sebelumnya telah mengkaji mengenai permintaan perjalanan dan perencanaan operasi serta rute KA Perkotaan Magelang-Yogyakarta-Bantul. Penelitian mengenai pembiayaan dan pendapatan sejauh ini belum pernah dilakukan. Penelitian ini akan melanjutkan penelitian - penelitian sebelumnya yang bertujuan untuk menganalisis komponen biaya pokok kereta api untuk KA Perkotaan Magelang-Yogyakarta-Bantul. Biaya pokok ini nantinya akan digunakan sebagai dasar penetapan tarif yang akan dibebankan kepada penumpang. Pada penelitian ini perhitungan biaya pokok untuk semua rute rencana mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 69 Tahun 2014 tentang pedoman perhitungan dan penetapan tarif angkutan orang dengan kereta api. Perhitungan biaya pokok menggunakan data dari PT KAI DAOP VI Yogyakarta dan diolah menggunakan software Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besar tarif dasar untuk skenario 1 rute utara dan rute selatan serta skenario 2 rute utara-selatan dan rute selatan berturut-turut sebesar Rp 258,84/pnp.km, Rp 620,71/pnp.km, Rp 266,78/pnp.km dan Rp 492,28/pnp.km. Tarif jarak untuk keempat rute tersebut berturut-turut sebesar Rp 9.732,43/pnp, Rp 16.566,67/pnp, Rp 17.151,56/pnp, dan Rp 13.138,94/pnp. Komponen yang dominan diantaranya biaya penyusutan sarana, biaya penggunaan prasarana serta biaya perawatan sarana. Perbedaan tarif tiap rute terjadi karena berbagai faktor seperti harga perolehan sarana, jarak tempuh, jumlah penumpang dan utilisasi sarana. Penelitian ini juga memberikan saran dalam penetapan tarif yaitu dengan perlunya melengkapi data dari pihak yang bekerjasama dengan PT KAI serta agar dilakukan penelitian lanjutan tentang Ability to Pay (ATP) dan Willingness to Pay (WTP) agar tarif yang nantinya diberlakukan lebih sesuai dengan kondisi masyarakat.

An effort to reduce road density is to transfer the use of private transport to public transport. The study of the procurement of urban railway Magelang-Yogyakarta-Bantul is planned to be an alternative in reducing the congestion level and serving the transportation activities of the community either from the north or south of Yogyakarta. Several previous studies have examined the demand for travel and operation planning as well as the Magelang-Yogyakarta-Bantul Urban Railway route. Research on financing and income so far has never been done. This research will continue the previous research which aims to analyze the cost component of railway for Magelang-Yogyakarta-Bantul Urban Railway. These basic costs will be used as the basis for determining the tariffs to be charged to passengers. In this study the calculation of the basic cost for all route plans refers to the Minister of Transportation Regulation no. PM 69 of 2014 on guidance on calculating and determining freight rates for people by train. The calculation of basic cost using data from PT KAI DAOP VI Yogyakarta and processed using Microsoft Excel software Based on the result of analysis, the basic tariff for scenario 1 of north and south route and scenario 2 of north-south route and south route are Rp 258,84 / pnp.km, Rp 620,71/pnp.km, Rp 266,78/pnp.km and Rp492,28/pnp.km. The distance tariff for the four routes is Rp 9.732,43/pnp, Rp 16.566,67/pnp, Rp 17.151,56/pnp, and Rp 13.138,94/pnp, respectively. The dominant components include the cost of depreciation of facilities, the cost of infrastructure use and the cost of facilities maintenance. The difference in tariffs for each route occurs due to various factors such as the price of the facility, the distance, the number of passengers and the utilization of the facilities. This research also gives suggestion in tariff determination that is with the necessity to complete data from party cooperating with PT KAI and to do further research about Ability to Pay (ATP) and Willingness to Pay (WTP) for tariff which later applied more appropriate with society condition.

Kata Kunci : kereta perkotaan, biaya pokok, KRD, tarif, rute

  1. S1-2017-346723-abstract.pdf  
  2. S1-2017-346723-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-346723-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-346723-title.pdf