POTRET-POTRET MIMPI STUDI TENTANG PRAKTIK SELFIE DI YOGYAKARTA
M. AGUNG W. YUDHA B, Prof.Dr.P.M. Laksono, M.A.
2016 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYASelfie, sebagai sebuah kata telah resmi terdaftar sebagai kosakata baru dalam Oxford Dictionary sejak Agustus 2013 dan telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia menjadi swafoto. Selfie, sebagai sebuah praktik fotografi dapat digolongkan sebagai sebuah genre fotografi baru yang ternyata juga menghadirkan berbagai macam fenomena baru. Saat ini, selfie telah hadir dalam kehidupan selama satu dekade sejak awal kemunculannya pada tahun 2002. Selama itu pula selfie menjadi sebuah praktik kegiatan sehari-hari yang menghadirkan berbagai macam persoalan. Persoalan-persoalan terkait selfie inilah yang akan menjadi fokus dari penelitian ini. Penelitian ini berlangsung sejak bulan Januari 2015 hingga bulan Maret 2016 di Yogyakarta dan menghadirkan pihak-pihak yang dapat menjadi representasi dari perkembangan terkini seputar selfie di Yogyakarta. Para pelaku selfie di Yogyakarta, anggota komunitas World Wide Instameet Yogyakarta dan jajaran direksi akun Instagram @Jogjaselfie menjadi satu kesatuan narasumber yang dipilih dalam rangka menghadirkan berbagai macam perspektif yang luas. Penelitian ini bersifat kualitatif dan menggunakan metode etnografi sebagai metode pengumpulan datanya. Penelitian ini menunjukkan bahwa selfie adalah sebuah hasrat yang diumbar tanpa batas, sebuah usaha individu untuk menggapai mimpi-mimpinya, dan menahbiskan identitas dan posisi kelas sosialnya. Selfie di Yogyakarta telah menjalin sebuah hubungan yang serius. Masyarakat Yogyakarta mempunyai cara tersendiri untuk menyikapi persoalan-persoalan yang muncul akibat selfie, yaitu dengan menciptakan kesadaran-kesadaran baru tanpa menciptakan larangan.
Selfie, as a word has officially registered as a new vocabulary in the Oxford Dictionary since August 2013 and has adapted into swafoto in Bahasa Indonesia. Selfie, as a photographic practice can be classified as a new genre of photography.Its brings a variety of new phenomena. Selfie has been present in our lives of over a decade since 2002. Selfiehas become a practice of daily activities which was bring various problems. Selfie-related issues is the focus of this research. My researchwas started in January 2015 until March 2016 in Yogyakarta and bring the parties that can be a representation of the recent developments surrounding the selfie phenomena in Yogyakarta. The-people-who-did-selfie, community members of World Wide Instameet Yogyakarta community and the board of directors of @Jogjaselfie into a single resource that is selected in order to present a wide range of broad perspectives. This is a qualitative research that using ethnographic method as the data collection method. My study shows that a selfie is a limitless desire an individual effort to reach his dreams, and consecrate his identity and his position in his social class. Selfie in Yogyakarta has established a very serious relationship. Yogyakarta community has its own way to managed the issues, they’re creating new consciousness without creating restrictions.
Kata Kunci : selfie, identitas, Jogja Selfie, Yogyakarta