Laporkan Masalah

Wisata Edukasi Industri Tempe Dengan Pendekatan Arsitektur Biomimikri

MEGA KURNIAWATI, Syam Rachma Marcillia, S.T., M.Eng., Ph.D.

2017 | Skripsi | S1 ARSITEKTUR

Pariwisata adalah salah satu sektor yang menandakan sebuah daerah maju dan dikenal dari seluruh penjuru. Pariwisata juga merupakan devisa terbesar yang digunakan banyak daerah untuk mengembangkan daerahnya. Banyak sekali objek wisata dan daya tarik wisata yang dimiliki Indonesia dan dapat dijadikan sebagai sarana pemicu keinginan wisatawan domestik ataupun mancanegara untuk berkunjung. Dari mulai wisata alam, budaya, sejarah, religi, agro, bahari, kuliner, hingga wisata edukasi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tentang Sensus Ekonomi Nasional (Susenas) 2006 , Yogyakarta (lebih tepatnya Gunung Kidul) merupakan salah satu penghasil kedelai terbanyak keenam di Indonesia setelah Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dengan luas lahan panen kedelainya mencapai 13886 Ha (Badan Pusat Statistik, 2015). Maka dari itu, Yogyakarta dapat menjadi salah satu komoditas kedelai yang dapat diandalkan di Indonesia. Kedelai sendiri di Indonesia sangat terkenal sebagai bahan baku dari bahan baku tempe dan tahu. Tahu dan tempe merupakan makanan Kaya akan nilai gizi, warisan budaya bangsa Indonesia yang sangat terkenal di dunia. Namun, potensi pasar kedelai itu tidak dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Makanan kaya akan gizi tersebut terkadang masih dirusak oleh penanganan pabrik tempe yang masih tidak memperhatikan kebersihan pabrik agar gizi pada tempe tetap terjaga. Pada tahun 2011, Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia Kabupaten Bogor (KOPTI Kab Bogor) dan Forum Tempe Indonesia (FTI) mulai membangun Rumah Tempe Indonesia (RTI), yaitu sebuah industri tempe yang mengedepankan proses produksi yang higienis serta ramah lingkungan. Tujuan penulisan Wisata Edukasi Industri Tempe adalah sebagai upaya untuk memperkenalkan industri tempe modern, menaikkan citra tempe dan memberikan wisata edukasi yang dirangkum dengan konsep One Stop, untuk menggabungkan berbagai macam fungsi bangunan, dari mulai galeri, industri, workshop, hingga kafe sehingga see, do, play, and learn dapat diterapkan untuk memberikan wadah bermain dan belajar dalam satu tempat untuk lebih memaksimalkan pengetahuan-pengetahuan yang didapat oleh pengunjung. Penerapan pendekatan biomimikri diharapkan agar kesan tempe lebih terasa dan mudah diingat oleh pelaku edukasi dan lokalitas sebagai ciri khas dari "Wisata Edukasi Tempe Gunung Kidul".

Tourism is one of the sectors which signifies an developed area. Tourism is also the largest foreign exchange used by many regions to develop theirs. Lots of tourist attraction owned by Indonesia and can be used as a means of triggering the desire of domestic and foreign travelers to visit. Start from of nature, culture, history, religion, agro, marine, culinary, travel to education. Based on data from the Central Statistics Agency (BPS) on National Economic Census (Susenas) 2006, Yogyakarta (more precisely Gunung Kidul) is one of the most producers of soy in Indonesia after East Java, West Nusa Tenggara, Central Java, West Java, South Sulawesi, with a land area of the soybean harvest reached 13886 hectares (Central Bureau of Statistics, 2015). Therefore, Yogyakarta may one of reliable soybean commodity in Indonesia. Soybean is famous as a raw material of tempeh and tofu in Indonesia. Tofu and tempeh are foods which rich in nutritional value, cultural heritage of Indonesia is very famous in the world. However, the soybean market potential was not utilized by the people of Indonesia. The nutrient-rich foods sometimes still marred by handling the soybean plant that still does not pay attention to the cleanliness of the plant so that nutrients in soybean maintained. In 2011, the Indonesian Tofu Tempe Producers Cooperative District Bogor (Bogor Regency KOPTI) and Indonesian Tempe Forum (FTI) began to build the house of Tempe Indonesia (RTI), which is a soybean industry that emphasizes the hygienic production processes and environmentally friendly. The purpose of writing Tourism Education Industry Tempe is an attempt to introduce industry tempe modern, raise the image of tempe and provides educational tour were summarized by the concept of One Stop, to incorporate a wide variety of building functions, ranging from galleries, industrial, workshop, up to the cafe so see, do , play, and learn can be applied to provide a venue to play and learn in one place to maximize the insights gained by visitors. The application of biomimicry approach is expected to impress the tempe more pronounced and easily remembered by the education models and locality as the hallmark of "Educational Tours Tempe Gunung Kidul".

Kata Kunci : Wisata, Edukasi, Industri, Tempe, Biomimikri

  1. S1-2017-345361-abstract.pdf  
  2. S1-2017-345361-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-345361-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-345361-title.pdf