Pengendalian Lahan Pertanian Pada Proses Penyediaan Lahan Perumahan Skala Besar Di Kawasan Perkotaan Yogyakarta
SUSILO WIDIYANTORO, Ir. Agam Marsoyo, M.Sc.,Ph.D.; Ir.Kawik Sugiana, M.Eng.,Ph.D.
2017 | Tesis | S2 Perencanaan Kota dan DaerahManajemen lahan melalui upaya pengendalian lahan pertanian pangan telah dilakukan oleh pemerintah sejak tahun 1960 dengan terbitnya peraturan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960. Namun, seluruh peraturan terkait pengendalian lahan pertanian pangan yang terbit sejak tahun tersebut dinilai kurang efektif. Ketidakefektifan regulasi dapat dilihat dari maraknya konversi lahan pertanian pangan yang terjadi di Kawasan Perkotaan Yogyakarta dan salah satu penyumbang tingginya angka konversi adalah perumahan skala besar. Di tengah upaya pengendalian lahan pertanian pangan oleh pemerintah daerah kabupaten, sebagai pemangku kepentingan di wilayah setempat, dan kompleksitas permasalahan pembebasan lahan yang dialami oleh pengembang ternyata pertumbuhan perumahan skala besar terus terjadi di atas lahan pertanian pangan. Tujuan penelitian ini adalah: (a) memodelkan pengendalian lahan pertanian pangan pada proses penyediaan lahan perumahan skala besar di Kawasan Perkotaan Yogyakarta; (b) mengidentifikasi tingkat keberhasilan model pengendalian lahan pertanian pangan dalam mempertahankan keberadaan lahan pertanian pangan; dan (c) mengkaitkan model pengendalian lahan pertanian pangan dengan keberadan lahan perumahan skala besar. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode induktif kualitatif. Penelitian kualitatif yang digunakan adalah studi kasus, hal ini dimaksudkan untuk menangkap proses penyediaan lahan yang sebenarnya terjadi di lapangan dan sesuai dengan kronologi waktu. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara observasi lokasi dan wawancara mendalam terhadap sejumlah informan yang dipilih secara purposive sampling, sedangkan data sekunder dikumpulkan dari instansi pemerintah yang terkait dengan penelitian. Teknik analisis data dilakukan sesuai dengan kaidah kualitatif, yaitu dari tahap reduksi, kategorisasi, overlay, dan sintesasi yang selanjutnya dijabarkan secara deskriptif dengan metode triangulasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat kesamaan model pengendalian lahan pertanian di keempat lokasi perumahan skala besar, yaitu zonasi diawal proses penyediaan lahan agar rencana pembangunan sesuai dengan arahan pola pembangunan wilayah dan izin lokasi diberikan agar lahan yang diperoleh sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku; (2) ditinjau dari aspek zonasi dan izin lokasi maka terdapat variasi keberhasilan model pengendalian lahan pertanian pangan dalam mempertahankan keberadaan lahan pertanian pangan di keempat lokasi perumahan skala besar; dan (3) keterkaitan antara pengendalian lahan pertanian dan ketersediaan lahan perumahan skala besar terjadi karena mekanisme pengendalian digunakan sebagai dasar terselenggaranya penyediaan lahan perumahan skala besar, namun ada lima faktor penyebab keterkaitan tersebut memberikan variasi dalam implementasinya.
Land management through agricultural land use control have been done by the government since 1960 with the issuance of Law Number 5 Year 1960. However, all regulations that related to agricultural land use control and published since that year is considered less effective. The ineffectiveness of regulation can be seen from the rampant conversion of agricultural land in the Yogyakarta Urbanized Area and one of the contributors to the high conversion rate is large residential. Amidst efforts to agricultural land use control by district governments, as stakeholders in the local area, and the complexity of land acquisition problems experienced by developers, large residential getting growth on agricultural land. The aims of this research are: (a) modeling the agricultural land use control from the process of large residential land occupation in Yogyakarta Urbanized Area; (b) identifying the success rate of agricultural land use control models in maintaining the existence of agricultural land; and (c) linking the models of agricultural land use control with the presence of large residential land. This research was designed by qualitative inductive method. The qualitative research used was case study, it is intended to capture the actual process of land acquisition and in accordance with the chronology. The data used were primary and secondary data. Primary data collection was done by observation and in-depth interview on selected informants that selected by purposive sampling, while secondary data was collected from government institution related to the research. Data analysis technique was done with qualitative rules, that is from the reduction stage, categorization, overlay, and synthesis which further elaborated descriptively with triangulation method. The findings of the research indicate that (1) there is a similarity on agricultural land use control models in the four large residential sites, that is zoning at the beginning on the process of land delivery so that the development plan is in accordance with the regional development pattern and the location permit is granted so that the land acquired in accordance with the applicable terms and conditions; (2) in terms of zoning and location permits, there are variations in the success of agricultural land use control models in maintaining the existence of agricultural land in the four large residential locations; and (3) the linkage between agricultural land use control model and large residential land availability caused by the land use control mechanism is used as the basis of large residential land occupation, but there are five factors that cause the linkage to vary the implementation.
Kata Kunci : pengendalian lahan pertanian, penyediaan lahan perumahan skala besar