Laporkan Masalah

Wacana Interaksional pada Prosesi Adat Motolobalango Masyarakat Gorontalo

RAHMAN T DAKO, Dr. Suhandano, M.A; Dr. Anna Marie Wattie

2017 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora

INTISARI Secara kontekstual prosesi adat motolobalango merupakan bagian dari prosesi adat pernikahan dan upaya mempermulus jalan menuju pernikahan. Prosesi adat ini membentuk wacana interaksional yang memperhatikan relasi sosial dan peran antara LDL dan LDW menurut konteks budaya masyarakat Gorontalo. Tujuan penelitian ini terbagi atas dua tujuan, yakni tujuan umum dan khusus. Tujuan umum penelitian ini adalah memberikan pemahaman secara komprehensif tentang wacana interaksional pada prosesi adat motolobalango, di samping untuk pengembangan dan pelestarian bahasa Gorontalo. Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk menjelaskan struktur wacana, karakteristik kebahasaan dan mengungkap nilai-nilai Filosofis yang terkandung dalam wacana interaksional pada prosesi adat motolobalango. Data penelitian ini adalah data kualitatif yang berasal dari aspek dan tingkah laku masyarakat (Gorontalo) dalam kehidupan sehari-hari. Data utama adalah tuturan (lisan) sebagai sebuah wacana dari interaksi LDL dan LDW selama prosesi adat motolobalango. Data diperoleh melalui metode observasi dan wawancara. Dengan memanfaatkan analisis wacana melalui kajian etnografi komunikasi berupa unit-unit interaksi yang disebut Hymes dengan ‘nested hierarchy (hirarki lingkar), yaitu situasi tutur, peristiwa tutur dan tindak tutur untuk menganalisis struktur dan karakteristik tuturan, serta mengungkap nilai-nilai Filosofisnya. Hasil penelitian ini adalah: 1) struktur wacana terdiri dari tiga bagian: pembukaan, isi dan penutup yang masing-masing bagian memperlihatkan kepaduan hubungan dalam ikatan tuturan yang melahirkan kebermaknaan wacana, 2) Karakteristik kabahasaan sebagai sebuah ketrampilan seni verbal yaitu, cara membuka dan menutup bersifat konvensional, gaya formalnya berupa: harmonisasi vokal, konsonan, dan paralelisasi bentuk, dan bersifat figuratif seperti metafora, hiperbola, litotes, dan analogi. Karakteristik yang disebutkan ini adalah penanda sebuah ungkapan perasaan yang tersampaikan lewat tuturan LDL dan LDW., 3) Benda-benda budaya juga memiliki fungsi dan makna pada prosesi adat motolobalango. Benda-benda budaya itu adalah tonggu, toyunga bilalango, kati, maharu, tapahula, pomama, tembe-luhuto, dan ayua. Ayua terdiri dari limu bali, nanati, patode, langge, dan tumula, 4) Nilai hakikat hidup manusia ada dalam nilai manfaat atau kegunaan sebuah ritual/kegiatan sebagai nilai Filosofis. Prosesi adat motolobalango mengandung nilai-nilai Filosofis yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dua belas nilai Filosofiss wacana interaksional pada prosesi adat motolobalango meliputi nilai ketuhanan, ibadah, keihklasan, tanggungjawab, penghormatan, amanah, toleransi, permusyawaratan, kekuasaan, historis, estetis, dan nilai edukasional. Nilai-nilai ini dapat mengilustrasikan pandangan masyarakat Gorontalo tentang pernikahan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dalam struktur, karakteristik kebahasaan dan nilai-nilai Filosofis, baik LDL maupun LDW memiliki derajat pemahaman yang sama, memiliki pola yang terstruktur, memiliki sistem yang baku dalam tindakan dan pemaknaan kode-kode khusus, dan keduanya memiliki pengetahuan dalam memahami kode-kode khusus tersebut.

ABSTRACT The traditional procession of motolobalango is contextually a part of traditionally procession of marriage and the attempt to smouth out the road to marriage. This traditional procession forms an interactional discourse that takes into consideration social dan role relation between LDL and LDW according to the cultural context of Gorontalo society. The aims of the research are divided into two aims, namely general and specific aims. The general aim is to give understanding comprehensively about interactional discourse in traditional process of motolobalango, beside to development and preservation of Gorontalo language. The specific aims are to explain discourse structure, the language characteristics, and to reveal philosophy values in interactional discourse in traditional process of motolobalango. The research data is qualitatively data that comes from aspect and behavior of society (Gorontalo) in daily life. The primer data are oral speech as a discourse of interaction of LDL and LDW in traditional process of motolobalango. The data, then, are collected through observation and interview. By implementation of discourse analysis in ethnography of communication, the data are then analyzed by using Hymes’ nested hierarchy those are speech situation, speech event and speech act to analyze structure and characteristics of language, and to reveal philosophical values. The result of the research shows: 1) structure of discourse consists of introduction, content, and closing that every part shows meaningful of cohesion and coherent relationship in discourse, 2) characteristics of language is performance as display of verbal artistry forms, which have special codes such as, conventional opening and closing statements, formal stylistic such as vowels and consonants harmony, and forms, figurative language such as metaphor, hyperbola, litotes, analogy. These characteristics are as signal of expression through dialogs of LDL and LDW, 3) Cultural devices are also have function and meaning in in traditional process of motolobalango. The cultural devices are tonggu, toyunga bilalango, kati, maharu, tapahula, pomama, betel nut, and ayua. Ayua consists of lemons, pineapple, cane, jackfruit, and shoots coconut. 4) the nature of human being in daily life contains benefit and usefulness in human ritual as philosophical values. Traditional process of motolobalango consists of twelve philosophical values: godhead, worship, sincerity, responsibility, respect, trustful, tolerance, consultative, power, historic, aesthetic, and educational value. From the results of this study it can be concluded that in the structure, language characteristics and philosophical values, both LDL and LDW have the same degree of understanding, have a structured pattern, have a standard system in action and the meaning of special codes, and both have knowledge in understanding the special codes.

Kata Kunci : wacana interaksional, etnografi komunikasi, struktur wacana, karakterisik dan nilai Filosofis

  1. S3-2017-352181-abstract.pdf  
  2. S3-2017-352181-bibliography.pdf  
  3. S3-2017-352181-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2017-352181-title.pdf