Laporkan Masalah

PERENCANAAN SAMARINDA HEALTHY WATERFRONT CITY

NOOR AISYAH RANNY, Ir. Didik Kristiadi, MLA., MAUD.

2017 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Kota Samarinda merupakan kota dengan segudang permasalahan yang berdampak pada kesehatan masyarakatnya, mulai dari permukiman kumuh, pencemaran sungai, banjir, kemacetan, dll. Tetapi pada kenyataannya pada tahun 2015 Kota Samarinda meraih penghargaan kota sehat tertinggi, yaitu Swasti Saba Wistara. Hal ini menjadi menarik ketika kondisi di Kota Samarinda belum bisa dikatakan sehat namun mendapatkan penghargaan. Permasalahan terjadi di pusat kota terutama di bantaran Sungai Karang Mumus sehingga menjadi lokasi terpilih pada perencanaan ini. Tujuannya adalah untuk mewujudkan Kota Samarinda menjadi kota tepian air yang sehat. Metode yang digunakan pada perencanaan ini adalah metode gap analysis dengan cara membandingkan kondisi eksisting dengan indikator yang telah ditetapkan. Penentuan indikator ini didapatkan dari pengelompokkan karakteristik kota sehat dari teori-teori yang ada kemudian dibandingkan dengan best practices. Maka didapatkan elemen perencanaan kota sehat, antara lain neighborhood, aktivitas ekonomi, aktivitas kesehatan, aktivitas sosial budaya, transportasi, dan ruang terbuka. Perencanaan ini memiliki 6 strategi pencapaian yang didapatkan dari perumusan masalah, antara lain redesain permukiman, rekayasa ruang jalan, penambahan fasilitas umum dan utilitas lingkungan, redesain sungai, inovasi ekonomi, dan variasi kegiatan sosial budaya. Keenam strategi tersebut dituangkan ke dalam elemen perencanaan kota sehat, yaitu neighborhood, aktivitas ekonomi, aktivitas sosial budaya, transportasi, dan ruang terbuka. Perencanaan kota sehat ini dibuat untuk meningkatkan aktivitas fisik, serta meningkatkan ekonomi lokal.

Samarinda has so many problems impacted on the people's health, such as slum settlements, river pollution, flooding, congestion, etc. In 2015, Samarinda had win the highest healthy city award, Swasti Saba Wistara. This becomes interesting when conditions of Samarinda is not healthy enough to receive an award. The problem occurred in the city center, especially on the riverbed of Karang Mumus River, it became the chosen location in this planning. The goal is to create Samarinda into a healthy waterfront city. The method used in this planning is gap analysis by comparing the existing condition with predetermined indicator. The determination of this indicator was derived from the grouping of healthy urban characteristics from theories compared with best practices. The element of healthy city planning discovered, such as neighborhood, economic activity, health activities, socio-cultural activities, transportation, and open space. This planning has 6 achievement strategies derived from problem formulation, such as settlements redesign, road engineering, the addition of public facilities and environmental utilities, river redesign, economic innovation, and variation of social and cultural activities. The six strategies are poured into the elements of healthy urban planning, such as neighborhoods, economic activities, socio-cultural activities, transportation, and open space. This healthy city planning is designed to increase physical activity, as well as improve the local economy.

Kata Kunci : Perencanaan Kota, Kota Sehat, Tepi Air

  1. S1-2017-330378-abstract.pdf  
  2. S1-2017-330378-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-330378-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-330378-title.pdf