PERENCANAAN PENGEMBANGAN PELABUHAN TANJUNG ADIKARTA SEBAGAI SUSTAINABLE MINAPOLITAN
KHAIRINA HELDI PUTRI, Widyasari Her Nugrahandika, ST., M.Sc
2016 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTADalam memperkuat sektor maritim, Yogyakarta membentuk sinergi pengembangan pantai selatan melalui transformasi paradigma budaya among tani menuju dagang layar. Pergeseran pola pikir tersebut sejalan dengan kebijakan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Salah satu strategi yang dilakukan adalah dengan mengakselarasi pembangunan kawasan pesisir di Kabupaten Kulon Progo. Kabupaten Kulon Progo merupakan bagian dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di bagian selatan, sehingga menyimpan potensi sumber daya laut dan perikanan yang melimpah. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sehingga menghambat pengembangan sektor perikanan dan kelautan. Untuk mendorong sektor perikanan dan kelautan melalui pengembangan kawasan pesisir, dilakukan perencanaan pada Kawasan Pelabuhan Tanjung Adikarta sebagai trigger dalam menciptakan multiplier effect pada wilayah sekitarnya. Hasil dari perencanaan ini adalah Master Plan dengan menggunakan konsep sustainable minapolitan. Konsep tersebut merupakan hasil dari perpaduan teori minapolitan berdasarkan Pedoman Rencana Induk Minapolitan (2012) dan Sistem Perikanan Berkelanjutan (Charles, 2001) yang dielaborasikan dengan Elemen Rancang Kota (Shirvani, 1985) dan kriteria pada best practices kawasan pesisir yaitu Delta City di Shantou, China dan Kawasan Pelabuhan Milford Haven, Pembrokeshire. Hasil elaborasi konsep tercipta 4 kriteria sustainable minapolitan yaitu integrative, valuable, resilient dan ecological pattern. Perencanaan sustainable minapolitan tidak hanya mempertimbangkan aspek fisik, namun juga aspek sosial, ekonomi dan kelembagaan. Metode yang digunakan dalam memilih alternatif rencana yang paling optimal adalah Cost Benefit Analysis dengan parameter penilaian NPV, BCR, dan ROI. Pembelajaran yang dapat diambil pada perencanaan ini bahwa penataan kawasan pesisir sebagai wilayah transisi laut dan daratan merupakan faktor keberhasilan dalam mengembangkan sektor perikanan dan kelautan. Perencanaan kawasan pesisir memerlukan perspektif jangka panjang dan pertimbangan multiplier effect dalam proses analisis, sehingga menghasilkan rencana yang relevan dan berkelanjutan.
In order to strengthen maritime sector, Yogyakarta establish synergic development of Southern Coast through the transformation of cultural paradigm from farming to ocean trade. This paradigm shift is in accordance with the vision embodiment of Indonesia as the world maritime axis. One of the strategies is by accelerating development of Tanjung Adikarta Fish Port at Southern Coast of Kulon Progo. Kulon Progo is a part of Yogyakarta which bordered by Indian Ocean in the south. Therefore, It has huge potential of marine and fishery resources. However, this potential has not been used optimally which obstruct the development of marine and fisheries sector. The Tanjung Adikarta Fish Port Area Planning aims to encourage marine and fisheries sector through coastal development as a trigger to create multiplier effects on the hinterland. The planning output is a Master Plan using sustainable minapolitan concept. The concept is a blending theory of minapolitan based on Minapolitan Master Plan Guidelines (2012) and the Sustainable Fisheries System (Charles, 2001) that elaborated by Urban Design Process (Shirvani, 1985) and the selected criteria on best practices in coastal areas specifically Delta City in Shantou, China and Milford Haven Port Area, Pembrokshire. Elaboration of the Sustainable Minapolitan concept produce four criterias, which are integrative, valuable, resilient and ecological pattern. Sustainable Minapolitan Planning not only consider the physical aspects, but also social, economic and institutional. The method used in selecting the alternative plan is a Cost Benefit Analysis with assessment parameters NPV, BCR, and ROI. Lesson learnt from this planning is that coastal areas as a transition area of marine and terrestrial is a success factor in developing fisheries and marine sector. Coastal Areas Plan requires a long-term perspective and multiplier effects consideration as an important aspect in the analysis process, creating a relevant and sustainable plan.
Kata Kunci : Pesisir, Minapolitan, Pelabuhan Perikanan, Coastal, Minapolitan, Sustainable, Fish Port