AKOMODASI ISLAM TERHADAP PRAKTIK MISTIS PADA KESENIAN JATHILAN(Studi Pada Kelompok Jathilan "Kudho Rumekso" di Dusun Srunggo 1, Kelurahan Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY)
NELWIN NOORDIAN DWI ADHA , Drs. PURWANTO, SU, M.Phil
2016 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIJathilan merupakan salah satu kesenian Jawa yang sudah lama berkembang di masyarakat Jawa dan hingga saat ini masih bisa ditelusuri keberadaannya. Jathilan semula digunakan untuk upacara adat namun sekarang ini jathilan mulai dipertunjukan di berbagai acara seperti acara adat, syukuran dan khitanan. Untuk mempertahankan kesenian jathilan tersebut, maka Dusun Srunggo 1 membuat kelompok jathilan yaitu "Kudho Rumekso" Kelompok tersebut dalam setiap pertunjukannya menampilkan adegan trance yang diakibatkan oleh adanya praktik mistis yang dilakukan pawang jathilan. Menariknya praktik mistis tersebut dilakukan oleh pawang yang beragama Islam dan pemain yang mengalami trance juga beragama Islam. Dengan demikian, muncullah pertanyaan penelitian terkait dengan proses pewarisan kesenian jathilan dan akomodasi Islam berkaitan dengan praktik mistis pada jathilan. Untuk mendalami/menjawab permasalahan tersebut digunakan metode kualitatif deskriptif yang dilakukan di Dusun Srunggo 1, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi dan dilengkapi dengan data sekunder yang diambil dari buku-buku yang relevan. Informan dalam penelitian ini adalah perintis kesenian jathilan (tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama), kelompok jathilan "Kudho Rumekso" (ketua, pawang dan pemain jathilan) dan masyarakat setempat. Kelompok jathilan "Kudho Rumekso" menampilkan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Praktik mistis yang ada dalam jathilan sebagai wujud akulturasi yang kemudian diterima oleh masyarakat melalui proses akomodasi. Dalam setiap prosesi pertunjukan jathilan memperlihatkan aktifitas berbau mistis yaitu penggunaan sesaji dan pembakaran kemenyan untuk trance yang ada kaitannya dengan roh-roh halus masih dilakukan padahal mayoritas anggota kelompok jathilan "Kudho Rumekso" beragama Islam. Hasil penelitian memperlihatkan adanya proses pewarisan seni jathilan dalam kelompok "Kudho Rumekso" yang bisa dilihat dari penerimaan masyarakat, proses regenerasi dan nilai budaya Jawa. Dalam setiap pertunjukannya memperlihatkan akulturasi budaya Jawa dan Islam yang dapat dilihat pada amalan-amalan dan aturan-aturan yang harus dilakukan seperti perpaduan antara wirid dan mantra dan juga praktik laku (puasa). Selain akulturasi budaya Jawa dan Islam, adapula akomodasi Islam yang terlihat pada lirik lagu yang digunakan pada saat pertunjukan. Pada saat pertunjukan lagu-lagu Jawa yang bernuansa Islam dinyanyikan untuk mengiringi pemain ketika masuk pada adegan trance. Kata Kunci: praktik mistis, jathilan, akomodasi Islam, proses pewarisan
Jathilan is one of the Javanese arts that has long developed in its community and still exists to this day. Jathilan was originally meant to be performed in traditional rites. Today, however, Jathilan is performed in various events such as traditional events, thaksgivings, and the circumcision ceremonies. As a means to preserve this art, The Srunggo hamlet formed a Jathilan group called "Kudho Rumekso". In every performance, this group features a trance scene which is caused by the mystical practices of the handler. Interestingly, both the handler and the performers who go into a trance are Muslims. Accordingly, it raises questions on the inheritance process of Jathilan and Islam accommodation on the mystical practices in Jathilan. The qualitative descriptive research is performed in Srunggo 1 Hamlet, Selopamioro, Imogiri, Bantul on the attempt to explore and answer the problems of research. The data are collected using the observation, interview and documentation techniques, and equipped with secondary data collected from relevant books. The informants for this research are the pioneers of Jathilan (community leaders, traditional leaders and religious leaders), the "Kudho Rumekso" Jathilan group (the leader, the handler and the members) and the local community. "Kudho Rumekso" Jathilan group features acculturation of Javanese and Islamic cultures. The mystical practices in Jathilan are some forms of acculturation which then received by the community through a process of accommodation. In each performance, Jathilan demonstrates mystical proceedings such as making offerings and burning incense to put the players into a trance, which has something to do with spirits. These practices are still carried out even though the majority of the "Kudho Rumekso" Jathilan group members are Muslims. Research findings show that the inheritance process of Jathilan in "Kudho Rumekso" can be seen from the public reception, the regeneration process, and the cultural values of Java. Each performance shows the acculturation of Javanese and Islamic cultures from the practices and rules that must be carried out, such as integrating the wirid and spells; and behavioral practices such as fasting. In addition to Javanese and Islamic acculturation, Islam's accommodations are also found in the lyrics of the songs used during the show. Javanese songs with Islamic nuances are sung as an accompaniment to the players into the trance scene. Keywords: mystical practices, Jathilan, Islam accomodation, inheritance process
Kata Kunci : praktik mistis, jathilan, akomodasi Islam, proses pewarisan