MANAJER PROYEK INDONESIA DALAM PERSPEKTIF BURNOUT DAN ENGAGEMENT
Prasidananto Nur S, Budi Hartono, S.T., MPM., Ph.D
2017 | Tesis | S2 Teknik IndustriPerubahan dinamika kerja saat ini menimbulkan tantangan baru bagi mental pekerja, salah satunya resiko stres. Stres tidak berhenti disitu saja, namun sebaliknya justru seringkali menjadi gejala awal timbulnya dampak lanjutan yaitu burnout. Burnout merupakan sindrom psikologis yang ditandai dengan adanya kelelahan emosional dan terlepasnya dari keterlibatan kerja. Sebaliknya, engagement merupakan karakteristik keterlibatan kerja sepenuhnya. Efek burnout dalam konteks manajemen proyek dapat mengurangi produktivitas dan menambah jumlah pekerjaan yang tertunda. Hal itu dapat berkontribusi sebagai salah satu penyebab kegagalan proyek. Karenanya, diperoleh gagasan penelitian untuk mempelajari fenomena tersebut dengan pendekatan konsep yang lebih luas, yaitu burnout dan engagement dalam konteks manajer proyek di Indonesia agar dapat diketahui tingkat burnout-engagement manajer proyek di Indonesia dan beberapa hal yang berkaitan dengannya. Studi ini bertujuan untuk mengukur burnout – engagement dan menguji model konseptual yang berkaitan dengan hal tersebut dalam konteks manajer proyek di Indonesia. Manajer proyek sebanyak 78 orang dari berbagai jenis perusahaan berbasis proyek di Indonesia, memberikan respon terhadap kuesioner dengan respon rate sebesar 27,22 persen. Penelitian dilakukan dalam satu waktu (cross-section survey) dengan metode pengambilan sampel snowball sampling. Kuesioner di adopsi berdasarkan konsep job demands-resources (JD-R) dan penelitian sebelumnya. Kuesioner telah diterjemahkan dengan metode back translation dan diuji melalui pilot study sebelum disebarkan kepada responden melalui berbagai media. Hasil penelitian ini telah mengukur burnout dan engagement pada manajer proyek di Indonesia. Faktor pengaruhnya diawali dengan peningkatan sumber daya (JR) akan berpengaruh terhadap penurunan tuntutan kerja (JD) sebesar 41% (β = -0,413, t = -3,957, p. < 0,01). Turunnya JD akan menyebabkan penurunan Burnout (BE) sebesar 37% (β = 0,365, t = 3,087, p. < 0,01). Selanjutnya, hal itu akan meningkatkan kepuasan kerja (JSat) sebesar 25% (β = -0,247, t = -2,220, p. < 0,05), dan meningkatkan pula komitmen organisasi (OC) sebesar 31% (β = 0,305, t = 2,757, p. < 0,01).
The dynamics of work environment currently raises new challenges for worker mental health, one of them is stress considered threats of epidemic in modern society. Stress is not an end unto itself, but on the contrary to be the cause of early symptom of advanced impact i.e. burnout. Burnout is a psychological syndrome of emotional exhaustion and disengagement. In project management context, burnout effects can decrease productivity and increase the number of idle jobs, that are contributed as one of the causes for the project failure. This paper reports on the result of a burnout study among project managers in Indonesia. 78 Project Managers from various project-based companies in Indonesia, providing a response to the questionnaire with a response rate of 27,22 percent. We conduct the research using cross-section survey with the snowball sampling method. An adoption questionnaire was translated with back translation methods based on the concept and previous research. Questionnaires have been tested through a pilot study before distributed to the respondents through various media. This research has measured burnout and engagement on project managers in Indonesia. Factors influence begins with increased resources (JR) will have an effect on decreasing the demands of work (JD) of 41% (β =-0.413, t =-3.957 p. < 0.01). The decline of the JD will cause a decrease in Burnout (BE) by 37% (β = 0.365, t = 3.087 p. < 0.01). Furthermore, it will enhance job satisfaction (JSat) of 25% (β =-0.247, t =-2.220 p. < 0.05), and also improves organizational commitment (OC) by 31% (β = 0.305, t = 2.757 p. < 0.01).
Kata Kunci : job demands-resources (JD-R), burnout, engagement, Manajer proyek Indonesia