KEDAULATAN RUANG UDARA INDONESIA DAN ASEAN SINGLE AVIATION MARKET
MOCHAMMAD SYARIF I, Dr. Dafri Aggusalim, MA
2016 | Tesis | S2 Ilmu Hubungan InternasionalDewasa ini, isu yang menyangkut ruang udara dimanfaatkan perannya sebagai instrumen untuk mencapai cita-cita politik bagi suatu negara. Dalam waktu dua dekade ini, perkembangan dalam transportasi moda udara mengalami perubahan kebijakan-kebijakan sesuai dengan arus globalisasi. Bentuk kerjasama yang banyak terjadi dilakukan dalam politik internasional adalah liberalisasi ruang udara dengan skema Open Skies. Tesis ini membahas dan menganalisa mengenai kedaulatan ruang udara Indonesia yang memiliki implikasi dengan kebijakan Open Skies dalam kawasan Asia Tenggara. Liberalisasi ruang udara tersebut terumuskan dalam ASEAN Single Aviation Market (ASAM), yang disepakati pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bali Concord II pada tahun 2003. Hal tersebut merupakan suatu usaha dalam menjembatani konektivitas interaksi antar masyarakat dalam negara-negara anggota ASEAN dan dengan dunia internasional melalui media ruang udara. Bagi Indonesia, kebijakan liberalisasi ruang udara melalui skema Open Skies memiliki makna dengan semakin terbukanya jalur lalu lintas penerbangan di atas wilayah ruang udara Indonesia untuk penerbangan asing. Hal tersebut dilihat oleh Indonesia sebagai suatu ancaman terhadap kedaulatan wilayah ruang udara. Potensi ancaman tersebut dapat terlihat melalui adanya hak melintas (Freedoms of the Air) yang tedapat pada ASEAN Single Aviation Market, sehingga memungkinkan terjadinya pelanggaran black flight. Dan keberadaan ruang udara wialayah Indonesia yang sampai saat ini dikuasai oleh otoritas Singapura, tepatnya ruang udara di atas wilyah Kepualauan Riau. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi respon indonesia dalam menerapkan strategi-strategi guna mengantisipasi potensi ancaman tersebut. Strategi yang dilakuan oleh indonesia menyangkut aspek domestik dan aspek internasional. Aspek domestik yang dilakukan oleh Indonesia merupakan pembenahan kedalam yang terlihat dari sisi perundang-undangan, revitalisasi infrastruktur penunjang penerbangan, serta penigkatan kemampuan dan kompetensi dari regulator dan operator penerbangan Indonesia. Aspek internasional yang dilakukan oleh Indonesia terkait diplomasi Indonesia untuk kembali menjadi anggota Dewan ICAO dan implementasi USOAP, sebagai instrumen kekuatan politik bagi Indonesia untuk berbicara dalam dunia penerbangan sipil internasional sebagai penilaian kemampuan serta citra negara terhadap dunia penerbangan.
Nowadays, issues concerning the airspace utilized its role as an instrument to achieve political ideals of a country. Within two decades, developments in air transport has changed with globalization. The form of cooperation that frequently occur conducted in international politics is the liberalization of air space with Open Skies scheme. This thesis describes and analyzes the air space of the sovereignty of Indonesia, which has implications with Open Skies policy within Southeast Asia region. The airspace liberalization formulated within ASEAN Single Aviation Market (ASAM), which was agreed at the summit of Bali Concord II in 2003. It is an attempt to bridge the interaction between society connectivity within ASEAN member countries and with the international community through the airspace. For Indonesia, the policy of the air space liberalization through Open Skies scheme has meaning with more open lanes of air traffic over the Indonesia airspace territory to foreign airlines. It is seen as a threat by Indonesia to the territorial airspace sovereignty. These potential threats can be seen through the the right Freedoms of the Air which is attached to to the ASEAN Single Aviation Market, making it possible violations black flight and existence of Indonesian airspace controlled by the Singapore authorities over the region of Riau Islands. This research managed to identify the Indonesian response on implementing strategies to anticipate potential threats of airspace sovereignty. The strategy that was done by Indonesia concerning of domestic aspects and international aspects. The domestic aspects conducted by Indonesia is an added improvement of the legislation, the revitalization of aviation support infrastructure, as well as the progressive increase in the ability and competence of the regulators and operators of flight Indonesia. The international aspects conducted by Indonesia related to indonesian diplomatic efforts to be a member of the Council of ICAO and the implementation of the USOAP, as an instrument of political strength for Indonesia to gain position in the world of international civil aviation as well as the ability to assessment on the country's image on the world of aviation.
Kata Kunci : Open Skies, Airspace Sovereignty, Indonesia, ASEAN