Sekolah Metafisika: Rintisan Sekolah Berpandangan Mekanika Kuantum(Studi Etnografi di Yayasan Adiluhung Insan Semesta di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur)
NUR ALFIANA, Dr. Muhamad Supraja, S.H, S.Sos, M.Si
2015 | Skripsi | S1 SOSIOLOGISaat ini, nuansa budaya di masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa terjadi degradasi spiritualitas dan kebobrokan moral. Masyarakat mulai jauh dari ketetraman batin dan spiritual. Standarisasi kesuksesan hidup diukur dengan materi. Pikiran, rahsa dan intuisi dalam melihat perkembangan konsep diri dianggap hal tabu. Kondisi masyarakat yang demikian dapat diyakini bahwa masyarakat telah mengeyam model pendidikan material dan mulai jauh dari proses pendidikan metafisika yang mengajarkan tentang spiritual. Sayangnya, ideologi pendidikan metafisika sangat jarang sekali diminati oleh kalangan akademisi dalam kajian keilmuan (riset). Hal ini menjadikan penting untuk diadakanya studi etnografi dengan kajian persekolahan berideologi metafisika. Di kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, muncul sebuah persekolahan metafisika yang berpandangan mekanika kuantum, sekolah ini bernama Adiluhung Insan Semesta (ADINSA). Dengan melihat permasalahan di atas, peneliti memiliki rumusan masalah yaitu: Bagaimana cara yang dilakukan oleh para founder ADINSA untuk mendapatkan legitimasi? bagaimana outcome dari sekolah metafisika ADINSA? serta bagaimana tanggapan dari kalangan akademisi, guru sekolah formal, budayawan dan pemerintah Kabupaten Tulungagung terhadap keberadaan model sekolah metafisika ADINSA di arus pendidikan saat ini? Dalam menjawab pertanyaan tersebut penelitian ini menggunakan teori sosiologi pengetahuan menjadi pisau analisis serta etnografi sebagai metodologi penelitian. Studi ini memaparkan bahwa para founder ADINSA melakukan cara pendefinisian, penyamaan bahasa, pelekatan makna dan preposisi teoritis untuk mendapatkan legitimasi pengetahuan mekanika kuantum yang disosialisasikan disekolah ADINSA. Proses pendidikan di sekolah ADINSA telah berhasil (outcome) memberikan kontrol dalam pemikiran subyektif dan tindakan para siswa ADINSA melalui pembentukan identitas subyektif. Identitas subyektif siswa ADINSA dapat di kelompokkan ke dalam dua kategori besar yakni identitas subyektif sebagai manusia teknologi insani dan manusia micro cosmos. Identitas subyektif menjadikan para siswa merasa bahwa dirinya telah berubah menjadi pribadi yang memiliki kepekaan rasa dan intuisi, sehingga mampu menangkap hakikat dan merasakan kenikmatan rasa spiritual yang bersifat abstrak. Terjadi pro dan kontra terkait keberadaan ADINSA. Perlawanan frontal ditunjukkan SMAN yang beranggapan bahwa ADINSA ialah sekolah sesat dan klenik. Di lain pihak, ADINSA mendapat dukungan untuk terus mensosialisasikan bahwa seorang anak membutuhkan pendidikan bukan sekedar kebutuhan studi akademis, namun juga pengajaran metafisika. Kondisi keberhasilan ADINSA dalam mengkontruksikan keilmuwan mekanika kuantum menjadikan ancaman bagi ideologi materialis yang telah mapan saat ini, dan merupakan babak baru kemunculan abad spiritual kebijaksanaan atau zaman aquarius di bumi Indonesia, khususnya Kabupaten Tulungagung.
Nowadays, Indonesian cultural society shows the degradation of spirituality and moral depravity. People are beginning more far from inner-peace and spirituality. Success has just measured by the material. Mind, Deep-heart and intuition in the self-development concept is still taboo. Such conditions described that society using material-education type that very far away from the metaphysics and spiritual education. Unfortunately, metaphysics and spiritual education is very rarely interested by academics in their scientific studies (research). It makes the ethnographic study of the metaphysics and spiritual ideology is important to be held. In Tulungagung, East Java, appears a metaphysical school with its quantum mechanics paradigm, the school was named Adiluhung Insan Semesta (ADINSA). From the above problems, researchers have a problema formulation: "How the founder of ADINSA can gain legitimacy? how the outcomes of metaphysic school, ADINSA? and how the response from academia, formal school teachers, cultural and government of Tulungagung about existence of metaphysic school ADINSA in the current school education today? ". To answer the questions, this study using sociological theory of knowledge into a blade analysis and ethnography as a research methodology. The study explained that the founder of ADINSA do ways of defining, equating language, sticking meaning and theoretical propositions to gain legitimacy of quantum mechanics knowledge are socialized in ADINSA. ADINSA education process has been successful (outcomes) in the subjective thought and action on students through the formation of subjective identity. Subjective identity of ADINSA students can be grouped into two categories as human-being technology and human micro cosmos. Subjective identity makes the students feel that they has turned into a person who has the proper sense and intuition, so they can capture the essence and feel pleasure the abstract of spiritual sense. There are pros and cons related to the presence of ADINSA. Frontal resistance shown High School which assume that ADINSA school is misguided and the occult. On the other hand, ADINSA received support to continue demonstrate that a childrens education is not only the academic studies, but also teaching metaphysics. The success of ADINSA in scholarly that describe and build the quantum mechanics method become a threat to the materialist ideology that has been established at this time, and a new round appearance of wisdom or spiritual century era or Aquarius era in Indonesia, especially Tulungagung.
Kata Kunci : Pendidikan, Sekolah Metafisika, Mekanika Kuantum