KESELARASAN KAWITAN DAN KALAMPAHAN DALAM TATA RUANG PERMUKIMAN DI DESA PERDIKAN JATINOM, KLATEN
RINI HIDAYATI, ST, MT., Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng.,Ph.D.
2017 | Disertasi | S3 ILMU ARSITEKTURDesa Jatinom merupakan desa yang didirikan oleh penyiar Islam dan pernah berstatus perdikan. Di desa ini terjadi beberapa peristiwa penting dalam sejarah perkembangan desa dan terdapat tradisi-tradisi baik tradisi budaya maupun ekonomi. Kelompok-kelompok kekerabatan berperan penting dalam hubungan sosial masyarakatnya. Pada ruang permukiman desa ditemukan fenomena yang menarik, yaitu keberadaan komponenkomponen penting permukiman yang berpasangan-pasangan, seperti Masjid Alit dan Masjid Besar, Oro-oro Tarwiyah dan Oro-oro Yaa Qowiyyu dan Pasar Jatinom dan Pasar Gabus. Disertasi ini bertujuan untuk menemukan konsep hubungan dari komponen-komponen permukiman tersebut dalam tata ruang permukiman Desa Perdikan Jatinom dengan metode fenomenologi. Pengamatan dan analisis terhadap fenomena-fenomena yang ditemukan selama grandtour maupun minitour dalam permukiman Desa Jatinom menghasilkan 10 tema, yaitu 1) Ring sebagai batas ruang religi dan ruang duniawi, 2) Oro-oro sebagai penanda tiap ring, 3) Masjid Alit sebagai ruang ibadah dan simbol sejarah, 4) Masjid Besar sebagai ruang ibadah dan tradisi, 5) Pasar Jatinom sebagai ruang Tradisi Pekenan, 6) Pasar Gabus sebagai ruang ekonomi harian, 7) Masjid-masjid lama sebagai orientasi religi hunian kekerabatan, 8) Jalan Raya Jatinom sebagai orientasi ekonomi hunian kekerabatan, 9) Alam bantaran sungai sebagai ruang fisik, dan 10) Alam bantaran sungai sebagai ruang berkah. Analisis induktif melalui pemaknaan terhadap tema-tema tersebut menghasilkan 3 konsep, yaitu 1) Konsep kawitan, 2) Konsep kalampahan, dan 3) Konsep nguri-uri. Proses abstraksi lebih lanjut terhadap konsep-konsep tersebut mendapatkan rumusan teoretik, yaitu "Keselarasan kawitan dan kalampahan" Kawitan muncul pada konteks awal dan memiliki peran yang melekat dengan konteks kemunculannya, yaitu sebagai ruang yang bersejarah, sakral, religius dan tempat aktivitas tradisi ekonomi. Kalampahan muncul setelah ruang kawitan dan memiliki peran yang melekat dengan konteks waktu kemunculannya, yaitu sebagai ruang yang dominan mewadahi aktivitas kekinian baik peribadatan, perdagangan, tradisi budaya maupun hiburan. Dengan Nguri-uri, ruang kawitan dan kalampahan dapat eksis dan berperan bersama-sama pada saat ini secara selaras. Keselarasan dalam hal ini adalah sesuai dan saling mengisi. "Keselarasan kawitan dan kalampahan" mendasari keselarasan dalam tata ruang permukiman Desa Jatinom. Nilai yang terkandung dalam teori tersebut adalah nilai keselarasan dan pelestarian. Teori Keselarasan kawitan dan kalampahan memperkaya teori komplementaritas ruang dalam lingkup kecil dan dengan hubungan ruang yang lebih spesifik. Teori tersebut merupakan sumbangan yang berarti bagi ilmu pengetahuan arsitektur khususnya berkaitan dengan tata ruang permukiman di perdesaan. Kata Kunci : kawitan dan kalampahan, nilai keselarasan dan pelestarian, permukiman perdesaan.
As an area freed from payments of taxes or called a perdikan village, Jatinom is a village that was found by the Islam preachers. In the village's development, there have been the important historical events and cultural-economic traditions. The groups of the kinships have played role in building and developing its social life. In the village's settlement area, there is an interesting phenomenon, the existence of the settlement components in pairs such as the Alit Mosque-Grand Mosque, Oro-oroTarwiyah(Tarwiyah square)-Oro-oro Yaa Qowiyyu, and Jatinom Market-Gabus Market. The dissertation aims to describe a concept of relationship among the settlement components in the area of JatinomPerdikan Village. It employed a phenomenology method. The results of the observation and analysis of the phenomena during grand-tour and mini-tour in the Jatinom Village Settlement show that there are 10 themes. They are as follows: 1) the Ring as a boundary between a religious and worldly space, 2) the Orooro( square) as a sign of each ring, 3) the Alit Mosque as a place for worship and historical symbol, 4) the Grand Mosque as a place for worship and tradition, 5) the Jatinom Market as a space for Pekenan(weekly) tradition, 6) the Gabus Market as a space for daily activities in economy, 7) the old mosques as an orientation in religion of kinship based housing, 8) the main street of Jatinom as an orientation in economy of kinship based housing, 9) the nature of flood plain as a physic space, and 10) the nature of flood plain as a blessed space. With an inductive analysis of the themes, it is stated that there are 3 concepts in sequence: 1) kawitan (beginning), 2) kalampahan (present), and 3) nguri-uri (preserving). In an abstraction process, the processes can theoretically be formulated as the harmony of kawitan and kalampahan. The term kawitan comes into being in the beginning context. It plays role inherent its early context as a historical, sacred, and religious space as well as a space for the activities of economic tradition. Like in the early context, the kalampahan functions as a dominant space for present activities in religious service, commerce, cultural and entertainment tradition. The nguri-uri, kawitanand kalampahan have been keeping in existence and harmony nowadays. The harmony means that they have essentially been consistent with one another for keeping their mutually inclusive functions. The harmony of kawitan and kalampahan runs as a basis of the harmoniously space setting of Jatinom Village Settlement. The theory gives a meaningful contribution to architecture, particularly related to a space setting of rural settlement. The values contained in the theory are the harmony and preservation. The theory of harmony of kawitan and kalampahan enriches the theory of complementarity of space in a small sphere and with a more specific spatial relationship. The theory is a significant contribution to the science of architecture in particular with regard to the spatial planning of rural settlements. Keywords: kawitan and kalampahan, harmony and preservation values, rural settlement
Kata Kunci : kawitan and kalampahan, harmony and preservation values, rural settlement