Komunikasi Risiko Pemanfaatan Teknologi Nuklir (Studi pada Pengkomunikasian Risiko Program Pembangunan Reaktor Daya Eksperimental (RDE) di Tangerang Selatan, Banten
THERESIA E WIJAYANTI, Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, M. Si.
2016 | Tesis | S2 Ilmu KomunikasiKebijakan pemanfaatan teknologi nuklir untuk pembangkit listrik, seperti pembangunan Reaktor Daya Eksperimental (RDE), berpotensi untuk menimbulkan konflik antara pemilik program dengan komunitas di sekitar tapak. Menciptakan tantangan dalam mengkomunikasikan program kebijakan, khususnya dalam rangka meredakan kekhawatiran publik dan meningkatkan dukungan terhadap program RDE. Menggunakan pendekatan studi kasus, penelitian ini dilakukan untuk memahami secara lebih mendalam bagaimana penerimaan publik terhadap risiko, sebagai upaya untuk meningkatkan efektivitas komunikasi yang diselenggarakan oleh lembaga pemerintah. Studi ini berfokus pada Batan selaku pemilik program, dan masyarakat lokasi dalam radius 1 km di sekitar wilayah tapak RDE. Pengumpulan data dilakukan melalui mekanisme wawancara semi-terstruktur kepada representatif dari kedua belah pihak, serta studi dokumen yang relevan. Hasil studi menunjukkan, pendekatan risiko dari komunitas didasarkan pada penilaian kualitatif dan personal berdasarkan emosi pribadi dan efek risiko personal dan lingkungan komunitasnya. Sebaliknya, Batan menggambarkan risiko secara teknis dengan pendekatan umum risiko-manfaat. Enam isu tematik terkait risiko RDE berfokus pada lingkungan ekologi, kesehatan, teknis, ekonomi, sosio-politik dan sosio-kultural, dengan konsep kunci berfokus pada isu keselamatan fasilitas. Studi juga menunjukkan, komunikasi risiko yang efektif menjadi kian menantang ketika terdapat perbedaan pandangan tentang bagaimana dan mengapa komunikasi RDE harus dilakukan. Studi ini tidak mendukung gagasan bahwa pendekatan top-down atau model komunikasi defisit akan dapat beresonansi dengan kebutuhan dasar komunitas. Studi ini menguatkan kebutuhan untuk pengelolaan keterlibatan publik yang lebih baik, khususnya dalam rangka meningkatkan kepercayaan dan keyakinan, terhadap Batan dan juga teknologi nuklir. Penelitian ini merekomendasikan model transaksional yang tidak hanya berfokus pada karakteristik teknologi, melainkan juga pada penguatan kelembagaan sosial, mengintegrasikan persepsi dan interaksi sosial dalam konteks lokal sebagai cara kreatif untuk memenuhi ekspektasi dan kebutuhan publik.
Policy in the utilization of nuclear technology for power generation, such as Experimental Power Reactor (EPR) construction, potentially may create conflict between project owner and communities living in site vicinity. The situation creates challenges in communicating the policy, particularly in order to alleviate the public anxiety and gain the public support for the EPR program. Using qualitative case study approach, the goal of this study is to create more awareness and understanding on public’s acceptance to risk, as well as its own, as an approach in improving communication conducted by government agencies which are related to the project. The study focuses on Batan as the program owner and local communities living within 1 km radius from EPR site area. The data was collected using semi-structured interview to both parties, as well as relevant documents study. The study shows, the community approach to risk tend to be qualitative and personal, using their subjective emotion and judgement on effects of the risk on themselves and the environment. In contrast, Batan describes risk in terms of technical detail and generalized risks-benefits. Six thematic issues related to risk was identified, namely environments of ecological, health, technical, economic, socio-politic and socio-cultural with key concept focusing on the safety issues of the facility. Furthermore, the study shows that effective risk communication becomes challenging when both parties has different view about how and why the communication activities related to EPR project should be conducted. The study confirms, it would be wrong to assume that the top-down or deficit model of communication will resonate with the basic community needs. The study suggests the need of better management on public involvement, particularly in increasing trust and confidence on Batan and the technology itself. Rather than focusing on the characteristic of technology, this study recommends the improvement on the social institutional arrangement using transactional risk communication model for EPR issues, which incorporating both perception and social interaction by local context as one creative way to meet the public expectations and needs.
Kata Kunci : risiko, komunikasi risiko, nuklir, RDE, PLTN