Pulau Buru Tanah Air Beta: Sebuah Kajian Postmemory
ADITYA ADINEGORO, Prof. Dr. Faruk
2017 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan MediaFilm Pulau Buru Tanah Air Beta merupakan film dokumenter yang mengangkat peristiwa pasca G30S 1965, secara khusus peristiwa penahanan para tapol di Pulau Buru. Film ini turut menambah jumlah karya-karya dari generasi muda, terutama karya film dokumenter, yang menunjukkan minat dalam membicarakan persoalan isu yang terkait dengan para korban dan penyintas. Film ini disutradarai oleh Rahung yang mewakili generasi yang tidak mengalami peristiwa traumatis tersebut secara langsung. Persoalan kesenjangan antar generasi menjadi fokus utama dalam melihat karya ini. Penelitian ini menggunakan teori postmemory dari Marianne Hirsch untuk menganalisis pola transmisi afiliatif dan rekonstruksi yang dilakukan oleh Rahung dalam film Pulau Buru Tanah Air Beta. Penelitian ini menggunakan metode peneltian kualitatif dalam mengumpulkan dan menganalisis data penelitian. Dalam penelitian ini, Rahung sebagai sutradara film melakukan bentuk-bentuk repetisi atas obyek-obyek bangunan masa lalu di Pulau Buru yang mengarahkan pada figurisasi memori dan pelupaan serta membawakan narasi dari para eks-tapol sebagai tokoh protagonis yang berbeda dari narasi sejarah Orde baru. Rahung juga melakukan rekontekstualisasi atas images arsip-arsip visual. Rekontekstualisasi tersebut merupakan bentuk strategi Rahung guna merekonstruksi images tentara sebagai perpetrator dan tapol sebagai korban. Rahung juga melakukan identifikasi kepada Ken sebagai anak dari mantan tapol yang membuka kemungkinan keterlibatan yang serupa sebagai sesama generasi muda dalam memandang dan memperbaiki masa lalu yang traumatis itu. Rahung mencoba untuk merasakan dirinya sebagai Ken sang anak perempuan dalam bingkai narasi keluarga, maupun dalam narasi Ken sebagai generasi muda bangsa, sehingga ia dapat merasakan pengalaman traumatis yang dialami Ken sebagai pengalamannya, meskipun tidak pernah mengalaminya secara langsung.
Pulau Buru Tanah Air Beta is a documentary film that related to the event of post G30S 1965 incident in Indonesia, specifically the events of the detention of the prisoners on the island of Buru. This film also adding the number of works from the younger generation, especially the work of the documentary, which shows an interest in discussing issues related to the victims and survivors. The film is directed by Rahung Nasution which represents a generation that did not experience the traumatic events directly. The issue of the gap between the generations became the primary focus in seeing this work. This research using the postmemory's theory of Marianne Hirsch to analyze patterns of affliative transmission and reconstruction which is done by Rahung in the film of Pulau Buru Tanah Air Beta. This research using qualitative research methods in collecting and analysing the research data. In this research, Rahung, as the film director, do forms of repetition over the objects of building form the past on the Buru Island which is led to figurative of memory and forgetting and also bring the narration of the ex-tapol's as the protagonist which is different from the historical narration of Orde Baru regime. Rahung also conducted recontextualization over images of visual archives. The recontextualization is a form of Rahung's strategy to reconstruct images of soldiers as perpetrator and ex-prisoners as victim. Rahung also undertook the identification to Ken, the daughter of ex-prisoners that opens the potential of similar involvement as a fellow the younger generation in viewing and fixing that traumatic past. Rahung try to take himself as Ken the daughter in a narrative family frame, and in a narrative as Ken as the young generation of the nation, so that he could feel Ken's traumatic experience as his experience, which is not he experienced it directly.
Kata Kunci : postmemory, transmisi, rekonstruksi, film dokumenter, Peristiwa Pulau Buru