KRITISISME RUANG PUBLIK : Identitas Seniman Mural di Kota Yogyakarta
JAGAD HIDAYAT JATI, Derajad Sulistyo Widhyharto, S.Sos., M.Si.
2017 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIRuang publik pada hakikatnya bersifat demokratis dan diperuntukkan untuk seluruh lapisan masyarakat guna mengartikulasikan segala kebutuhannya. Namun pada perkembangannya di Kota Yogyakarta ruang publik seakan diokupasi oleh pihak-pihak pemegang kuasa saja. Mural sebagai salah satu anggota keluarga street art hadir di tengah-tengah ruang publik membawa nilai-nilai yang lekat dengan masyarakat pada tiap masanya. Nilai-nilai tersebut membawa identitas kritisisme sang seniman mural. Mereka mampu mengungkap aspek dominasi di balik kenyataan yang terjadi. Mural street art melawan kondisi tersebut untuk menjaga kondisi demokratisnya ruang publik. Selain itu mural membuat para pemirsanya untuk terpengaruhi pikirannya, menciptakan gerakan, mau pun melahirkan kebijakan. Penelitian ini sendiri mencoba mengungkap konstruksi identitas kritisisme seniman mural yang ada di balik fenomena tersebut. Serta ditelusuri pula konfigurasi mural yang mereka lakukan sehingga identitas kritisisme mereka bisa mencuat di permukaan ruang publik Kota Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan dalam kerangka kualitatif dengan pendekatan following dan visual methodology pada 6 orang seniman mural sebagai aktor. Mereka semua telah menetap di Yogyakarta dan terkenal atas identitas kritisismenya. Peneliti mengikuti aktor pada kegiatan sehari-harinya untuk menggali data mengenai 3 aspek: medium, isu, dan aktor itu sendiri. Kritisisme yang terimplementasi pada mural baru kemudian dikupas secara visual untuk digali situs produksinya, makna mural, dan bagaimana mural tersebut di mata pemirsa. Mural turut berdinamika mengiringi kondisi masyarakat di setiap masanya. Hal ini adalah wujud kritisisme seniman mural yang dikonstruksikan identitasnya lewat aspek material dari jaringan aktivitas sosial serta perspektif atas lingkungan. Perspektif tersebut mengantarkan seniman mural untuk menciptakan ruang alternatif dari kondisi �harapan� dan �kenyataan� berupa mural di tembok jalanan. Pada konfigurasi penciptaan mural, pada akhirnya mural menjadi ruang representatif yang dapat dimaknai secara simbolik hingga dimaknai pemirsanya dengan bermacam-macam reaksi. Seperti terlahirnya gerakan sosial, kebijakan baru, atau memicu dinamika ruang publik. Para seniman mural memilih berbagai posisi dalam konfigurasinya guna menghadapi pemilik kepentingan lain. Bisa melengkapi, menyerang, mau pun membuka celah baru. Siasat kolaboratif juga digunakan untuk memperkuat kritisisme mereka. Kritisisme telah dijunjung sebagai identitas kolektif seniman mural di Yogyakarta.
Public space in its essential origin had a democratic attribute and devoted to all society in order to articulate their needs. However, public space development in Yogyakarta City seems to be only occupied by the peoples who have a power. Mural as one of the street art family members appeared in the middle of public space to bring up-to-date values that are attached to society. These values contain a criticism identity of mural artist. They were able to uncover the aspect of dominance behind the reality. Street art mural against that conditions to maintain democratic attribute of public space. In addition, mural influencing their viewer�s thoughts, even turn to creating a movements or made a policies. This research tried to uncover the construction of mural artist�s criticism identity behind this phenomenon. And also traced the mural configuration that made their criticism identity can stick out on the surface of Yogyakarta's public space. This research was conducted in a qualitative framework with following and visual methodology on 6 mural artists as actors. They were settled in Yogyakarta and renowned for their criticism identity. Researcher follow the actors in their daily activities to explore data on three aspects: medium, issues, and actors themselves. Implemented criticism in a mural was visually peeled for digging the site of its production, the meaning of the mural, and how mural in the eyes of viewers was. Every time, mural was dynamically escorting the society condition. This is a criticism form of mural artists who had their identity constructed by material aspects from social activities network and environmental perspective. These perspective leads the mural artists to create an alternative space from the 'hope' and 'reality' conditions with a mural on the street wall. In the configuration of mural creation, at the end mural becomes a representative space which can be symbolically interpreted and by its audiences with various reactions. Such as the rise of a social movement, a new policy, or triggering the dynamics of public space. Mural artists choose various positions in their configuration to deal with other stakeholders. They can be complementing, attacking, nor opening a new spot. A collaborative strategy was also used to strengthen their criticism. Criticism has been upheld as the collective identity of mural artists in Yogyakarta
Kata Kunci : Ruang Publik, Mural, Kritisisme, Identitas