Laporkan Masalah

TINDAK TUTUR MENGKRITIK DALAM BAHASA INGGRIS OLEH PEMBELAJAR BAHASA INGGRIS DI INDONESIA DAN PENUTUR BAHASA INGGRIS AUSTRALIA

ANISA ALFERSIA, Dr. Aris Munandar, M.Hum.

2016 | Tesis | S2 Ilmu Linguistik

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan strategi tindak tutur mengkritik oleh pembelajar bahasa Inggris di Indonesia (PBII) dan penutur bahasa Inggris Australia (PBIA), perbedaan antara keduanya, serta faktor yang menyebabkannya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan metode sadap dan menggunakan kuisioner berupa Discourse Completing Task (DCT) atau teks melengkapi wacana (TMW) yang dimodifikasi dengan gambar. TMW dibagikan pada 15 responden pembelajar bahasa Inggris di Indonesia (PBII) dan 13 responden penutur bahasa Inggris Australia (PBIA). Hasil yang ditemukan dari penelitian ini adalah terdapat beberapa beberapa perbedaan realisasi tindak tutur kritik oleh PBII dan PBIA. Secara garis besar perbedaan tersebut terletak pada bentuk tuturan dan strategi yang digunakan. Bentuk tuturan terlihat pada (1) frekuensi penggunakan jenis kalimat, (2) penggunaan kata sapaan dan (3) penggunaan diksi yang berbeda antara PBII dan PBIA. Baik PBII dan PBIA menggunakan jenis kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif dalam mengkritik. PBII cenderung lebih banyak menggunakan kalimat eksklamatif daripada PBIA karena hanya terdapat 1 kalimat eksklamatif oleh PBIA dan terjadi akibat interferensi bahasa Indonesia. PBII cenderung lebih banyak menggunakan kata sapaan dari PBIA. Perbedaan penggunaan strategi terdiri dari (1) jumlah kombinasi strategi (2) cara penyampaian kritik (3) strategi kritik dan modifier yang digunakan. Terdapat hingga 4 kombinasi tindak tutur yang digunakan oleh PBII sedangkan PBIA hanya menggunakan maksimal kombinasi 3 tindak tutur. dilihat dari cara penyampaian kritik pada MT, PBIA cenderung lebih banyak menyampaikan kritik secara langsung pada MT daripada PBII. PBII memiliki kecenderungan yang lebih besar dari PBIA untuk menyampaikan kritik pada orang ke-tiga. Terdapat 13 strategi yang digunakan oleh PBII dan 10 strategi yang digunakan oleh PBIA. PBII menggunakan 16 jenis penanda kesantunan dan PBIA menggunakan 13 jenis penanda kesantunan. Terdapat dua faktor yang menyebabkan perbedaan realisasi tindak tutur kritik antara PBII dan PBIA. Faktor-faktor tersebut adalah (1) faktor linguistik yang terdiri dari keterbatasan bahasa Inggris dan interferensi bahasa pertama dan (2) faktor nonlinguistik yang merupakan faktor perbedaan budaya, perbedaan pola pikir, dan perbedaan sifat individu.

The objectives of this study are to describe the criticizing realizations of Indonesia English Learners and Australian English Native speakers, the differences between them, and the factors causing those differences. This study applied quantitative and qualitative method. The data in this study were collected by distributing Discourse Completing Task (DCT) to 15 Indonesian English learners and 13 Australian English native speakers. The results of this study are the findings of the differences of form and strategies used by Indonesian English learners and Australian English native speakers. Form differences are divided into (1) the use of Sentence types (2) the use of greetings (3) the word choices. Both Indonesian English learners and Australian English native speakers used declarative, interrogative, and imperative sentences in criticizing. PBII also used exclamative sentences in criticizing, there is only one exclamative sentence used by Australian English native speakers and it is because of the Indonesian Language interferences. Indonesian English learners used more greetings in criticizing than Australian English native speakers did. The strategies differences consists of (1) the number of strategies combinations (2) the way criticisms are delivered (3) the strategy types and modifiers used. Indonesian English learners used combination of four strategies and modifiers maximum and Australian English native speakers used combination of three strategies and modifiers maximum. Australian English native speakers tend to deliver criticism directly to the hearer and Indonesian English learners have a larger tendency to deliver criticism to the third speaker than Australian English native speakers do. Indonesian English learners used 13 criticizing strategies and 16 modifiers in criticizing and Australian English native speakers used 10 criticizing strategies and 13 modifiers in criticizing. There are two factors causing these differences, they are (1) linguistic factors i.e. lack of English proficiency and first language interferences in PBII and (2) nonlinguistic factors which is a cultural factor, the mindset difference, and personal character. Keywords: Interlanguage pragmatic, criticizing, Indonesia, Australia.

Kata Kunci : Pragmatik bahasa antara, mengkritik, Indonesia, Australia

  1. S2-2016-370911-abstract.pdf  
  2. S2-2016-370911-bibliography.pdf  
  3. S2-2016-370911-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2016-370911-title.pdf