Hubungan Jumlah Darah Menstruasi dengan Anemia Defisiensi Besi pada Wanita Usia Subur
ANANDA EKA ASTIRANI, dr. Detty Siti Nurdiati, MPH, Ph.D, Sp.OG(K); Dr. dr. Emy Huriyati, M.Kes.
2017 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang : Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah gizi yang serius di Indonesia. Wanita usia subur merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap anemia defisiensi besi dikarenakan berbagai keadaan biologis, salah satunya adalah menstruasi. Pola perdarahan menstruasi dapat digunakan sebagai indikator untuk menilai kesehatan reproduksi wanita. Perdarahan menstruasi berat yang terjadi secara periodik dapat mengurangi simpanan dan sirkulasi besi dalam tubuh sehingga tubuh mengalami defisiensi besi yang berujung pada anemia defisiensi besi. Tujuan : Mengetahui hubungan jumlah darah menstruasi dengan anemia defisiensi besi pada wanita usia subur. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional yang dilakukan pada wanita usia subur (15-49 tahun). Penelitian dilakukan di Kecamatan Tegalrejo Kota Yogyakarta. Metode pemilihan sampel dilakukan dengan cara cluster sampling. Uji chi-square dan regresi linier digunakan untuk mengetahui hubungan antara jumlah darah menstruasi dengan anemia defisiensi besi. Hasil : Tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara jumlah darah menstruasi sedang (OR 1,05; CI95% 0,11-2,31; p>0,05) dan berat (OR 1,00; CI95% 0,27-3,68; p>0,05) dengan anemia defisiensi besi pada wanita usia subur. Peningkatan jumlah darah menstruasi sebesar 10 ml dapat menurunkan kadar hemoglobin sebesar 0,03 mg/dl. Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah darah menstruasi dengan anemia defisiensi besi pada wanita usia subur. Semakin banyak jumlah darah menstruasi pada wanita usia subur, kadar hemoglobin akan semakin turun.
Background : Iron deficiency anemia is still being a serious nutritional problem in Indonesia. Women of childbearing age are vulnerable to iron deficiency anemia due to various biological circumstances such as menstruation. Menstrual bleeding pattern can be used as an indicator to assess women's reproductive health. Heavy menstrual bleeding that occurs periodically can reduce deposits and circulation of iron in the body that leads to iron deficiency anemia. Objective : This study aimed to evaluate the association between menstrual blood loss and iron deficiency anemia among women of childbearing age. Method : Cross sectional study with 81 subjects women of childbearing age (15-49 years old) in Tegalrejo District Yogyakarta. Cluster sampling was done to select the subjects. Chi-square and linier regression test was used to analyze the association between menstrual blood loss and iron deficiency anemia. Result : There was no statistically significant association between medium menstrual blood loss (OR 1,05; CI95% 0,11-2,31; p>0,05) and heavy menstrual blood loss (OR 1,00; CI95% 0,27-3,68; p>0,05) with iron deficiency anemia. Increasing 10 ml of menstrual blood loss can lower the hemoglobin level of 0,03 mg / dl. Conclusion : There was no significant relationship between menstrual blood loss and iron deficiency anemia among women of childbearing age. The more the menstrual blood loss in women of childbearing age, the more the hemoglobin level will decrease.
Kata Kunci : jumlah darah menstruasi, anemia defisiensi besi, wanita usia subur