WACANA MASKULINITAS LOKAL DALAM MAJALAH ESQUIRE
HARMONA DAULAY, S.SOS.M.SI, Prof. Dr. Heru Nugroho;Dr.Wening Udasmoro
2016 | Disertasi | S3 Ilmu SosiologiMajalah gaya hidup pria jenis waralaba yang begitu masif terbit pada awal tahun 2000-an kebanyakan menawarkan maskulinitas global ala Barat. Maskulinitas global ini mengkonstruksikan maskulinitas dalam konteks pria metroseksual ala Barat. Sebagai majalah waralaba tentu majalah Esquire Indonesia mempunyai misi-misi global. Hal yang menarik adalah ketika Esquire Indonesia menampilkan wacana maskulinitas lokal dalam suatu artikel dan berita. Berdasarkan hal tersebut permasalahan penelitian ini adalah bagaimana wacana maskulinitas lokal dalam majalah Esquire Indonesia yang tampil dalam konteks budaya dan gaya hidup di Indonesia. Analisis menggunakan teori wacana dari Foucault dan maskulinitas hegemonik dari R.W Connell. Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis dari (CDA) Fairclough dengan menganalisis 11 artikel terpilih tentang maskulinitas lokal yang terbit di majalah Esquire Indonesia dalam rentang waktu. Hasil penelitian memperlihatkan wacana pria metroseksual dalam majalah Esquire Indonesia memang sangat erat dengan fenomena wacana maskulinitas global Barat. Wacana maskulinitas lokal yang muncul yaitu pria bangsawan, ayah panutan dan suami idaman, pria berkesenian, busana pria dan pria & watra, dan pria agamis. Kelima wacana ini memang sangat kental berbicara tentang maskulinitas lokal Indonesia dalam konteks maskulinitas hegemonik. Wacana umum maskulinitas lokal yang muncul sangat didominasi oleh maskulinitas representasi sosial kelas menengah ke atas. Khusus untuk wacana pria metroseksual penelitian menemukan wacana maskulinitas sosialita dalam kehidupan kelas atas di kota metropolitan (Jakarta). Wacana maskulinitas lokal tersebut hanya sebagai pelengkap dalam rangka memposisikan bahwa majalah Esquire Indonesia sebagai majalah pria waralaba terbit di Indonesia. Peran Majalah Esquire Indonesia sebagai agen sosialisasi, konstruksi, dan representasi maskulinitas lokal Indonesia belumlah maksimal. Hal ini terkait juga dengan wacana maskulinitas lokal yang tampil memang masih belum menunjukkan nilai lokalitas wajah Indonesia secara utuh dari lingkup geografis, sosial, dan etnisitas yang ada di Indonesia. Dominasi wacana maskulinitas Jawa yang tampil dalam Esquire Indonesia ini masih menunjukkan bahwa wacana maskulinitas lokal hanya merupakan sebagian wajah maskulinitas lokal Indonesia. Isu maskulinitas yang dibahas di majalah Esquire belumlah sepenuhnya memperdebatkan maskulinitas dalam konteks struktur sosial yang menjadi wacana normatif bagi pria pembaca. Maskulinitas lokal yang tampil lebih sebagai komoditas yang dipergunakan oleh majalah Esquire Indonesia sendiri maupun produsen yang berkepentingan atas peningkatan penjualan produk mereka. Maskulinitas lokal menjadi suplemen pelengkap bagi maskulinitas hegemonik dalam cengkraman wacana maskulinitas global.
Majalah gaya hidup pria jenis waralaba yang begitu masif terbit pada awal tahun 2000-an kebanyakan menawarkan maskulinitas global ala Barat. Maskulinitas global ini mengkonstruksikan maskulinitas dalam konteks pria metroseksual ala Barat. Sebagai majalah waralaba tentu majalah Esquire Indonesia mempunyai misi-misi global. Hal yang menarik adalah ketika Esquire Indonesia menampilkan wacana maskulinitas lokal dalam suatu artikel dan berita. Berdasarkan hal tersebut permasalahan penelitian ini adalah bagaimana wacana maskulinitas lokal dalam majalah Esquire Indonesia yang tampil dalam konteks budaya dan gaya hidup di Indonesia. Analisis menggunakan teori wacana dari Foucault dan maskulinitas hegemonik dari R.W Connell. Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis dari (CDA) Fairclough dengan menganalisis 11 artikel terpilih tentang maskulinitas lokal yang terbit di majalah Esquire Indonesia dalam rentang waktu awal terbit tahun 2007-2012. Hasil penelitian memperlihatkan wacana pria metroseksual dalam majalah Esquire Indonesia memang sangat erat dengan fenomena wacana maskulinitas global Barat. Wacana maskulinitas lokal yang muncul yaitu pria bangsawan, ayah panutan dan suami idaman, pria berkesenian, busana pria dan pria & watra, dan pria agamis. Kelima wacana ini memang sangat kental berbicara tentang maskulinitas lokal Indonesia dalam konteks maskulinitas hegemonik. Wacana umum maskulinitas lokal yang muncul sangat didominasi oleh maskulinitas representasi sosial kelas menengah ke atas. Khusus untuk wacana pria metroseksual penelitian menemukan wacana maskulinitas sosialita dalam kehidupan kelas atas di kota metropolitan (Jakarta). Wacana maskulinitas lokal tersebut hanya sebagai pelengkap dalam rangka memposisikan bahwa majalah Esquire Indonesia sebagai majalah pria waralaba terbit di Indonesia. Peran Majalah Esquire Indonesia sebagai agen sosialisasi, konstruksi, dan representasi maskulinitas lokal Indonesia belumlah maksimal. Hal ini terkait juga dengan wacana maskulinitas lokal yang tampil memang masih belum menunjukkan nilai lokalitas wajah Indonesia secara utuh dari lingkup geografis, sosial, dan etnisitas yang ada di Indonesia. Dominasi wacana maskulinitas Jawa yang tampil dalam Esquire Indonesia ini masih menunjukkan bahwa wacana maskulinitas lokal hanya merupakan sebagian wajah maskulinitas lokal Indonesia. Isu maskulinitas yang dibahas di majalah Esquire belumlah sepenuhnya memperdebatkan maskulinitas dalam konteks struktur sosial yang menjadi wacana normatif bagi pria pembaca. Maskulinitas lokal yang tampil lebih sebagai komoditas yang dipergunakan oleh majalah Esquire Indonesia sendiri maupun produsen yang berkepentingan atas peningkatan penjualan produk mereka. Maskulinitas lokal menjadi suplemen pelengkap bagi maskulinitas hegemonik dalam cengkraman wacana maskulinitas global.
Kata Kunci : Maskulinitas lokal, maskulinitas sosialita, Majalah Esquire Indonesia,Critical Discourse Analysis(CDA)/Local masculinity, socialite masculinity, Esquire Indonesia magazine, Critical Discourse Analysis (CDA).