PENERAPAN KONSEP RAMAH GENDER DALAM PENATAAN KAWASAN SEKITAR PASAR TANAH ABANG, JAKARTA PUSAT
FAWZIA PUJI INSANI, Ratna Eka Suminar, S.T., M.Sc
2017 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTADKI Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia tumbuh menjadi area dengan tingkat kriminalitas yang cukup tinggi. Fenomena tersebut umumnya menyasar pada golongan rentan seperti wanita, anak-anak, dan lansia. Golongan tersebut pun menjadi merasa terancam untuk melakukan aktivitas di ruang publik. Untuk itu, diperlukan suatu perencanaan yang mengutamakan keadilan ruang bagi seluruh golongan tanpa terkecuali, dengan berbasis ramah gender.Pasar Tanah Abang dinilai sebagai kawasan yang tepat untuk dijadikan percontohan dalam menerapkan konsep ramah gender. Pasar yang diklaim sebagai pusat tekstil terbesar se-Asia Tenggara itu juga menjadi kawasan strategis ekonomi yang diprioritaskan pembangunanannya menurut RTRW DKI Jakarta 2030. Selain permasalahan kriminalitas, pasar yang memiliki intensitas jual-beli yang tinggi itu lambat laun mengalami penurunan kualitas yang menyebabkan timbulnya masalah lain seperti kemacetan sirkulasi, kualitas lingkungan yang rendah, kenyamanan yang minim, serta permasalahan keruangan lainnya. Untuk itu, perencanaan ini bertujuan untuk memberikan arahan penataan kawasan Pasar Tanah Abang dan sekitarnya dengan menerapkan konsep ramah gender sehingga menciptakan rasa aman bagi seluruh golongan masyarakat, khususnya wanita, anak-anak, serta lansia untuk melakukan aktivitas di ruang publik. Mengadaptasi indikator ruang ramah gender dari Equality Action Plan Vienna dan Berlin Gleichstellungspolitisches Rahmenprogramm, dipadukan dengan konsep public space yang diterapkan ke dalam variabel urban design kemudian dielaborasikan suatu arahan perencanaan yang mengedepankan tiga aspek yaitu Attractive & Useful Urban Design, High Proximity & Pedestrian Oriented, serta Comfort & Secure Environment. Ketiga arahan rencana tersebut dituangkan dalam perencanaan skala makro, meso, dan juga mikro, demi terwujudnya suatu ruang public yang atraktif, aman, dan nyaman bagi seluruh golongan untuk melakukan aktivitas dan berinteraksi sosial. Kawasan amatan dibagi kedalam 5 zona yang terdiri dari 1 zona komersil utama dan 4 lainnya adalah zona komersil pendukung. Dalam penataan Skala Mikro, kelima zona tersebut dikembangkan dengan memiliki peran dan karakternya masing-masing. Zona A berperan sebagai pusat inti kawasan; Zona B berperan sebagai pintu utama; Zona C dan D sebagai area pendukung inti kawasan; dan Zona E dengan karakter sebagi area pemberdayaan industry rumahan. Kelima zona tersebut juga disinkronisasi dengan suatu sistem kawasan yang dituangkan dalam rencana Skala Meso hingga Skala Makro.
DKI Jakarta as the capital of the Indonesian state grew into an area with a high crime rate. The phenomenon is generally targeted at vulnerable groups such as women, children, and the elderly. These groups became threatened to perform activities in the public space. Therefore, a planning that prioritizes the justice of space for all groups without exception are needed, also knows as based on gender-friendly. Pasar Tanah Abang is considered as the right area to be used as a pilot in applying the concept of gender-friendly. The market which is claimed to be the largest textile center of Southeast Asia is also a strategic economic area prioritized its development according to the Spatial Plan Document Area of DKI Jakarta until 2030. In addition to the problem of criminality, a market that has a high buying intensity is slowly experiencing a quality degradation that causes other problems Such as circulation congestion, low environmental quality, minimal comfort, and other spatial problems. For that purpose, this planning aims to give direction of arrangement of Tanah Abang Market area and its surroundings by applying the concept of gender friendly so as to create a sense of security for all community groups, especially women, children, and elderly to conduct activities in the public space. Adapting the gender-friendly space indicator of the Vienna Equality Action Plan and also The Berlin Gleichstellungspolitisches Rahmenprogramm, combined with the concept of public space applied to the urban design variable, then elaborated a planning directive that prioritizes of three aspects: Attractive & Useful Urban Design, High Proximity & Pedestrian Oriented, and Comfort & Secure Environment. That three directions of the plan are outlined in macro, meso, and micro scale planning, in order to create an attractive, safe, and comfortable public space for all groups to engage in social activities and interaction. The observed area is divided into 5 zones consisting of 1 main commercial zone and 4 others are commercial support zones. In the Micro Scale arrangement, the five zones were developed by having their own roles and characters. Zone A serves as the core center of the region; Zone B acts as the main gate; Zones C and D as the core support areas of the area; And Zone E with the character as an area of empowerment of home industry. The five zones are also synchronized with a regional system as outlined in the Meso Scale plan up to the Macro Scale
Kata Kunci : ruang publik, ramah gender, Pasar Tanah Abang