Laporkan Masalah

PERSEPSI WISATAWAN DOMESTIK TERHADAP KARAKTERISTIK KEPARIWISATAAN DI KAWASAN TITIK NOL KILOMETER YOGYAKARTA

AISHA ASTRIECIA, Prof. Ir. T. Yoyok Wahyu Subroto, M.Eng., Ph.D

2016 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur

Kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta atau Kawasan 0 KM merupakan titik penanda jarak di wilayah Yogyakarta dan merupakan kawasan wisata budaya. Kawasan ini dikelilingi oleh bangunan cagar budaya peninggalan penjajahan Belanda. Kawasan 0 KM menjadi salah satu ikon wisata Yogyakarta sehingga setiap harinya selalu ramai dikunjungi wisatawan. Wisatawan yang mendominasi kunjungan adalah wisatawan domestik. Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan terjadi mulai pada sore sampai malam hari. Tingginya jumlah kunjungan wisatawan menarik kedatangan pedagang kaki lima dan pengamen. Keberadaan pedagang kaki lima dan pengamen menyebabkan terjadinya kekumuhan di kawasan wisata ini. Kekumuhan jelas terlihat setelah kegiatan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi wisatawan domestik terhadap kawasan 0 KM terkait dengan terjadinya kekumuhan setelah aktivitas wisata. Selanjutnya untuk mengetahui tujuan tersebut, pertanyaan yang diajukan yang pertama adalah bagaimana karakteristik kepariwisataan di Kawasan 0 KM, kedua bagaimana persepsi wisatawan terhadap karakteristik kepariwisataan di Kawasan 0 KM, dan yang ketiga faktor apakah yang mempengaruhi pembentukan persepsi wisatawan. Metode penelitian yang digunakan meliputi observasi, kuisioner, dan wawancara kemudian hasil data dianalisis dan dideskripsikan.Kuisioner menggunakan kuisioner dengan skala semantik diferensial untuk melihat grafik kecenderungan persepsi. Wawancara dilakukan untuk mengklarifikasi data yang diperoleh dari wisatawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan 0 KM belum dipersepsikan secara kuat sebagai kawasan wisata budaya. Banyak wisatawan yang mempersepsikan kawasan 0 KM sebagai jalur lalu lintas dari dan ke Malioboro, tempat nongkrong, dan taman kota. Hasil tersebut dipengaruhi oleh sorotan utama di kawasan ini yang cenderung pada kawasan pedestrian dibandingkan pada cagar budayanya.

Zero Kilometer Area Yogyakarta or 0 KM Area is a milestone of Yogyakrta included as one of cultural tourism area. This area is surrounded by cultural heritage building of Dutch occupation. Zero KM area becomes an icon of Yogyakarta tourism inviting crowd everyday. Domestic tourists are dominating the visit. Number of touristsstart to increasein the afternoon until night. The high increases of tourists inevitably invite street vendors and street singers. This causes untidiness in this tourism area. This condition can be apparently seen after tourism activity. The present study aims at finding out domestic tourists� perception of 0 KM area related to occurrence of dirtiness after tourism activity. Furthermore, research problem questions are how tourism characteristics of o KM areaare. Secondly, how tourists perception of tourism characteristic at 0 KM area, and the third is what factors affect the perception of tourists. Research method included observation, questionnaire and interview.The results of data were further analyzed and described. Semantic differential scale was used for the questionnaire to see graphic of perception tendency. An interview was conducted to clarify data obtained from the tourists. The result of study revealed that 0 KM area has not yet been perceived strongly as one cultural tourism area. Many tourists have perception of 0 KM area as merely traffic way from and to Malioboro, hangout spots, and townsquare. The result of this study was influenced by the main highlight of this area tent to be perceived as pedestrian way rather than cultural heritage area.

Kata Kunci : persepsi, nol kilometer, wisata budaya, wisatawan domestik

  1. S2-2016-372776-abstract.pdf  
  2. S2-2016-372776-bibliography.pdf  
  3. S2-2016-372776-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2016-372776-title.pdf