Evaluasi kinerja program pengembangan kawasan pariwisata terpadu di Pulau Bintan Kabupaten Kepulauan Riau
PRAWIRA, Luki Zaiman, Dr. Nasikun
2003 | Tesis | Magister Administrasi PublikPokok permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana kinerja program pengembangan kawasan pariwisata terpadu di Pulau Bintan Kabupaten Kepulauan Riau khususnya terhadap peningkatan arus wisatawan, penanaman investasi internasional bidang kepariwisataan, pengaruhnya terhadap kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, serta peningkatan penerimaan keuangan daerah (PAD), dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan program tersebut. Penelitian ini menggunakan metode evaluation research dengan melakukan studi single program before-after (single interrupted time-series). Program pengembangan kawasan pariwisata terpadu di Pulau Bintan dipandang sebagai sebab atau variabel bebas, sedangkan hasil program terhadap daerah Kabupaten Kepulauan Riau sebagai akibat atau variabel tergantung dan pemahaman sebagai model kausal. Desain penelitian yang digunakan dalam evaluasi program ini adalah the pretest-posttest with no comparison group. Tehnik pengumpulan data yang dilakukan adalah pengumpulan data sekunder (dokumentasi) dan data primer (wawancara dan observasi). Analisis data pada penelitian ini menggunakan cara deskriptif pendekatan kualitatif dengan tipe analitik evaluatif. Dari hasil penelitian dan analisis yang dilakukan, disimpulkan bahwa lahirnya program pengembangan kawasan pariwisata terpadu di Pulau Bintan Kabupaten Kepulauan Riau didasari oleh nota kesepakatan Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Singapura tentang kerjasama ekonomi dalam rangka pengembanga n Propinsi Riau yang ditandatangani di Singapura pada tanggal 28 Agustus 1990. Program tersebut telah berjalan dengan efektif khususnya terhadap daerah Kabupaten Kepulauan Riau. Hal ini dapat terlihat dari meningkatnya jumlah kunjungan dan perjalanan wisata ke Kabupaten Kepulauan Riau (pasca pemekaran) yang mencapai 325.069 wisatawan pada tahun 2002, besarnya investasi internasional di bidang kepariwisataan yang mencapai US$587.178.500,- mulai tahun 1991 s/d 2003, terbukanya kesempatan kerja dan kesempatan berusaha yang dapat terlihat dari jumlah tenaga kerja yang bekerja di kawasan pariwisata tersebut sebanyak 7.284 orang pada tahun 2002, serta sebagai sumber penerimaan bagi daerah (PAD) Kabupaten Kepulauan Riau dari kawasan pariwisata terpadu yang meliputi penerimaan pajak daerah sebesar Rp.42.523.245.362,- dan retribusi daerah sebesar Rp.129.233.554,- pada tahun 2002. Keberhasilan pelaksanaan program pengembangan kawasan pariwisata terpadu di Pulau Bintan tentunya tidak dapat berjalan dengan sendirinya. Ba nyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan ataupun kegagalan pelaksanaan program tersebut, diantaranya adalah besarnya dukungan dari pemerintah RI. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya peraturan perundangan yang dibuat oleh pemerintah guna melancarkan pelaksanaan program, serta dukungan pelaksana program yaitu TKP2R. Faktor lainnya adalah peran masyarakat berupa kesediaan untuk membebaskan tanah milik mereka sebagai areal pelaksanaan program yang dapat terlihat dari 23.000 Ha lahan yang dicanangkan, telah dilakukan pembebasan seluas 17.906 Ha atau lebih kurang 77,85% (sampai dengan tahun 2002). Terjadi konflik di masyarakat akibat pembebasan lahan yang dilakukan diluar prosudur yang telah ditetapkan. Faktor terakhir adalah strategi pemasaran wisata yang tepat. Strategi pemasaran wisata dilakukan oleh PT. Bintan Resort Corporation selaku pengembang dan pengelola kawasan pariwisata terpadu di Pulau Bintan juga oleh tiap-tiap perusahaan yang menanamkan modalnya di kawasan tersebut melalui perwakilannya di luar negeri.
This research addresses the question whether the development program for an integrated tourism area in Bintan Island brings positive impacts to Riau Kepulauan regency, particularly to the flow of tourists, international investment in tourism sector, employment and business opportunities, and improvement of the Original Regional Revenue (PAD). It also aims to study the factors contributing the success or failure of the development program. The research is an evaluation research in impact assessme nt level by conducting a single- interrupted time-series study. The development program for an integrated tourism area in Bintan Island is considered as the cause or the independent variable, while the impact of the program is the result or the dependent variable. This follows a cause-result model. The research design for the evaluation of the program adopts pre-test and post-test with no comparison group. The techniques for the data collection are document study to obtain the secondary data and interview a nd observation to obtain the primary data. The analysis takes a descriptive and qualitative approach using an evaluative analytic type. The research concludes that the idea of the development program for an integrated tourism area in Bintan Island comes from the MOU between the Indonesian government and The Republic of Singapore government on economic cooperation for the development of Riau Province, signed on August 28, 1990. The program brings positive impacts to Riau Kepulauan regency. It is seen from the following statistics. The number of tourist visit and travel to the regency (after the expansion) increases to a total of 325,069 tourists in 2002; the amount of international investment in tourism sector reaches US$ 587,178,500 from 1991 to 2003; the opening of employment and business opportunity enables 7,284 labor forces to work in this tourism area in 2002; and the Original Regional Revenue generated from the integrated tourism area consists of the regional tax revenue of Rp 42,523,245,362 and the regional retribution of Rp 129,233,554 in 2002. The success and failure of the development program are determined by some factors, one of which is the commitment from the government and the program executive. It can be observed from the number of legislation products to support the program and the support from the program executive, that is TKP2R. Another factor is the people’s participation in the form of willingness to give their land for the area of program implementation. Of the targeted 23,000 ha, 17,906 ha or more than 77.85% (until 2002) has been acquired from the people. The last factor is the right marketing strategy. The marketing is handled by PT Bintan Resort Corporation acting as the developer and management of the integrated tourism area in Bintan island, as well as by each company which invests its capital in this area through its representative in other countries.
Kata Kunci : Pemerintah Daerah, Kinerja Program Pengembangan Pariwisata