ANALISIS KETIDAKSANTUNAN DI MEDIA SOSIAL (Studi Kasus Kelompok Haters Ayu Ting Ting di Instagram)
MARTHA LUSIANA, Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A.
2017 | Tesis | S2 Ilmu LinguistikPenelitian ini menduga adanya ketidaksantunan dalam bertutur yang disampaikan oleh orang-orang yang membenci (haters) Ayu Ting Ting, penyanyi dangdut yang terkenal di Indonesia. Untuk itulah, penelitian ini dilakukan untuk melihat ketidaksantunan dalam ujaran kebencian oleh haters Ayu Ting Ting di media sosial Instagram dengan menggunakan teori ketidaksantunan dari Jonathan Culpeper. Ada empat permasalahan yang akan dijawab. Pertama, menjelaskan struktur wacana yang memicu ketidaksantunan oleh haters Ayu Ting Ting di Instagram. Kedua, mengungkapkan bentuk-bentuk kebahasaan yang dipakai oleh haters Ayu Ting Ting dalam ketidaksantunannya. Ketiga, mendeskripsikan strategi-strategi ketidaksantunan yang dipakai oleh haters Ayu Ting Ting ketika menyatakan ujaran kebencian dengan perspektif ketidaksantunan dari Jonathan Culpeper, dan keempat, menjelaskan faktor-faktor pendorong lahirnya ujaran yang tidak santun oleh haters Ayu Ting Ting dengan memperhatikan situasi tutur. Terdapat empat akun haters di Instagram yang menjadi objek dalam penelitian, yaitu akun @ayting_nyablak_nemplok, @aytingliciousgresekgrepe, @dramakuin, dan @komentatorpedas. Data berasal dari tuturan-tuturan, baik dalam bentuk tulisan di kolom keterangan unggahan (caption), maupun komentar-komentar yang ditulis oleh pengikutnya. Penelitian ini menggunakan metode linguistik despriptif-kualitatif. Penelitian ini memerikan data bahasa berdasarkan jenisnya, bukan pada jumlah data. Data dikumpulka dengan metode simak dan teknik sadap. Alat penentunya adalah instuisi kebahasaan peneliti sebagai penutur asli bahasa yang diteliti, yaitu bahasa Indonesia. Pada tahap analisis data, digunakan metode padan pragmatis dengan teknik daya pilah pragmatis dan metode agih dengan teknik bagi unsur langsung. Teknik keseluruhan yang dipakai adalah teknik catat. Penggunaan bahasa slang dan kata-kata populer dipakai dalam ragam percakapan di media sosial inii. Pemanfaatan gaya bahasa juga ditemukan, seperti paralelisme, repetisi, asonansi, dan hiperbol. Ditemukan juga adanya relasi sinonimi dalam penggunaan bahasa slang yang dipakai oleh haters. Akan tetapi, sinonimi tersebut cenderung memiliki nilai rasa yang rendah atau disfemisme, penggunaan metafora, dan jargon-jargon tertentu untuk menimbulkan efek sarkas dan sinis. Strategi-strategi ketidaksantunan yang dilakukan haters Ayu Ting Ting di Instagram adalah dengan cara langsung (bald on record), ketidaksantunan positif atau penyerangan muka positif, ketidaksantunan negatif atau penyerangan muka negatif, sarkasme atau kesantunan yang dibuat-buat, dan ketidaksantunan tidak langsung (off-record impolitenss). Ketidaksantunan positif dipraktikkan dengan penggunaan julukan, penghinaan dan merendahkan, kritik tajam, dan pengajuan pertanyaan yang mengandung prasangka. Sementara itu, ketidaksantunan negatif diaplikasikan dengan cara message enforce, ancaman dan peringatan, serta penggunaan ekspresi negatif berupa kutuk atau harapan buruk. Adapun faktor-faktor yang mendorong ketidaksantunan adalah hubungan antara haters dan ATT yang tidak saling mengenal dan juga didorong untuk mengungkapkan kemarahan dan kegeraman, untuk memancing respons mitra tutur, untuk menyindir, dan memengaruhi masyarakat agar memiliki pikiran yang sama dengan penutur.
This research presumes existence of impoliteness in speaking conveyed by people who hate (haters) Ayu Ting Ting, a famous Indonesian dangdut singer. For that reason, this research is conducted to see impoliteness in hate speech made by Ayu Ting Ting haters on social media Instagram by using Jonathan Culpeper's impoliteness theory. There are four problems that aim to be solved. The first one, to explain discourse structure that trigger impoliteness made by Ayu Ting Ting haters on Instagram. The second, to reveal linguistic forms used by Ayu Ting Ting haters in their impoliteness. The third, to describe impoliteness strategies used by Ayu Ting Ting haters at the time they show hate speech by using Jonathan Culpeper's impoliteness perspective, and the fourth, to explain factors that trigger impolite speech made by Ayu Ting Ting hates by considering context. There are four account of haters on Instagram which become objects of this research, the accounts are @ayting_nyablak_nemplok, @aytingliciousgresekgrepe, @dramakuin, and @komentatorpedas. Data are from utterances, either from captions of their photos or comments left by their followers. This research used descriptive-qualitative linguistic method. This research also classified the data based on their forms, not based on the amount of data. Data collected by metode simak (observation method) and teknik sadap. Determinant was researcher's language intuitions as a native speaker of the language examined. In data analysis, the method used is metode padan pragmatis (pragmatic-identity method) using pragmatic determinant and metode agih (distribution method) using teknik bagi unsur langsung (immediate constituent analysis). Overall technique used is note-taking technique. Utilization of slang language and popular words used in kind of conversation on this social media. Utilization of language style is also found, such as parallelism, repetition, assonance, and hyperbole. It is also found synonym relation in the use of slang language used by haters. However, the synonym tend to have low value or dysphemism, to use metaphor, and to use some certain jargons to make sarcasm effect and cynical. Impoliteness strategies used by Ayu Ting Ting haters on Instagram are by direct means (bald on record), positive impoliteness or positive face threating acts (FTA), negative impoliteness, sarcasm or fake politeness, and off-record impoliteness. Positive impoliteness practiced by using nickname, humiliation and pejorative, sharp critic, and asking questions that include prejudice. Meanwhile, negative impoliteness used by using message enforce, threat and warning, also using negative expression in the form of curse or bad wish. The other factors that trigger impoliteness are the relationship between haters and ATT who do not know one another and also an urge to show anger and vexation, to lure hearer's responds, to tease, and to influence society to have the same thoughts as the speakers.
Kata Kunci : ketidaksantunan, ujaran kebencian, Jonathan Culpeper, media sosial