HUBUNGAN STADIUM KLINIS INFEKSI HIV DAN MANIFESTASI MUKOKUTAN (KAJIAN PADA PENDERITA INFEKSI HIV DI RSUP DR.SARDJITO YOGYAKARTA)
ADITYA AGAM NUGRAHA, Dr. dr. Angela Satiti Retno Pudjiati, Sp.KK(K) ; dr. Nurwestu Rusetiyanti, M.Kes, Sp.KK
2017 | Skripsi | S1 PENDIDIKAN DOKTERLatar belakang : Jumlah kasus HIV/AIDS sebagaimana dilaporkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan trend yang meningkat. Pada awal infeksi HIV, biasanya asimptomatik atau tidak terdapat gejala yang spesifik sehingga menyebabkan kesulitan dalam menentukan diagnosis bahwa seseorang itu terinfeksi HIV. Namun pada infeksi yang berkelanjutan, penderita akan mengalami defisiensi imun yang menyebabkan akan sangat mudah terkena infeksi oportunistik. Kelainan kulit hampir selalu muncul selama perjalanan penyakit HIV sebagai akibat dari defisiensi imun atau efek samping pengobatan. Adanya kelainan kulit pada penderita HIV berdampak pada penurunan kualitas hidup, karena dapat mengganggu aktivitas fisik karena penyakitnya maupun gangguan sosial karena perubahan kosmetis pada kulitnya. Ditemukannya manifestasi mukokutan dapat membantu mengetahui derajat keparahan infeksi HIV. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui hubungan antara stadium klinis infeksi HIV dan manifestasi mukokutan Metode Penelitian : Penelitian menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan potong lintang secara restrospektif. Data diambil dari rekam medis pasien infeksi HIV dalam rentang 2011-2015. Data dianalisis menggunakan uji Spearman's rho untuk mengetahui hubungan stadium klinis infeksi HIV dan jumlah manifestasi mukokutan serta uji chi-square dipakai untuk mengetahui hubungan stadium klinis infeksi HIV dan tiap jenis manifestasi mukokutan. Hasil Penelitian : Dari 309 subjek yang diteliti, 225 (72,8%) diantaranya adalah laki-laki dan sebanyak 200 (64,7%) subjek merupakan pasien pada stadium berat. Faktor risiko terbanyak merupakan melewati hubungan seksual (87,4%). Terdapat 271 (87,7%) kasus infeksi, 122 (39,5%) kasus dermatosis inflamasi dan 4 (0,13%) kasus neoplasma mukokutan. Pada penelitian ini menunjukkan hasil bahwa semakin berat stadium klinis infeksi HIV justru menunjukkan jumlah manifestasi mukokutan yang lebih sedikit. Risiko terjadinya dermatosis inflamasi lebih tinggi pada stadium ringan. Penyakit infeksi paling banyak merupakan kandidiasis oral/esophageal/vaginal (60,5%), sedangkan dermatosis inflamasi paling banyak adalah erupsi makulopapular (11,6%). Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara stadium klinis infeksi HIV dan penyakit infeksi maupun neoplasma mukokutan, namun terdapat hubungan yang signifikan antara stadium klinis infeksi HIV dan dermatosis inflamasi. Risiko terjadinya dermatosis inflamasi meningkat pada stadium ringan infeksi HIV.
Background : Total number of HIV/AIDS cases as reported by Ministry of Health of Indonesia showed an increasing trend. HIV infection difficult to diagnose in early stage because there are no specific symptoms. But in late infection, patients will suffer an immunosuppression that cause infected by opportunistic infections easily. Skin lesions appear during HIV infection as result of immunosuppression condition or probably because the side effects of anti-retroviral therapy. The presence of the skin lesions on HIV patients cause decreased quality of life. The presence of mucocutaneous manifestation could help to determine the severity of HIV infection. Objective : To know the correlation between clinical staging of hiv infection and mucocutaneous manifestation. Methods : Design of this study was cross sectional retrospectively. Data was taken from medical record of HIV patients. Analysis of the data used Spearman's rho test to correlate the clinical staging of HIV infection and total manifestation on any subject and then used chi-square test to know the correlation between clinical staging of HIV infection and type of the mucocutaneous manifestation. Result : Out of 309 subjects who were observed, 225 (72,8%) were male and 200 (64,7%) included in severe stage. Major risk factor was sexual intercourse (87,4%). There were 271 (87,7%) skin infections, 122 (39,5%) inflammatory dermatoses, and 4 (0,13%) skin neoplasms. Result showed that more severe clinical staging indicate less number of mucocutaneuous manifestations. The risk of inflammatory dermatoses higher in early clinical staging. The most widely of skin infection was oral/esophageal/vaginal candidiasis (60,5%), while most widely of inflammatory dermatoses was maculopapular eruption (11,6%). Conclusion : There are no any correlation between clinical staging of HIV infection and the cases of skin infection and neoplasm, but there is a significant correlation between clinical staging of HIV infection and inflammatory dermatoses. Early stage of HIV infection have higher risk to inflammatory dermatoses.
Kata Kunci : Infeksi HIV, Manifestasi Mukokutan, Stadium Klinis