Laporkan Masalah

HUMAN CAPITAL DALAM PEMBENTUKAN KOMUNITAS POJOK BUDAYA SEBAGAI INSTITUSI INOVATIF (STUDI INSTITUTIONAL ENTREPRENEURSHIP DI KAMPUNG DOLANAN DUSUN PANDES)

MOZARA KARTIKA PUTRI, Drs.Hendrie Adji Kusworo,M.Sc.,Ph.D

2017 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)

Pasca terjadinya bencana gempa bumi yang melanda sebagian besar daerah di Yogyakarta mengakibatkan berbagai kerugian bagi masyarakat. Masyarakat kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, bahkan anggota keluarga. Dusun Pandes merupakan salah satu dusun yang terkena dampak gempa bumi. Di tengah-tengah kondisi yang memprihatinkan, Komunitas Pojok Budaya hadir dengan tujuan menggali kembali potensi yang ada di dusun tersebut. Komunitas ini hadir atas inisiatif dari seorang aktor untuk mengembangkan Dusun Pandes sebagai kampung wisata. Jauh sebelum terjadinya gempa bumi, Dusun Pandes sudah menjadi sentra mainan tradisional. Beragam mainan tradisional inilah yang dianggap sebagai potensi oleh Komunitas Pojok Budaya. Pada akhirnya, konsep kampung wisata edukasi berbasis mainan tradisional dipilih oleh aktor bersama dengan komunitas. Keberadaan sebuah lembaga atau institusi lokal di Dusun Pandes berguna untuk mengelola dan mengembangkan kampung dolanan. Lahirnya sebuah institusi lokal tentu tidak terlepas dari hadirnya aktor yang menjadi penggagas berdirinya komunitas ini. Aktor dengan segala atribut yang melekat pada dirinya memiliki inisiatif membentuk Komunitas Pojok Budaya. Konsep yang digunakan ialah konsep modal sumber daya manusia oleh Ancok (2002) dan Institutional Entrepreneurship. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah kualitatif deskriptif. Penelitian ini mendeskripsikan fenomena human capital yang dimiliki aktor dalam pembentukan Komunitas Pojok Budaya dan juga kampung dolanan. Unit analisis dari penelitian ini ialah inisiator Komunitas Pojok Budaya. Adapun informan yang peneliti wawancara antara lain, penggagas Komunitas Pojok Budaya, anggota komunitas, pengrajin mainan tradisional dan aparatur Desa Panggungharjo. Metode pengumpulan data dengan wawancara mendalam, observasi, dan juga dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keenam modal sumber daya manusia yang diklasifikasikan oleh Ancok (2002) ditemukan pada diri inisiator dan memberikan kontribusi dalam pembentukan Komunitas Pojok Budaya. Peneliti juga menuliskan tiga tahapan penting dalam pembentukan yaitu pra-pembentukan, pembentukan, dan pengembangan Komunitas Pojok Budaya. Berdasarkan keenam modal yang ada pada inisiator, modal yang paling optimal dimanfaatkan ialah modal intelektual. Menurut bagan Institutional Entrepreneurial Task oleh Kusworo (2015), inisiator mengalami perpindahan kuadran semula berada pada kuadran I atau tahap recognition. Pada tahapan ini, inisiator melakukan upaya penyadaran dan identifikasi potensi yang dimiliki Dusun Pandes. Kemudian bergeser ke kuadran III yaitu tahap creation. Inisiator mulai membentuk Komunitas Pojok Budaya sebagai sebuah institusi inovatif.

The earthquake occured in Yogyakarta in 2006 brought various harm for community. They lost their house, their job, and also their family. Dusun Pandes is one of the village that effected by the earthquake. While they are in the process of recovering, Komunitas Pojok Budaya emerged with their goals to explore the potential of Dusun Pandes. Komunitas Pojok Budaya was formed by the initiator who wants to shaping and discover Dusun Pandes as a destination for tourists. Before the earthquake happened, Dusun Pandes was known as the central of mainan tradisional. Komunitas Pojok Budaya realized that the most potential thing in Dusun Pandes was mainan tradisional. As a result, education as tourism was choosen by Komunitas Pojok Budaya and also the initiator. The importance of local institution in Dusun Pandes is to manage and develop Kampung dolanan. The emerging of this local institution can not be separated with the role of the main actor. The actor, with his capabilities, has initiated to establish Komunitas Pojok Budaya. This research is using the human capital concept from Ancok(2002) and Dimaggio completed by using Kusworo�s concept about institutional entrepreneurship. The researcher is using descriptive qualitative to describe and analyze the human capital in forming Komunitas Pojok Budaya. The unit of analysis from this research is the inisiator of Komunitas Pojok Budaya and the informants are the member of Komunitas Pojok Budaya, people around Kampung Dolanan, village officers. The data was collected through in depth interview, observation and documentation. According to Ancok (2002) the result shows that all of human capital which is owned by the initiator has been used while forming Komunitas Pojok Budaya. Researcher also explains that there are three stages in emerging this local institution. These are pre forming, while forming, and developing Komunitas Pojok Budaya. According to six capitals that initiator has, the most used capital is intellectual capital.According to Institutional Entrepreneurial Task by Kusworo (2013), Komunitas Pojok Budaya has moved from quadran I (recognition) to quadran III (creation), means that the initiator did the recogntion the potential thing of Dusun Pandes first then creating Komunitas Pojok Budaya as an inovative institution.

Kata Kunci : Human capital, Institutional entrepreneurship, pembentukan komunitas/human capital, institutional entrepreneurship, forming institution

  1. S1-2017-347689-abstract.pdf  
  2. S1-2017-347689-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-347689-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-347689-title.pdf