Laporkan Masalah

PENATAAN KAWASAN PERMUKIMAN DAN SITUS SEJARAH BANTARAN SUNGAI GAJAHWONG YOGYAKARTA DENGAN KONSEP LIVABLE RIVERSIDE COMMUNITIES

DEDY PAMUNGKAS, Dr. Eng. Ir. Ahmad Sarwadi, M.Eng.

2016 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Sungai Gajah Wong terletak di bagian timur Kota Yogyakarta. Sama halnya seperti permasalahan bantaran sungai pada umumnya, keterbatasan lahan di kawasan bantaran sungai telah menyebabkan munculnya kawasan hunian yang kurang layak bagi masyarakat serta rentan terhadap bencana. Selain itu di kawasan ini, tepatnya di Kampung Warungboto dan Rejowinangun, terdapat situs sejarah dan aktivitas budaya yang sangat berpotensi untuk dikembangkan. Namun keberadaan situs tersebut sangat memprihatinkan. Kondisi situs ini dikhawatrikan akan semakin mati dan terbengkalai apabila kawasan ini tidak ditata. Mengingat adanya nilai sejarah dan budaya yang tinggi, maka dari itu dibutuhkan suatu perencanaan terhadap kawasan permukiman bantaran sungai tersebut agar tercipta kawasan bantaran sungai yang berdaya hidup dengan menguggulkan nilai sejarah dan budaya. Perencanaan ini menggunakan konsep dasar livable communities yang mengedepankan aspek-aspek daya hidup kawasan bantaran sungai. Adapun konsep yang berjudul “Beranda Budaya” tersebut terdiri dari restoration, integrated, eco-culture friendly, cultural space, dan cultural communities. Keluaran dari rencana pengembangan kawasan ini yaitu berupa Master Plandengan skala 1:2500. Rencana ini terdiri dari rencana spasial dan rencana non spasial. Rencana spasial berupa restorasi sempadan sungai dan situs sejarah, penataan hunian, serta penataan fasilitas dan utilitas kawasan. Sedangkan rencana non spasial berupa pengembangan kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat lokal.

Gajah Wong River is located in the eastern part of the city of Yogyakarta. Just as the problems along river banks in generally, limited land in the area along the river has led to the emergence of residential areas are less suitable for the community and are vulnerable to disasters. Also in this area, precisely in Warungboto and Rejowinangun Kampong, there are historical sites and cultural activity potentially to be developed. But the existence of such sites is very worrying. This site conditions will be iddle and abandoned when the area is not planned. Given the historical and cultural values are high, and therefore requires a planning of the residential area of the river banks along the river area in order to create viable with carrying historical and cultural value. This plan uses the basic concept of livable communities that promote aspects of the vitality of the area along the river. The concept called “Beranda Budaya” consists of restoration, integrated, eco-culture friendly, cultural space, and cultural communities. The output of the development plan of the area is a Master Plan with a scale of 1: 2500. This plan consists of a spatial plan and non spatial plan. Spatial plan in the form of restoration of riparian and historical sites, residential plan, as well as the plan of facilities and utility. While nonspatial plan is the development of economic activities, social, cultural and local communities.

Kata Kunci : perencanaan, kawasan bantaran sungai, permukiman kumuh, daya hidup, sejarah, budaya / Keyword: planning, riverbank, slum area, livable communities, historical, culture

  1. S1-2016-330067-abstract.pdf  
  2. S1-2016-330067-bibliography.pdf  
  3. S1-2016-330067-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2016-330067-title.pdf