MODEL INTERVENSI PELAYANAN KEPERAWATAN DI SEKOLAH DALAM PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
WENNY ARTANTY NISMAN, Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D.; Prof.dr. Ova Emilia, M.M.Ed.,SpOG(K).,Ph.D,; Elsi Dwi Hapsari, S.Kp, M.S, D.S.
2017 | Disertasi | S3 Ilmu KedokteranLatar belakang: Remaja sangat rentan untuk melakukan perilaku seksual pranikah. Dampaknya adalah terjadinya kehamilan remaja dan terjadinya infeksi menular seksual. Untuk itu, perlu dilakukan upaya pencegahan yaitu melalui pelayanan keperawatan di sekolah. Tujuan penelitian: Mengetahui pengaruh model intervensi pelayanan keperawatan di sekolah dalam pendidikan kesehatan reproduksi remaja berdasarkan need assessment. Metode penelitian: Jenis penelitian kualitatif dan kuantitatif. Tahap pertama adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, mengeksplorasi kehamilan remaja, pengenalan dan need assessment pelayanan keperawatan di sekolah dalam pendidikan kesehatan reproduksi remaja. Sampel penelitian 16 guru, 13 orangtua dan 19 siswa/siswi, metode pengumpulan data dengan dua kali focus group discussion pada masing-masing kelompok partisipan, dilaksanakan pada Agustus 2015. Analisis data kualitatif dilakukan langkah-langkah analisis menurut Creswell & Vicki (2011). Tahap kedua adalah penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian kuasi eksperimental dengan rancangan nonequivalent (pretest dan posttest) control group design. Penelitian ini dilakukan di dua sekolah, pada Januari sampai September 2016. Berdasarkan kriteria inklusi, terpilih 68 siswa/siswi dari kelompok intervensi dan 66 siswa/siswi untuk kelompok kontrol. Kelompok intervensi mendapatkan pelatihan keterampilan personal dan sosial dalam pendidikan kesehatan reproduksi sedangkan kelompok kontrol mendapatkan intervensi rutin pendidikan kesehatan reproduksi selama 6 bulan. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner untuk mengukur keyakinan diri remaja, rubric untuk mengukur perilaku pacaran yang sehat, lembar observasi untuk mengukur perilaku mengatakan tidak untuk seks pranikah dan kuesioner untuk mengukur perilaku pengambilan keputusan remaja terkait dengan seks pranikah. Semua instrumen telah melalui uji validitas dan reliabilitas dengan hasil valid dan reliable. Analisis data kuantitatif perbandingan pada kelompok yang tidak berpasangan dilakukan uji Mann-Whitney U test. Ethical clearance approval number Ref: KE/FK950/EC/2015. Hasil penelitian: Model intervensi pelayanan keperawatan dengan pelatihan keterampilan personal dan sosial mampu meningkatkan perilaku remaja. Hasil need assessment menunjukkan bahwa dibutuhkan intervensi di sekolah yang dapat memberikan pelayanan kesehatan reproduksi dengan pendekatan peka terhadap masalah kesehatan reproduksi remaja dan mampu mengayomi, untuk mempermudah terjadinya perubahan perilaku. Setelah dilakukan intervensi pelayanan keperawatan di sekolah, terjadi peningkatan signifikan pada nilai perilaku pacaran sehat, perilaku mengatakan tidak untuk seks pranikah dan perilaku kemampuan pengambilan keputusan lebih tinggi pada kelompok intervensi dibandingkan dengan kelompok kontrol 0,200+-0,42 vs -0,203+- 0,20, p = 0,000; 0,193+-0,40 vs 0,032+-0,43, p = 0,029; 0,032+-0,18 vs -0,251+-0,23, p = 0,000. Sementara, untuk nilai keyakinan diri remaja juga terjadi peningkatan nilai pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol 0,017+-0,22 vs 0,053+- 0,19, p = 0,315 namun perbedaan pada kedua kelompok tidak signifikan. Hanya terdapat satu variabel luar yang berpengaruh signifikan terhadap perubahan perilaku mengatakan tidak untuk seks pranikah, yaitu pengalaman mendapatkan pendidikan kesehatan sebelumnya. Berdasarkan analisis regresi linear multipel, pemodelan yang terbaik adalah pemodelan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku pengambilan keputusan remaja untuk mencegah seks pranikah. Kesimpulan: Model intervensi pelayanan keperawatan di sekolah efektif meningkatkan perilaku remaja, khususnya perilaku pacaran yang sehat, perilaku mengatakan tidak untuk seks pranikah dan perilaku pengambilan keputusan remaja untuk mencegah seks pranikah, dalam upaya pendidikan kesehatan reproduksi remaja. Model pelayanan keperawatan di sekolah ini dapat menjadi model bagi puskesmas untuk menghidupkan program pelayanan kesehatan di sekolah.
Background: Adolescents are highly vulnerable to premarital sexual behavior. Its impacts include teenage pregnancy and sexually transmitted infections. Therefore, prevention efforts should be taken through school health nursing program. Objective: To identify the effects of the school health nursing intervention model in adolescent reproductive health education based on the needs assessment. Methods: This research was a qualitative and quantitative study. The first stage of the research was qualitative research with phenomenological approach in order to explore the phenomenon of teenage pregnancy, the introduction and needs assessment of school nursing service in adolescent reproductive health education. Research samples consisted of 16 teachers, 13 parents and 19 students. Data were collected through focus group discussions that were held twice on each group of participants and conducted in August 2015. Qualitative data were analyzed by creating codes, making themes, making qualitative narration and making interpretation until forming a theme. The second stage was quantitative research by employing a quasi-experimental research with nonequivalent (pretest and post test) control group design. This research was conducted in two schools from January to September 2016. The schools were determined based on a preliminary study with established criteria. A simple drawing was made and School A was chosen as the intervention group and School B as the control group. A purposive sampling method was used to select 68 students for the intervention group and 66 students for the control group. Because the data were normally distributed, t-test was used to analyze quantitative data for the comparison of the value of unpaired groups. Ethical Clearance approval number Ref: KE/FK950/EC/2015. Results: The results of need assessment about school health interventions were required to provide reproductive health services with a sensitive approach to the problem of adolescent reproductive health and is able to facilitate behavioral change. After the intervention of school nursing service, there was an increase in the value of healthy dating behavior, a behavior of saying no to premarital sex and a behavior of decision making capability in the intervention group was higher that in the control group 0.200+-0.42 vs -0.203+-0.20, p = 0.000; 0.193+-0.40 vs 0.032+- 0.43, p = 0.029; 0.032+-0.18 vs -0.251+-0.23, p = 0.000 with a significant difference (p <0.05). Meanwhile, there was also an increase in the value of confidence in adolescents both in the intervention group and the control group 0.017+-0.22 vs 0.053+- 0.19, p = 0.315, but the difference in both groups was not significant. There was only one external variable that significantly affected the change in behavior of saying no to premarital sex, namely experience of receiving previous health education. Based on the multiple linear regression analysis, the best modeling is the factors model that influence the decision-making behavior of adolescent. Conclusion: School health nursing intervention model effectively improves the behavior of adolescents, especially healthy dating behavior, behavior of saying no to premarital sex and behavior of decision making ability in an effort to provide the adolescent reproductive health education.School health nursing has played its role in providing reproductive health education through personal and social skills training.
Kata Kunci : pelayanan keperawatan di sekolah, kesehatan reproduksi, remaja, School health nursing, reproductive health education, adolescent