Komersialisasi Ingkung di Daerah Istimewa Yogyakarta (Studi Kasus di Masyarakat Karangber, Guwosari, Pajangan, Bantul)
HARIMAS JATI WIKANANTA, Dr. Bambang Hudayana, M.A.
2017 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYADalam kehidupan manusia makanan tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan kebutuhan dasar semata. Makanan dianggap memiliki fungsi serta makna tertentu, sehingga ia muncul dalam sebuah upacara. Segala hal yang berkaitan dengan rangkaian upacara bersifat sakral, termasuk makanan. Pada upacara selametan atau sering disebut kenduri, makan bersama menjadi sebuah hal yang penting. Masyarakat Karangber, Guwosari, Pajangan, Bantul mengkonsumsi olahan ayam yang disebut ingkung sebagai hidangan utama pada kenduri hari pertama peringatan kematian atau sripahan. Keterikatan ingkung dengan kenduri menyebabkan hidangan ini bersifat sakral. Penulisan ini bertujuan untuk menjelaskan implikasi aktivitas komersialisasi terhadap perubahan fungsi serta makna ingkung di masyarakat Karangber. Saat ini di masyarakat Karangber, ingkung dapat dikonsumsi setiap hari. Ingkung juga tidak lagi terikat dengan upacara peringatan kematian. Komersialisasi yang terjadi ternyata mereduksi aturan pemilihan ayam, pengolahan, hingga proses penyajian. Sifat sakral berubah menjadi profan, karena aktivitas komersialisasi ini. Data empiris yang digunakan sebagai acuan penulisan, diperoleh melalui observasi partisipasi di awal tahun 2017. Wawancara mendalam bertemakan ingkung turut dilakukan, dengan narasumber tokoh-tokoh masyarakat, warga, konsumen, serta pemilik rumah makan Waroeng Ndesso. Dalam perspektif masyarakat Karangber, ingkung yang diperdagangkan ternyata berbeda dengan yang ada di upacara kenduri peringatan kematian. Perbedaan ini didasarkan pada dua aspek pokok, yaitu fungsi serta makna. Sebagai makanan yang sakral, ingkung pada kenduri dipahami sebagai sarana penghubung antara pemilik acara, masyarakat, serta Tuhan. Saat ingkung diperdagangkan fungsi dan makna dianggap tidak lagi muncul, hidangan ini juga menjadi bersifat profan. Pada praktekya, ternyata ingkung yang diperdagangkan berjalan secara bersamaan dengan ingkung pada kenduri di kehidupan masyarakat Karangber.
Food in human life, is not only seen as a mere fulfillment of human basic needs. It is considered to have specific function and meaning, so that it may appear in ceremonial events such as rite. Everything that related to rite is sacred, including food. Having meal together in slametan (usually called kenduri) becomes an important matter. The people of Karangber, Guwosari, Pajangan, Bantul consume ingkung, a kind of food that using whole chicken as the main ingredient, as the main course on the first day of the kenduri rite of death anniversary or sripahan. Because of the relation between ingkung and kenduri, this food has a reputation as a sacred food. This study aimed to describe the implications of ingkung commercialization towards the transformation of ingkung function and meaning in Karangber society. Nowadays in Karangber, ingkung can be consumed every day. Ingkung is not related to the kenduri rite of death anniversary anymore. The commercialization itself reduces the rules of ingredient selection, processing, and presentation. The sacred value of ingkung turned into profane caused by this activity. Empirical data which used as writing references are taken in early 2017 through participation observation. Also, in-depth interviews about ingkung were conducted towards some informants. The informants are public figures, villagers, consumers, and the owner of Waroeng Ndesso. In the perspectives of Karangber society, commercialized ingkung is different from ingkung in the kenduri rite of death anniversary. This differences are based on two main aspects, function and meaning. As a sacred food, ingkung in kenduri is defined as the connector between the event owner, society, and God. When ingkung is commercialized, its function and meaning are not recognized anymore, and this food becomes profane. In fact, the commercialized ingkung walks along with ingkung in the kenduri among the people of Karangber in their daily lives.
Kata Kunci : Ingkung, Function, Meaning, Commercialization