JEJAK-JEJAK CINA DALAM MENAK CINA : SEBUAH ANALISIS DEKONSTRUKSI
LAGA ADHI DHARMA, Prof. Dr. Faruk, S.U
2017 | Tesis | S2 Ilmu SastraPenelitian ini bertujuan untuk menguraikan posisi Cina di dalam teks Menak Cina karya Yasadipura I. Langkah awal penelitian memfokuskan pada pencarian oposisi biner yang berada di dalam teks, untuk melihat struktur oposisional Menak Cina. Berdasarkan identifikasi yang dilakukan, terdapat pemaknaan tunggal terhadap etnis Cina di dalam teks Menak Cina. Narasi Menak Cina dengan jelas menyebutkan dua pihak berlawanan antara yang kuat dengan lemah, sehingga menciptakan adanya pihak yang diistimewakan. Penelitian ini menggunakan teori dekonstruksi Jacques Derrida sebagai alat analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks yang sudah mapan dengan makna tertentu tidak terlepas dari instabilitas teks di dalamnya. Hal ini yang menjadi pintu masuk untuk menguraikan posisi Cina di dalam struktur oposisional Menak Cina. Posisi Cina sebagai kelompok lemah dianggap sebagai sesuatu yang sudah final, sehingga menempatkan Cina berada di dalam lapisan hierarki paling bawah. Cina diidentikan sebagai wong cilik, kafir, jahat, kalah, dan perempuan. Posisi Cina tersebut, rupanya tidak lepas dari instabilitas teks di dalam Menak Cina itu sendiri. Instabilitas teks mengakibatkan posisi Cina menjadi tertunda dan memungkinkan adanya makna-makna lain tentang Cina. Kelompok lemah yang seharusnya dapat dengan mudah dikuasai oleh kelompok kuat, tergoyahkan. Melalui apa yang dilakukan Adaninggar, Cina dapat terlepas dari identitas sebagai kelompok lemah karena memiliki kontribusi dan cenderung tidak tunduk terhadap kuasa kelompok kuat. Adaninggar berhasil mendobrak pemaknaan terhadap kelompok lemah dengan perjuangan serta tekadnya dalam menegakkan kebenaran, sehingga pemaknaan tentang kelompok lemah runtuh begitu juga pemaknaan terhadap kelompok kuat.
This research aimed to describe the position of the China in Menak Cina text by Yasadipura I. The initial step of this research focuses in identifying binary oppositions inside the text, in order to see the oppositional structure of Menak Cina. Based on the identification, there is a single interpretation of Chinese in Menak Cina text. The narrative of Menak Cina clearly states the strong contrast between the strong and the weak, thus creates a 'privileged existence. This study uses the theory of Jacques Derrida's deconstruction as an analytical tool. The results showed that the text which has been established with the specific meaning can't be separated from the instability of text itself. This is the entrance to elaborate on China's position in the Menak Cina oppositional structure. China's position as a weak group is regarded as something that is final, so the Chinese is put in the bottom layer of the hierarchy. China is identified as a grassroots, pagan, wicked, lost, and women. The Chinese position apparently can't be separated from the text of instability in Menak Cina itself. That instability affects the text to delay China's position and allow the other meanings of China. Vulnerable groups should be easily controlled by the strong, unwavering. Through Adaninggar, China can't be identified as a weak group because it has contributed and isn't an inferior objects to the power of a strong group. Adaninggar managed to break the meaning of the vulnerable groups to struggle and determination in upholding the truth, so that the meaning of the vulnerable groups is collapse, as well as the meaning of the strong group.
Kata Kunci : Menak Cina, Posisi Cina, Dekonstruksi, Instabilitas Teks.